Perseteruan Datuk Perpatih Nan Sabatang dengan Datuk Ketumangguangan (1)

Perseteruan Datuk Perpatih Nan Sabatang dengan Datuk Ketumangguangan (1)

- in BUDAYA, Headline
1958
0

Oleh : Nurmatias

Batusangkar, Bakaba–Wilayah  Kebudayaan Minangkabau yang terdiri dari daratan dan lautan lebih luas dari kondisi saat ini. Wilayah yang ada sudah bagi-bagi berdasarkan wilayah administrasi yang ada seperti sebagian Provinsi Riau, Jambi, Sumatera Utara dan Bengkulu. Wilayah daratan terdiri dari bukit, gunung yang subur dan daerah rendah (pantai), Luas daerah Minangkabau sekarang ini 41.297.30 km 2 .

Semasa Penjajahan Belanda berstatus sebagai residen Sumatra Westkust. Dalam Tradisi Lisan/ Tambo disebutkan batas-batas Minangkabau “ Sikilang Aie Bangih, Durian ditakuak Rajo, Di ombak yang badauhi dan Sipisak aie hitam.

Minangkabau memang sangat unik untuk dikaji dan diteliti, banyak penelitian dan kajian yang dilakukan oleh para ahli. baik peneliti asing maupun meneliti lokal (Orang Minangkabau maupun luar Minangkabau). Setiap tema dan topik kajiannya melahirkan suatu karya yang maha agung,menarik untuk dibaca dan dianalisa.

Budaya dan sejarah Minangkabau memang mempunyai sisi yang menarik untuk dikaji dan teliti. Budaya matrilinealnya yang sangat mengasyikan untuk ditulis (Beckmann : 2000: XXVI) . Budaya matrilineal yang ada merupakan simbol inspirasi bagi penulis untuk mengkaji Minangkabau.

Paradoks antara matrilineal yang dipandang dari sisi budaya dan patrilineal disisi agama mencerminkan suatu usaha survival masyarakat Minangkabau mengakomodir arus globalisasi masa itu. Kita mengenal Idiom yang sangat popular dan menjadi fasafah hidup masyarakat Minangkabau untuk mengakomodir kedua pendekatan matrilineal dan patrilineal yaitu Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandikan Kitabullah Dalam tradisi lisan Minangkabau.

Dengan terjadinya simbiosis mutualisme antara system matrilineal dan system patrilineal membuat banyak peneliti yang ini mengkaji dan menganalisa kebudayaan Minangkabau. Pendekatan-pendekatan yang mereka lakukan belum tentu melihat akar budaya Minangkabau secara utuh karena adat salingka nagari yang menjadi patron dalam budaya Minangkabau di masing-masing nagari berbeda-beda.

Waktu dan koresponden yang mereka lakukan mungkin belum utuh untuk menjawab semua permasalahan yang ada dalam penelitian mereka. Merujuk pendapat Van Leur bahwa penelitian yang dilakukan peneliti asing baru memakai penglihatan dari geladak kapal disebut juga mata kucing (cat eye) bukan bird eye (mata burung). Kedua pengamatan tersebut mempunyai implikasi yang berbeda dalam melihat dan menafsirkan sesuatu.

Masa prasejarah di Minangkabau cukup lama terjadi sehingga paham dan sistem religi kelihatan dalam masa setelah kebudayaan Hindu-Budha dan Islam masuk. Pada awalnya agama masyarakat Minangkabau pada awalnya percaya pada kekuatan alam. Penganut kepercayaan ini berkeyakinan setiap benda mempunyai kekuatan terutama gunung, pohon besar dan kekuatan alam lainnya.

Kepercayaan animisme dan dinamisme ini percaya kepada roh-roh orang hidup pasti mempunyai kekuatan dan untuk itu perlu diadakan upacara persembahan kurban baik manusia maupun hewan. Persembahan ini berfungsi sebagai alat untuk menenangkan kekuatan alam seperti gunung dan kekuatan alam lainnya.

Memasuki masa sejarah dimulai dengan ditemukannya prasasti-prasasti yang ditemukan di daerah Pariangan, Kuburajo, Saruaso, Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Kubu Sutan, Tanjung Medan, Koto Rao, Pancahan, Gangggo Hilia di Kabupaten Pasaman dan Padang Roco, Rambahan di Kabupaten Damasraya.

Temuan prasasti ini menunjukan adanya proses pengaruh budaya baru yang datang ke Minangkabau. Dengan kedatangan pedagang-pedagang dan masyarakat India serta kontak budaya dengan masyarakat Jawa ke Minangkabau, muncul suatu kebudayaan baru yang mengenal tulisan dan huruf.

