“Baju Milik” Padang Magek, Mengandung Makna ABS SBK

“Baju Milik” Padang Magek, Mengandung Makna ABS SBK

- in BUDAYA, Headline, WANITA
0

Oleh: Destia Sastra

Minangkabau memiliki beragam budaya dan adat sendiri-sendiri yang dimiliki oleh tiap-tiap nagari, yang biasa disebut adat salingka nagari, salah satunya adalah pakaian adat yang khas dan unik.

Pakaian adat tersebut merupakan salah satu warisan yang dimiliki setiap daerah yang ada di Minangkabau.

Seperti kita ketahui Ranah Minang selain terkenal dengan masakannya dikancah nasional, maupun mancanegara, juga dikenal memiliki kebudayaan yang sangat unik.

Kebudayaan di Minangkabau ini tumbuh subur sejak masa silam hingga kini dan bahkan tetap terjaga dengan baik.

Masyarakatnya terkenal sangat kuat dalam mempertahankan adat dan budayanya sendiri, salah satu adat dan budaya yang tetap mereka pertahankan tersebut misalnya dalam hal berpakaian.

Baju adat Minangkabau tersebut juga terkenal memiliki keunikan baik corak maupun bentuknya yang memiliki perbedaan dari satu daerah dan daerah lainnya, seperti sudah disingung diatas, “Adat salingka nagari”.

Bahkan saat ini teridentifikasi 800 jenis pakaian adat perempuan Minangkabau, yang tetap terjaga sebagai kekayaan budayanya

Temuan tentang pakaian adat perempuan di Minangkabau ini bahkan sangat mencengangkan karena jumlahnya yang mencapai ratusan

Tetapi meski begitu pakaian adat itu menjadikan ciri khas dari daerah masing-masing dengan filosofi Adaik Basandi Syara’,Syara’ Basandi Kitabullah.

Tentunya ungkapan itu menegaskan bahwa setiap orang berdarah minang adalah muslim yang taat dan patuh kepada Al-Qur’an dan kepada Allah SWT. Disamping semua itu Minangkabau dikenal dengan keelokan bahasa, pakaian, adat-istiadat dan ditambah dengan bentang alam nun hijau sejauh mata memandang.

Dari 800 jenis pakaian adat Bundokandung itu, bakaba.net akan mengupas tuntas tentang salah satu baju adat yang terdapat di Nagari Padang Magek Kecamatan Rambatan Kabupaten Tanah Datar.

Yetni Darwati Ketua Bundokanduang Padang Magek menjelaskan pada pembaca bakaba.net tentang “Baju Milik” yang diwarisan secara turun menurun sejak “Saisuak”/dulu kala, bahkan setiap rumah memiliki baju milik itu.

Baju Milik ini menarik untuk kita kupas tuntas, pasalnya penutup kepalaTekuluak sapik udang
yang mengunakan mukenah dan sarung yang digunakan perempuan muslim untuk melaksanakan ibadah sholat.

Yetni Darwati menjelaskan bagian-bagian Baju Milik yang dimulai dengan Lambak/kodek.

Lambak atau kodek terdiri dari kain beludru hitam dibuat seperti rok hingga mata kaki, di pinggir bawah kodek dihiasi dengan minsie dan benang emas atau perak, serta disulamkan motif pucuak rabuang.

Pada ujung dari pucuak rabuang ini diberi hiasan, seperti jambul atau bola-bola dan benang woll berwarna kuning, hitam, merah dan hijau. Kodek ini longgar agar si pemakai rnudah bergerak. Kodek ini dilengkapi dengan ikat pinggang dari kain dan ujungnva diberi jambul.

Baju kurung basiba pendek, hingga pinggul dengan lengan baju agak lebar dan panjangnya di bawah siku. Baju berwarna hitam menggunakan kain beludru hitam .

