“Sinergi enam fakultas dengan 39 program studi dan penguatan Mahad Al Jamiah membuat UIN Bukittinggi konsisten menjaga tradisi surau Minangkabau untuk melahirkan ulama yang intelektual dan intelektual yang ulama”
BUKITTINGGI, bakaba.net – Sejarah pendidikan di Sumatera Barat tidak bisa lepas dari dua kata kunci, yakni ulama dan intelektual. Sejak masa pendidikan surau hingga era modern, Minangkabau terus melahirkan keduanya.
Dari surau-surau kecil di Minangkabau lahir para ulama besar yang mengajar Al Quran, fiqih, dan akhlak. Dari madrasah dan perguruan tinggi lahir para intelektual yang memimpin bangsa. Hari ini, kedua warisan itu bertemu di satu titik, yakni UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi.
Transformasi dari STAIN menjadi IAIN, lalu menjadi UIN bukanlah sekadar perubahan nama. Ini adalah transformasi mandat. UIN Bukittinggi tidak lagi hanya mencetak guru agama, tetapi hadir sebagai universitas Islam komprehensif yang memikul tanggung jawab besar untuk mengangkat kualitas pendidikan Sumatera Barat.
Sebelum hadir sebagai universitas, banyak anak-anak dari dataran tinggi Minangkabau harus merantau jauh ke Padang, bahkan ke Pulau Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang bermutu. Biaya yang tinggi menjadi penghalang bagi anak-anak dari keluarga petani di Agam, Pasaman, Lima Puluh Kota, dan wilayah pedalaman lainnya.
Ketimpangan akses pendidikan tinggi tersebut tidak bisa dihindari. Kehadiran UIN Bukittinggi menjadi jawaban atas ketimpangan itu. Kampus ini menjadi oase pendidikan tinggi yang terjangkau, dekat dengan masyarakat, dan tetap mempertahankan mutu akademik setara universitas besar lainnya, dengan akreditasi unggul sebagai bukti mutu dan kualitas.
UIN Bukittinggi melanjutkan tradisi surau dalam transformasi pendidikan universitas yang modern. Melalui Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah atau FUAD dan Fakultas Syariah, kampus ini mencetak ahli Al Quran dan hadis, ahli hukum Islam, serta dai dan mubaligh.
Pembinaan ulama tidak hanya di kelas, tetapi juga di Mahad Al Jamiah. Di sana, mahasiswa dibina tahfiz, tahsin, kajian kitab kuning, kultum, dan khutbah secara intensif.
Melalui Mahad Al Jamiah terlihat perpaduan harmonis antara pendidikan pesantren tradisional dan pendidikan universitas modern. Lulusan Mahad siap menjadi imam, khatib, penyuluh agama, dan pengasuh surau di nagari-nagari Sumatera Barat. Program ini wajib diikuti mahasiswa baru dan menjadi ciri khas yang membedakan UIN Bukittinggi dari kampus lainnya.
UIN Bukittinggi juga menghasilkan intelektual yang mampu bersaing di era digital. Melalui Fakultas Sains dan Teknologi atau FST, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam atau FEBI, dan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan atau FTIK, kampus ini mencetak guru dan pendidik profesional, ekonom dan pebisnis syariah, ilmuwan sains dan teknologi, serta peneliti dan akademisi.
Pada titik inilah terlihat karakteristik utama dari UIN Bukittinggi, yaitu tidak hanya menghasilkan lulusan dengan gelar, tetapi menghasilkan manusia yang berkarakter, ulama yang intelektual, dan intelektual yang beradab dan berakhlak, yang mampu menyelaraskan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan kearifan lokal.
Hal ini tidak lepas dari kekuatan unik UIN Bukittinggi dalam kemampuannya menjembatani Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah atau ABS-SBK dengan ilmu pengetahuan modern. Kampus ini membuktikan bahwa menjadi ilmuwan tidak harus meninggalkan identitas ke-Minangkabau-an dan keislamannya.
Sebaliknya, nilai-nilai surau, falsafah adat, dan syariat menjadi pijakan etika untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Itulah mengapa UIN Bukittinggi membuka berbagai program studi, baik berbasis keislaman maupun umum, yang semuanya diarahkan untuk satu tujuan, yakni membangun masyarakat Sumatera Barat berbasis nilai-nilai Islam dan kearifan lokal.
Peran pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. UIN Bukittinggi aktif menggerakkan pengabdian masyarakat berbasis riset. Dosen dan mahasiswa turun ke nagari untuk mendampingi UMKM halal, membina tahfiz, mengelola wisata halal, hingga menguatkan literasi keuangan syariah untuk masyarakat.
Ini adalah implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kampus tidak menjadi menara gading, tetapi menjadi bagian dari denyut nadi yang terus berkomitmen untuk hadir sebagai bagian dari masyarakat Sumatera Barat.
Untuk mendukung komitmen tersebut, UIN Bukittinggi mengembangkan pendidikan Islam melalui sinergi enam fakultasnya, yakni Fakultas Syariah, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Fakultas Sains dan Teknologi, serta Pascasarjana.
Enam fakultas tersebut memuat 39 program studi dari jenjang S1, S2, dan S3. Enam fakultas ini ibarat enam jari yang mengepal menjadi satu kepalan tangan yang kuat. FTIK mendidik, Syariah menertibkan, FUAD mengakar, FEBI memberdayakan, FST memodernisasi, dan Pascasarjana memimpin. (***)