Kebudayaan baru ini dikenal dengan kebudayaan Hindu-Budha yang berkembang hanya dikalangan raja saja sehingga pengaruhnya tidak begitu dominan pada masyarakat umumnya di Minangkabau (Schnitger 1939:16-72; Dobbin 1992;139).

Merujuk tradisi lisan yang digambarkan dalam tambo tidak terbukti dengan temuan-temuan prasasti yang ada dengan presepsi masyarakat Minangkabau secara keseluruhan tidak sesuai dengan fakta dan data sejarah.

Dalam Tambo menyebutkan nenek moyang masyarakat Minangkabau berasal dari keturunan Raja Iskandar Zulkarnain dari Macedonia. Dalam sejarah yang ada Raja Iskandar Zulkarnain hanya sampai ekspansi ke India, dan setelah itu tidak dijelaskan sejarahnya kemudian. Dalam tambo menyebutkan Iskandar Zulkarnain mempunyai tiga orang anak dan mereka berlayar ke daratan Cina akibat banjir besar melanda bumi.

Ketiga anak tersebut mempunyai watak yang berbeda dan kemudian bertengkar memperebutkan tahta kebesaran ayahnya. Ketidak cocokan ini mereka berpisah, yang dua tetap melanjutkan ke Cina dan Anatolia dan satu lagi yang dikenal Maharaja diraja mendarat di Gunung Merapi.

Kemudian air sudah susut Maharaja diraja dan pengikutnya turun dari Gunung Merapi dan membuka lahan di Padang Panjang Pariangan sekarang masuk kecamatan Pariangan, Kab Tanah Datar. Semenjak peristiwa tersebut yang sampai dalam tambo dan kemudian diyakini kebenarannya oleh masyarakat sebagai cikal bakal sejarah budaya Minangkabau.

Perkembangan masyarakat yang begitu pesat kemudian muncul dan lahir dua orang keturunan Maharajadiraja , Datuk Katumanggungan dan saudara lain ibu, Datuk Parpatih nan Sabatang menyusun bentuk dan sistem pemerintahan adat Minangkabau. Menurut beberapa versi menyebutkan kedua datuk ini berselisih tentang kedatangan Adityawarman putra mahkota Minangkabau yang dididik di Jawa.

Adityawarman kemudian menikah dengan adik Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang. Dua saudara ini betikai dalam menentukan status Adityawarman. Menurut Katumanggungan menganggap Adityawarman adalah raja Minangkabau dan Datuk perpatih nan Sabatang tidak demikian .

Akibat perselisihan ini dikenal dengan kelarasan Koto Piliang dengan gaya aristorkrasi yang berkiblat ke Datuk Katumanggungan dan kelarasan Bodi Chaniago yang berkiblat ke Datuk Perpatih nan Sabatang dengan gaya demokrasinya (Audrey Kahin; 2005;1-2).

Melihat data sejarah berdasarkan kajian prasasti yang ada, ada tiga prasasti yang punya hubungan dengan peristiwa yang disampaikan tambo tetapi peristiwa tersebut yang ada kontradiktif. Dalam isi prasasti Pararruyung VI digoreskan pada batu andesit warna coklat kekuningan non artificial.

Batu monolith tersebut berbentuk persegi panjang tak beraturan dengan tulisan berada sisi atasnya.
Melihat kondisi tulisan tidak menurut pakem yang ada, dapat interprestasikan jenis tulisannya relatif kasar, kecil dan tidak rapi. Prasasti dengan huruf dan bahasa Jawa Kuno ini hanya terdiri dari 2 (dua) baris tulisan dan jika dibandingkan dengan medianya tidak proporsional.Untuk melihat langsung dalam melihat di Situs Pagaruyung, Gudam, Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar.

Dalam tulisan tersebut menyebutkan Tumanggung Kudawira sebagai salah seorang pembesar kerajaan. Prasasti ini merupakan stempel atau cap pembuatan bagi Tumanggung Kudawira. Siapa Tumanggung ini belum dapat dijelaskan secara detail karena baru satu bukti tentang keberadaan beliau.

Merujuk isi prasasti tersebut bahwa Tumanggung merupakan jabatan pemerintahan yang sering dipergunakan pada masa Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Menurut catatan sejarah ekspedisi Pamalayu yang dicetus oleh Raja Kertanegara dari Singhasari dapat diasumsikan bahwa Kudawira ini merupakan Tumanggung dari kerajaan Singhasari yang ikut ekspedisi tersebut.

Jika analisa ini benar, maka Prasasti Pagarruyung VI ditulis jauh sebelum Adityawarman menjadi raja, karena Adityawarman merupakan anak yang lahir dari Ibu Dara Petak yang dibawa oleh pasukan Singhasari dari Malayu ke Jawa.(Bersambung)

print

Leave a Reply