Salam Terakhir Bersama Pak MM

Salam Terakhir Bersama Pak MM

- in Feature, Headline
0

Oleh : Basrizal Dt. Panghulu Basa (Anggota DPRD Kab.Tanah Datar, 1999-2004, 2004-2009/Ketua KAN Batu Taba )

Kamis, 17 Desember 2020 saya dihubungi oleh Destriyanto Sutan Bandaro Bonsu Wali Nagari Batu Taba lewat telpon genggam : ” Da, bisuak kito barangkek ka Jakarta lewat jalan darat “. Spontan saya langsung mengiyakan : ” Siap pak Wali “.

Pak Wali mengajak saya selaku Ketua KAN Batu Taba ke Jakarta untuk suatu keperluan Nagari. Saya bersemangat ke Jakarta -meski dalam masa pandemi Covid 19 ditambah lagi harus lewat jalan darat yang pasti akan sangat melelahkan.

Hati nurani saya berbisik : ” ke Jakarta sekalian bersilaturrahmi dengan pak Masriadi Martunus dan keluarga di Bintaro “. Sudah lebih setahun saya tak bertatap muka. Meskipun acapkali kami berbincang lewat WA, saling komentar di Facebook dan video call tak cukup mampu membendung rindu yang menggunung. Buat saya, media sosial hanya membagi logika, namun tak bisa memuaskan rasa.

Jumat, 18 Desember 2020 usai sholat Isya, saya, pak Wali Nagari dan lima orang perangkat nagari bertolak menuju Jakarta menggunakan minibus Avanza. Kondisi jalan yang rusak membuat kami tak bisa memacu kencang kendaraan. Baru setelah masuk pintu Tol di Palembang kami merasa lega dan melaju lebih kencang. Tol Palembang- Bakauheni sepanjang 360 kilometer kami nikmati- rasa sudah di pulau Jawa meski masih di Sumatera.

Minggu, 20 Desember 2020, pagi itu sekitar jam 08.00 hujan gerimis , kendaraan kami mulai naik kapal. Sengaja kami pilih kapal Ferry cepat agar lekas tiba di Jakarta. Saat di kapal yang sedang berlayar, saya mulai mengirim pesan lewat WA kepada pak MM : ” Assalamu’alaikum. Semangat pagi pak. Saya sedang diatas kapal menuju Merak. Insya Allah nanti siang tiba di Jakarta. Salam buat ibuk “. Pesan itu terkirim, tapi belum beliau buka. Seperti biasanya jam segitu beliau belum pegang HP.

Menjelang waktu zhuhur kami tiba di hotel tempat kami menginap . Usai check in, kami langsung menuju kamar masing-masing. Sambil merebahkan badan di kasur yang empuk itu saya kembali membuka WA yang masuk selama perjalanan sejak turun kapal hingga tiba kamar. Saya langsung buka balasan pesan pak MM.

“Kapan ke Bintaro ?” tanya beliau. Beliau tahu, setiap kali saya ke Jakarta hampir selalu mampir kerumah kediaman beliau di Bintaro dan menginap. Saya jawab : ” insya Allah besok malam pak, usai urusan nagari bersama pak Wali”. ” Kami tunggu ya ” balas beliau seketika.

Besoknya, Senin, tanggal 21, dari pagi hingga malam hari kami gunakan waktu semaksimal mungkin untuk menuntaskan urusan nagari bersama pak Wali. Malam harinya sesuai rencana saya minta diantar ke Bintaro.

“Pak Wali, tolong antar ambo ka Bintaro. Ambo kamalapeh taragak basuo jo pak MM dan buk Imang. Ambo sekalian nginap. “. Walau sangat lelah karena kurang istirahat, pak Wali dan rombongan dengan senang hati mengantar saya ke Bintaro.

Usai keluar Tol Bintaro kami mampir dulu makan nasi goreng di pinggir jalan. Entah karena lapar, nasi goreng yang dihidangkan kami santap dengan lahap. Selesai makan kami berpisah. Pak Wali dan rombongan menuju Depok, sedangkan saya menuju rumah pak MM dengan menumpang Gojek.

Lewat jam 22.00 wib, saya tiba didepan pintu pagar dan langsung memencet bel. Tak lama muncul perempuan muda membukakan pintu pagar dan dengan sopan dan ramah mempersilahkan saya masuk kedalam rumah. ” Assalamu’alaikum ” : begitu saya menyapa saat menginjakkan kaki dalam rumah sambil melihat pak MM dan ibuk.yang sudah lama menunggu. ” Waalaikumsalam ” jawab pak MM dan ibuk serentak sambil mempersilahkan saya duduk di kursi disamping pak MM biasa duduk.

Seperti biasa, sambil berbincang ringan tentang keadaan masing-masing saat pandemi, buk Maswida istri pak MM yang biasa dipanggil buk Imang mengambilkan air putih hangat dua gelas-satu gelas buat pak MM dan satumya lagi buat saya. Pak MM mohon maaf berbaring dikasur khusus karena ada keluhan ringan dikaki saat diinjakkan..

