Dampak Erupsi Gunung Agung, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Di Tutup

Dampak Erupsi Gunung Agung, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali Di Tutup

- in Headline, NASIONAL, News
607
0

Bali, bakaba – Aktifitas Gunung Agung Bali yang mengeluarkan asap dan abu vulkanik sejak Kamis (28/06) pagi menyebabkan hujan abu di bagian barat hingga barat daya. Berdasarkan data satelit Himawari BMKG terlihat abu vulkanik telah menutupi ruang udara koordinat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali.

Berdasarkan Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Erupsi Gunung Agung terhadap operasi penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Jum’at (29/06) dinihari atau sekitar pukul 00.05 WITA diputuskan Penutupan Bandara (Closed Aerodrome) untuk sementara. Penutupan penerbangan direkomendasikan mulai Jum’at (29/06) pukul 03.00 WITA sampai dengan 19.00 WITA. Untuk selanjutnya di terbitkan NOTAM dan evaluasi akan diadakan kembali 29/6/2018 pukul 12.00 WITA.

Penutupan bandara ini terkait safety yang utama. Beberapa operator telah membuat keputusan cancel flight dgn alasan safety. Pesawat yang cancel pada Kamis ( 28/06).

Untuk pesawat yang cancel, baik untuk keberangkatan dan kedatangan sebanyak 48 flight dengan penumpang 8.334 orang, dimana penerbangan internasional sebanyak 38 flight dengan penumpang 6.611 orang dan penerbangan domestik 10 flight dengan penumpang 1.723 orang. Maskapai penerbangan yang membatalkan penerbangan adalah Air Asia, Jet Star, Qantas, dan Virgin.

Sementara itu hasil pantauan visual di Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG di Rendang, hingga Jumat 29/6/2018 pukul 06.00 WITA, Gunung Agung masih mengeluarkan abu vulkanik dan kawah menyala api berwarna kemerahan dengan intensitas stabil dengan tinggi kolom abu mencapai 2.500 meter. Status masih tetap Siaga (Level 3).

Sampai saat ini belum ada kenaikan status dan belum dapat diperkirakan sampai berapa lama durasinya efusifnya, microtremor masih terdeteksi masih pada alat seismograf PVMBG yang mengindikasikan adanya pergerakan magma ke permukaan.

Secara seismik teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam tempo 12 jam terakhir. Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang dimanifestasikan di permukaan dengan hembusan mengeluarkan emisi gas dan abu vulkanik.

Hujan abu terjadi di beberapa daerah di barat dan barat daya Gunung Agung. Wilayah yang terpapar abu sementara terjadi diwilayah Purage, Pempatan Rendang, Keladian, Besakih, Br. Beluhu, Desa Suter karena dominan angin dan abu mengarah ke barat.

Secara deformasi teramati inflasi sejak 13 Mei lalu hingga saat ini dengan uplift sekitar 5 mm. Hal ini mengindikasikan masih adanya pembangunan tekanan oleh magma di dalam tubuh Gunung Agung. Hingga saat ini, inflasi tubuh Gunung Agung masih belum mengalami penurunan.

Radius berbahaya tetap di dalam radius 4 km dari puncak kawah. Masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Agung melakukan evakuasi mandiri. Sebanyak 309 jiwa masyarakat mengungsi yang berada di 3 titik pengungsi yaitu di Dusun Tegeh Desa Amerta Bhuana, Banjar Dinas Galih Desa Jungutan dan Banjar Desa Untalan Desa Jungutan di Kabupaten Karangasem.

Masyarakat dihimbau tetap tenang. BNPB terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, PVMBG, BMKG, BPBD, Pemda Bali, dan lainnya. (TIA/RONI)

print

Leave a Reply