Tanah Datar, bakaba.net – Kain tenun khas Tanah Datar yang di produksi pengrajin binaan UPTD Sentra Tenun Lintau, kini tidak lagi terbatas sebagai bahan pakaian.
Para pengrajin di Sentra Tenun Lintau mulai mengembangkan kain tenun menjadi berbagai produk kreatif yang menyasar pasar anak muda hingga wisatawan.
Hal itu disampaikan Ketua Dekranasda Tanah Datar Ny. Lise Eka Putra, Sabtu (22/08) di Batusangkar.
Ny. Lise mengatakan inovasi ini dilakukan agar tenun tetap relevan dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Hasilnya, kain tenun kini bisa ditemui dalam berbagai bentuk yang lebih fungsional dan kekinian.
“Selain baju kurung, baju gala, dan sarung, kain tenun kini disulap menjadi tas selempang, tas totebag, dompet, hingga ikat kepala. Produk-produk ini banyak diminati karena tampilannya unik dan bernilai budaya,” ungkap Ny. Lise Eka Putra.
Tidak hanya itu, tenun juga mulai diaplikasikan pada tutup kepala laki-laki Minang seperti destar dan songkok. Perpaduan motif tradisional dengan model modern membuat produk ini banyak dicari saat acara adat.
Ny. Lise berharap pengrajin tenu Lintau tidak berhenti di fashion saja, tetapi mengembangkan ke produk gaya hidup.
“Pengrajin harus menjadikan gaya hidup menjadi peluang usaha bisa dengan memproduksi tempat handphone, pouch laptop, sarung bantal, taplak meja, hingga hiasan dinding dengan motif tenun.
Langkah ini bertujuan agar tenun bisa dipakai dalam keseharian. “Kita ingin tenun tidak hanya dipakai saat acara adat. Tapi juga bisa jadi bagian dari gaya hidup sehari-hari,” kata salah seorang pengrajin di Sentra Tenun Lintau.
Untuk menarik generasi muda, motif dan warna tenun juga dikembangkan. Selain motif tradisional seperti pucuk rebung dan itiak pulang patang, kini muncul motif yang lebih simpel dan warna-warna pastel yang disukai anak muda.
Dengan ragam produk baru ini, diharapkan kain tenun Tanah Datar bisa menjangkau pasar lebih luas. Dari yang awalnya hanya dijual di pasar lokal, kini sudah mulai dipasarkan secara online ke luar daerah, bahkan mancanegara.
Ny. Lise Eka Putra berharap, ke depan tenun tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi kreatif yang mampu menghidupi masyarakat dan mengangkat nama Tanah Datar. (***)