Safril Gazali: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja SDM Pariwisata di Minangkabau

Safril Gazali: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja SDM Pariwisata di Minangkabau

- in Headline, News, TANAH DATAR
0

 

Dari ruang promosi doktor, Safril Gazali (Aril) membuktikan pengabdian ASN bisa bersinergi dengan riset akademik untuk membangun daerah.

BATUSANGKAR, bakaba.net – Rabu 5 Agustus 2026 Pukul 09.00 WIB, Gedung Kuliah Terpadu Lantai IV Kampus II UIN Mahmud Yunus Batusangkar ramai. Di mimbar itulah Aril, 41 tahun, mempertahankan disertasinya.

Dengan suara tenang, ia memaparkan “Model Kausal Integratif Etika Kerja Islam dan Budaya Minangkabau ABS-SBK terhadap Kualitas Layanan, Kepuasan Wisatawan dan Revisit Intention serta Implikasinya terhadap Kinerja Sumber Daya Manusia Pariwisata di Minangkabau”.

Tiga jam kemudian, palu sidang diketuk. Aril resmi menyandang gelar Doktor. Ia menjadi doktor ke-9 yang dilahirkan Program S3 Studi Islam UIN Mahmud Yunus Batusangkar tahun 2026.

Bagi Aril, gelar itu bukan garis finish. Itu adalah jembatan antara pengalaman 17 tahun sebagai ASN dan cita-cita besarnya: memajukan pariwisata Minangkabau.

Aril, Putra dari Bapak Gazali Ahmad (Alm) dan Ibu Marlis ini menempuh pendidikan dari SD Negeri 23/V Rantau Rasau hingga S-2 Manajemen di Universitas Bung Hatta.

Karirnya dimulai pada tahun 2006 sebagai Administrasi Keuangan PT Pertani (Persero) Cab.Pem Sumbar. Kemudian pada tahun 2008 menjadi frontliner BRI Kanwil Padang. Setahun jadi frontliner BRI, lalu mengabdi sebagai PNS di Pemkab Tanah Datar sejak 2009.

Selama 8 tahun ia duduk sebagai Verifikator Keuangan pada Kantor Camat Lintau Buo Utara, Kantor Camat Sungai Tarab, hingga Sekretariat Daerah Kabupaten Tanah Datar. Angka, laporan, dan audit jadi makanan sehari-hari.

Titik balik datang 2017. Aril di promosi kan ke Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga sebagai Kasubag Keuangan. Di sinilah ia pertama kali bersentuhan langsung dengan geliat pariwisata Tanah Datar.

“Ternyata pariwisata bukan hanya soal objek wisata. Tapi soal orangnya. Soal bagaimana SDM kita melayani,” kenang Safril.

Pengalaman itu berlanjut saat ia menjadi Kasi Pengaduan dan informasi layanan Dinas PMPTSP Naker, hingga saat ini sebagai Fungsional Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Muda pada Dinas PMPTSP Kab. Tanah Datar.

Di luar jam kantor, ia aktif sebagai Duta Wisata Tanah Datar, anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) dan Alliance of the Indonesian Tour & Travel Agencies (AITTA). Kaki dan matanya terbiasa blusukan ke nagari, melihat langsung bagaimana wisatawan berinteraksi dengan masyarakat.

Ide disertasi Aril lahir dari kegelisahan fenomena pariwisata di Sumatera Barat.

Pada tahun 2016, Provinsi Sumatera Barat meraih tiga penghargaan internasional bergengsi pada ajang World Halal Tourism Award di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penghargaan internasional tersebut meliputi: World’s Best Halal Destination, World’s Best Halal Culinary Destination dan World’s Best Halal Tour Operator.

Namun pada kenyataan di lapangan pariwisata di Sumatera Barat menduduki peringkat nasional yang stagnan dalam 3 tahun terakhir. Bahkan berdasarkan data BPS Sumatera Barat, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) cenderung menurun.

Ia menjelaskan, ada pada dua pilar besar yaitu Etika Kerja Islam dan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah atau ABS-SBK.

“Selama ini kita bicara SDM pariwisata dari sisi teknis. Padahal nilai etika kerja Islam seperti sidq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), itqan (profesional) dan budaya Minangkabau seperti internalisasi ABS-SBK, ramah tamah, sopan santu, penghormatan terhadap tamu selaku urang sumando, musyawarah, raso jo pareso itu modal besar kita. Itu yang membedakan Minangkabau dengan daerah lainnya,” ujarnya.

Risetnya menguji bagaimana integrasi nilai Islam dan budaya Minangkabau bisa meningkatkan kualitas layanan, kepuasan wisatawan, hingga niat berkunjung kembali (revisit intention) dan ujungnya bermuara pada kinerja SDM pariwisata itu sendiri.

Di hadapan dewan penguji yang diketuai Rektor Prof. Delmus Puneri Salim, disertasi itu lolos. Penguji memuji kebaruan (novelty) dan relevansinya bagi pembangunan daerah.

Bagi Direktur Pascasarjana Prof. Marjoni Imamora, Safril adalah contoh lulusan yang diharapkan. “Pascasarjana tidak hanya melahirkan doktor. Tapi melahirkan solusi. Kajian SDM pariwisata ini langsung menjawab kebutuhan daerah,” katanya.

Senada dengan Ketua Prodi S3 Prof. Rahmad Hidayat. Menurutnya, doktor harus menghasilkan novelty level KKNI 9 yang aplikatif. “Tidak berhenti di teori. Harus sampai ke rekomendasi untuk pemerintah dan masyarakat,” tegasnya.

Kini dengan gelar baru di pundaknya, Aril punya PR baru yaitu mengembalikan ilmu tersebut ke lapangan.

“Saya ASN. Saya anak nagari. Tugas saya bukan hanya meneliti, tapi memastikan riset ini dipakai. Agar Sumbar benar-benar jadi destinasi wisata halal kelas dunia,” tutupnya.

Dari memverifikasi angka anggaran, kini Aril memverifikasi nilai-nilai. Dan dari situlah ia percaya, pariwisata Minangkabau akan tumbuh. (***)

Leave a Reply