Pada pinggir baju dan leher, pangkal lengan, ujung lengan, dan pada sisi siba diberi minsie dan benang emas atau perak selebar 2-3 cm, dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak dengan motif pucuak rabuang, sementara pada pucuak rabuang diberi hiasan dengan sulaman berupa bintang.

Bentuk baju yang longgar dan pendek memberi kebebasan bergerak bagi pemakainya.

Selanggan atau sandak adalah sehelai kain panjang yang digunakan sebagai selendang / selempang, berbentuk empat persegi panjang dan kain sutera warna merah dan pada kedua ujungnya dihias dengan sulaman benang emas atau perak, atau potongan kain songket dan diberi jumbai dan benang warna-warni. Cara memakainya dengan diselempangkan dari bahu kanan dan dibelitkan ke pinggang.

Sandak ini akan menjadi sajadah saat perempuan-perempuan Minangkabau melaksanakan ibadah sholat, dan berfungsi sebagai kain pendukung anak dan cucu yang menyiratkan tanggung jawab seorang Bundokanduang diranah Minang.

Tikuluak sapik udang terdiri dari kain sarung pelekat atau sarung bugis dengan kombinasi warna merah dan hitam dan sehelai kain telekung putih.

Kedua kain tersebut disatukan dan dibuat untuk tutup kepala. Kain telekung diletakkan di dalam dan kain sarung di bagian luar.

Tekuluak mempunyai bentuk yang unik sebelah kanan berbentuk tanduk dan sebelah kiri berbentuk bunga kecubung yang didominasi warna putih telekung. Tekuluak ini dihiasi dengan warna merah tua atau kilat makau atau benang makau / benang emas. Makna tekuluak, pakaian untuk Salat selalu melekat pada diri perempuan
Baju kuruang

Sementara makna dan filosofi yang terkandung dalam Baju Milik ini:

Tikuluak (penutup kepala)
Tengkuluk ini terdiri dari telekung/mukena dan kain sarung yang melambangkan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah.

Dan tikuluak ini bagonjong sabalah kanan, babungo sabalah kiri dan balakuak di tangah.

  • Bagonjong sabalah kanan artinya gonjong rumah gadang.
  • Bungo sabalah kiri artinya kaum wanita yang cantik, anggun dan mempesona bagaikan bunga.
  • Batakuak di tangah artinya dalam mengambil keputusan harus secara musyawarah dan mufakat.

Tikuluak ini memiliki 3 warna dengan arti masing-masing

  • Putih
    Putiah kapeh buliah di lihat putiah hati bakaadaan yang melambangkan kesucian.
  • Merah
    Bundo kanduang/kaum perempuan harus berani mengungkapkan kebenaran walaupun pahit dan kata bundo itu hanya kato bana untuk membimbing keluarga.
  • Hitam
    Warna atahan tampo yang ndak lakang dek paneh ndak lapuak dek hujan, alam hakekat tampo manahan budi jo siasaik.

Adapun fungsi/kegunaan baju milik ini yaitu :

  • Pesta pernikahan dan iring-iringan dalam mengantarkan anak daro ke rumah marapulai (manampuah).
  • Untuk acara batagak Panghulu (pengangkatan datuk).
  • Penyambutan tamu dalam acara yang diperlukan.

Pakaian adat Bundokandung ini juga dilengkapi dengan beragam aksesoris seperti galang (gelang), dukuah (kalung), serta cincin.

Secara filosofis, dukuah melambangkan bahwa seorang Bundokandung harus selalu mengerjakan segala sesuatu dalam dasar kebenaran

Sekarang kita mengetahui, baju adat melekatkan dirinya dengan simbol-simbol dan nilai-nilai yang hakiki. Persoalan warna, bahan, dan bukanlah peristiwa yang sepele, tapi cenderung kompleks dan rigid. Kekompleksan dan kerigidan itu adalah hasil akumulatif dari perenungan dan pengembaraan makna yang panjang. (***)

 

.

print

Leave a Reply