Hati-hati !!! Jejak Digital Selalu Mengikuti, Seperti Bayangan

Hati-hati !!! Jejak Digital Selalu Mengikuti, Seperti Bayangan

- in Headline, News, PADANG
0

PADANG, bakaba.net — Digital footprint dapat di bagi dua, yaitu jejak pasif dan aktif. Jejak pasif diambil tanpa kita ketahui saat kita mengunjungi situs belanja online, situs video, dan situs lainnya yang mengumpulkan data.

Sementara jejak aktif adalah jejak yang secara sadar kita bagikan seperti updates status di Twitter, Instagram, dan Facebook, tweet yang retweet, data geolokasi, dan foto atau video yang dibagikan melalui media sosial.

Data-data tadi sadar atau tak sadar, akan membentuk potret diri, bayangan kita. Itulah jejak digital kita. Sebenarnya, kita diawasi oleh berbagai pihak untuk kepentingan komersial maupun non-komersial.

Data pribadi itu akan dimanfaatkan oleh hampir semua penyedia jasa Internet semacam Google, Facebook, YouTube, Twitter, dan perusahaan raksasa teknologi untuk menjaring pengiklan dan mengeruk keuntungan.

Di Amerika Serikat, lebih dari 60 persen manajer urung mempekerjakan orang karena menjumpai hal yang tak patut di akun media sosial pribadinya. Mereka juga menggunakan mesin pencari buat tahu rekam digital pelamar kerja.

Sementara hampir 70 juta pengguna aktif Facebook, Indonesia adalah pasar besar buat pertumbuhan ekonomi digital berikut ancamannya.

Ekonomi digital tanpa perlindungan data pribadi sungguh berbahaya. Karena pilar dari e-commerce adalah kepercayaan. Adapun kepercayaan pilarnya adalah keamanan dan perlindungan data pribadi.
Dunia digital adalah dunia yang menawarkan banyak keuntungan dan peluang, namun di sisi lain dunia digital juga adalah hewan buas yang siap memangsa kalau penggunanya lengah dan berbuat kesalahan.

Hal itu tentu tidak dapat dihindarkan, karena dalam kehidupan sekarang, era digital sesungguhnya adalah ladang dan sekalis etalase bagi semua sektor di masa sekarang karena dunia digital menyediakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan orang banyak.

Meskipun pada kenyataannya saat ini banyak orang yang masih asal sebar berita atau apa saja di internet dan tidak menyadari bahwa jejak digital itu memang kejam dan bisa mengantar ke persoalan hukum.

Hal ini tentu sangat perlu dikaji terutama dalam dunia pendidikan, karena siswa dan tenaga pendidik adalah kelompok yang paling potensial menggunakan dunia digital.

Begitulah yang tergambar dalam Webinar Gerakan Literasi Digital 2021 Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat, Jumat (30/7) pagi.

Kegiatan yang dilaksanakan secara virtual itu menggunakan aplikasi zoom, dan berlangsung dari pukul 09.00-12.00 WIB.

Kegiatan ini diikuti oleh 915 peserta, yang berasal dari pelajar, guru, ASN dan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Kabupaten Dharmasraya tetapi Sumatera Barat, serta dari sejumlah daerah di Indonesia.

Webinar kali ini mengambil tema “Bijak Bermedia Sosial, Jangan Asal Sebar di Internet” dan mendapat sambutan yang menggembirakan dari peserta yang rata-rata pemerhati, dan praktisi pendidikan, pemerhati budaya, serta ASN setempat.

Adapun yang tampil sebagai pembicara adalah: Dr.rer.nat Doni Yusri SP. M.M (Dosen dan Praktisi), Cecep Nurul Alam, S.T, M.T (Kepala Divisi E-Learning Kopertis Jabar), Dr. Ir. Yuhefizar, S.Kom, M.Kom (Dosen Politeknik Negeri Padang), Dr. Syofianti Enggreini, M.Pd (Kepala SMA Negeri 1 Koto Baru).

Moderator dalam iven kali ini adalah Avicenna Inovasanti, selain itu juga ada Key Opinion Leader @faniemaulida (Social Network Marketer, HDI Enterpriser, Pengusaha @ayamtangkapblangbintang, owner @ramestudi20, @fantastical.id)

Kegiatan yang dihelat oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia bekerjasama dengan PT PCI ini mengusung empat tema besar yakni; (1) Budaya Bermedia Digital; (2) Aman Bermedia Digital; (3) Etik Bermedia Digital; dan (4) Cakap Bermedia Digital yang dilaksanakan di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota sampai akhir tahun ini.

Salah seorang peserta Mekah Yallita, menanyakan kepada barasumber Doni Yusri, tentang bagaimana tips dan trik untuk memilah berita atau informasi yang hoaks atau tidak? karena di era digital mengakses sosial media dilakukan dari berbagai kalangan usia dan latar belakang pendidikan, sehingga setiap orang bisa membagikan atau menyebarkan berita dengan mudah.

Peserta, Lutfiah Maulidina, bertanya kepada narasumber Cecep Nurul Alam, tentang bagaimana cara agar tidak lupa dengan sandi yang disimpan tetapi tetap aman dari orang lain, dan bagaimana caranya agar karya aman dan tidak dijiplak oleh orang lain di era digital ini

Peserta lain Nama:Rara Febriyeni, bertanya kepada narasumber Yuhefizar, dalam bermedia sosial instagram, terkadang kita sudah menyaring apa yang ingin kita sharing, tetapi ada beberapa orang yang tidak menyukai apa yang kita sharing tersebut, dan menyalahgunakanya sehingga menimbulkan rasa kebencian dari kedua belah pihak sehingga timbullah hate coment, hingga berakhir ke cyber bullying. apa yang harus dilakukan untuk menghindari hal tersebut?

Sementara itu, peserta atas nama Nesa Arianti, bertanya kepada narasumber: Syofianti Engreini, dengan adanya pandemi sekarang ini pemerintah menghimbau sekolah sekolah untuk melakukan pembelajaran daring dan para orang tua banyak berpendapat bahwa belajar secara daring ini membuat anak semakin bodoh dan apah pendapat ibuk tentang pernyataan orang tua tersebut?

Kegiatan Webinar Literasi Digital untuk Sumatera Barat berikutnya akan akan kembali dihelat oleh Kota Payakumbuh Senin (2/8), 14.00-17.00 WIB.

Setiap peserta yang mendaftar dan mengikuti webinar ini akan mendapatkan fasilitas berupa E- sertifikat dari Kominfo dan Voucher E-Money (***).

 

print

Leave a Reply