Beliau, seperti biasa mulai berbincang tentang Kabupaten Tanah Datar kedepan dibawah kepemimpinan baru Eka Putra dan Richi Aprian. Tantangan kedepan makin berat. Mulai dari masalah kemampuan keuangan daerah, SOTK, budaya birokrasi, kemiskinan, pengangguran, harmonisasi penyelenggara pemerintahan.

Sesekali saya dan buk Imang menimpali. Saat beliau bicara, saya melihat dan merasakan betapa peduli dan cintanya pak MM ke Kabupaten yang pernah dipimpinnya ini. Beliau bersemangat sekali melontarkan pikiran-pikiran cerdasmya untuk kebangkitan dan.kejayaan Luak Nan Tuo.

Saat bicara dengan saya, beliau tak hirau dengan kondisinya sebenar sudah tak muda lagi, mulai menyimpan sakit, bersemangat sekali. Cinta beliau yang teramat besar dan dalam ke negeri leluhurnya membuat beliau seperti tak sakit. Buk Imang tahu betul, kapan harus mengingatkan sang suami tercinta lebih santai dan rilex serta peduli dengan kesehatan.

Terlihat buk Imang menyodorkan obat yang harus diminum dan pak MM mematuhinya, sang istri yang mantan orang kesehatan. Tak terasa, hari telah larut malam. Segera akan berganti hari Senin dengan Selasa. Tiba-tiba ibuk Imang masuk dan keluar kamar mengambilkan beberapa baju kaos sebagai ganti baju tidur.

Sebelum naik menuju kamar lantai dua, saya katakan kepada pak MM dan ibuk : ” Insya Allah, besok malam saya dan rombongan akan kembali ke kampung”. Beliau jawab : ” Yaa, istirahat dulu yang cukup “.

Selasa, 22 Desember 2020, sekitar jam 07.00 saya kembali duduk didepan TV tempat kami berbincang tadi malam. Tak lama kemudian- mbak Puji yang setia mendampingi keluarga pak MM meletakkan secangkir teh hangat dan seporsi roti bakar. Karena sudah merasa seperti dirumah sendiri, tanpa perlu disuruh, saya langsung menikmati sarapan pagi pembuka, roti bakar teh hangat.

Tak berapa lama, pak MM keluar dari kamarnya dan kembali kami duduk bersama dan berbincang. Topiknya lebih kearah keuangan daerah. ” Ada dua persoalan pokok APBD Tanah Datar. Satu, PAD yang rendah. Kedua, belanja yang boros ” tegas beliau membuka “ota” pagi. Kembali kami berdua menguliti APBD Tanah Datar.

Sejujurnya dalam banyak hal, saya memiliki pikiran yang sejalan dengan pak MM. Walau demikian, tak jarang saya dan beliau berdebat, berbagi saling mengisi, saling menguatkan. Mungkin karena saya dan beliau diberi amanah di Pemerintahan diawal reformasi. Saya di DPRD dan ikut memilih beliau bersama pak Masnefi sebagai Bupati dan Wakil.Bupati Tanah Datar periode 2000-2005.

Saat kami berbincang, buk Imang keluar dari kamar menuju ruang makan. Tak berapa lama sudah terhidang nasi goreng spesial dan telor mata sapi lengkap dengan kerupuknya. Kami bertiga makan pagi bersama menikmati nasi goreng. Terasa enak sekali dan saya “tambuah ciek lai “.

Usai makan, kami kembali berbincang. Tak terlihat ada lelah diwajah pak MM. Saya seperti diajarkan tentang hidup yang penuh semangat, penuh cinta – cinta kepada keluarga dan kampung halaman. Kepemimpinan dan tanggungjawab. Kesederhanaan dan kepatutan. Silaturrahim dalam bingkai kekeluargaan. Politik jalan pengabdian dengan keikhlasan tanpa dendam.

Matahari makin meninggi. Saya bersiap mengemasi tas untuk segera pulang menuju Mekarsari Cimanggis sesuai janji dengan pak Wali. Pak MM memanggil buk Imang dan menyuruh memanggil sopir beliau untuk mengantar saya pulang ke tujuan. Saya berbasa basi untuk tak usah diantar. Biar saya naik Grab saja. Tapi pak MM tetap seperti biasanya menyuruh sopirnya mengantarkan saya.

Saya menyalami ibuk Imang, pak MM erat sekali – cukup lama sambil saya menatap matanya. Tak seperti biasanya, terlihat mata pak MM basah dan saya ikut larut…ada kesedihan yang tak terungkap..

Tadi siang menjelang waktu sholat jum’at berdering Hp saya. Dinda Enki Trinanda Kepala Kesbangpol Padang Panjang menyampaikan kabar duka : ” Pak MM lah daulu” katanya lirih.

Bak disambar petir, saya terkejut sambil berucap : “Innalillahiwainnailaihirojiuun. Semoga pak MM husnul khotimah dan diampuni semua salah dan dosanya dan dimasukkan kedalam syurgaNya. “. Aamiin Ya rabbal’alamiin. (***)

print

Leave a Reply