Tanah Datar, bakaba.net – Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) UIN Mahmud Yunus Batusangkar sekaligus Dosen Sejarah, Dr. Hj. Yanti Mulia Roza, S.S., M.A., mendampingi kunjungan rombongan Akademisi Minangkabau Delegasi Minang Diaspora Network Global dari Negara Malaysia.
Rombongan Minang Diaspora Network Global ini juga didampingi langsung Presiden Minang Diaspora Network Global Prof. Fasli Jalal.
Yanti Mulia Roza mengatakan rombongan tersebut terdiri dari para Dosen USIM, Dosen UKM, praktisi dan pengusaha keturunan Minangkabau. Kedatangan mereka ke Tanah Datar bertujuan untuk menelusuri kampung moyang yang sudah dua generasi tidak pernah dikunjungi.
“Mereka ingin menelusuri kampung moyang mereka yang sudah 2 keturunan tidak pernah pulang kampung. Banyak dari mereka yang berasal dari Negeri 9 dan Perlis,” ujar Yanti, Kamis (10/09).
Kunjungan di Tanah Datar diawali hari pertama dengan silaturahmi ke UIN MY Batusangkar. Di kampus, rombongan diberi pembekalan tentang adat dan budaya Minang oleh pakar budaya UIN MY, Irwan Malin.
Selanjutnya rombongan mengunjungi situs-situs sejarah di Nagari Tuo Pariangan, Batu Batikam di Limokaum, dan Istano Basa Pagaruyung.
Pada hari kedua, rombongan melanjutkan kunjungan ke Batu Basurek Pagaruyung dan Istano Silinduang Bulan. Di Istano Silinduang Bulan, mereka menerima paparan materi dari Prof. Raudhah Taib tentang filosofi Minangkabau, sejarah serta adat dan budaya Minangkabau.
“Untuk mendapatkan pencerahan tentang filosofi Minangkabau, sedikit sejarah, dan adat Minangkabau. Di sini ada Bundo Raudhah yang merupakan salah satu tokoh penting dalam adat Minangkabau,” jelas Yanti.
Agenda juga dilanjutkan ke sentra tenun di Lintau Buo dan diakhiri dengan makan bajamba di rumah gadang Ibu Mufidah Yusuf Kalla.
Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung, Sutan Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah menyambut baik kunjungan Minang Diaspora Malaysia tersebut. Menurutnya, hubungan masyarakat Minangkabau dengan masyarakat di Malaysia, khususnya Negeri Sembilan, memiliki sejarah yang sangat erat.
Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan antara Minangkabau di rantau dengan kampung halaman. Selain bersilaturahmi, para akademisi dan praktisi tersebut juga ingin menggali sejarah, budaya, serta potensi kerjasama dengan lembaga pendidikan di Tanah Datar.
Kehadiran Minang Diaspora Network Global dari Negara Malaysia ini diharapkan dapat membuka ruang kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian sejarah, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. (***).