Tanah Datar, bakaba.net – Riuh suara drum band dan sorak penonton masih terdengar saat barisan pawai HUT ke-81 RI berlalu di jalur protokol Batusangkar, Selasa (18/8/2026).
Di tengah lautan warga yang berdesakan, terik matahari justru menjadi berkah tersendiri bagi ratusan pedagang kaki lima yang memadati sepanjang 3 kilometer rute pawai.
Bagi pelaku usaha mikro, pawai bukan hanya pesta visual dan perayaan sejarah. Momen ini adalah panggung nyata perputaran roda ekonomi.
Pedagang teh es, es lilin, es gabus, hingga air mineral kemasan menjadi incaran utama warga yang kehausan. Stok yang biasanya habis seharian, kali ini ludes hanya saat separuh rombongan parade lewat.
Begitu juga dengan mainan. Balon tiup karakter, bendera plastik genggam, baling-baling bambu, hingga peluit burung tak pernah sepi pembeli. Orang tua yang membawa balita kerap tak tega menolak rengekan anak yang terpikat warna-warni dagangan.
Penjual makanan dan topi kertas berornamen merah-putih pun ikut ketiban rezeki. Penonton yang berdiri berjam-jam rela merogoh kocek demi kenyamanan kecil di tepi jalan.
Yayan (52), pedagang air mineral dan makanan ringan yang sudah 10 tahun berjualan saat pawai mengaku omzetnya melonjak drastis.
“Kalau hari biasa, keliling lapangan dan pasar paling dapat Rp50.000 sampai Rp75.000 dari pagi sampai sore. Tapi kalau pawai begini, belum sampai siang dagangan saya sudah ludes. Omzet bisa naik tiga sampai empat kali lipat,” ujarnya.
Hal sama dirasakan Tuti (43), penjual balon tiup dan mainan. Baginya, Pawai Kemerdekaan adalah “panen raya” tahunan selain hari raya keagamaan.
“Anak-anak zaman sekarang memang sudah main ponsel, tapi kalau melihat balon terbang warna merah putih di tengah keramaian pawai, mereka pasti tetap minta dibelikan. Ada kebanggaan tersendiri juga melihat mainan sederhana kita dipakai anak-anak merayakan kemerdekaan,” tuturnya.
Kehadiran ribuan warga menciptakan ekosistem ekonomi spontan yang saling menguntungkan. Penonton dapat kesegaran dan hiburan murah, sementara ratusan keluarga pedagang pulang dengan kantong terisi.
Ketika barisan peserta pawai membubarkan diri dan kemeriahan surut, senyum pedagang kecil tetap mengembang.
Di balik letih menuntun gerobak dan memikul dagangan sejak subuh, Pawai HUT RI membuktikan arti kemerdekaan juga mencakup kebebasan untuk mengais rezeki dan menggerakkan ekonomi rakyat dari tingkat paling bawah. (***)