MUI Bukittinggi Terbitkan Buku Ulama-ulama Bukittinggi dan Kiprahnya

MUI Bukittinggi Terbitkan Buku Ulama-ulama Bukittinggi dan Kiprahnya

- in Headline, ISLAMIC
0

Judul : Ulama-ulama Bukittinggi dan Kiprahnya
Penulis : Dr. Aidil Alfin, M.Ag, Dr. Silfia Hanani, M.Si, Apria Putra, MA.Hum.
Penerbit : Uwais Inspirasi Indonesia
Tebal Buku : x + 116 halaman

Buku Ulama-ulama Bukittinggi dan Kiprahnya ini diterbitkan pada tanggal 1 Maret 2019. Salah satu alasan buku ini ditulis, guna merekam jejak semangat ulama terdahulu menuntut ilmu agama sebagai umat dan untuk tanah airnya. Buku ini ditulis oleh 3 nama yaitu Dr. Aidil Alfin, M.Ag, Dr. Silfia Hanani, M.Si, Apria Putra, MA.Hum.

Tokoh ulama yang menjadi kajian dalam buku ini ada 4 tokoh ulama yaitu Syaikh M. Jamil Jambek, Syaikh Djalaluddin, Syaikh Janan Thaib Bukittinggi, dan Syaikh Muhammad Siddiq Birugo.

Kita dapat melihat di dalam buku ini, bagaimana perbedaan pengalaman para ulama dalam menuntut ilmu agama atau usaha-usahanya dalam menyiarkan ajaran agama islam.

Setiap tokoh memiliki kiprah yang berbeda. Syaikh M. Jamil Jambek yang disebut sebagai ulama falak. Beliau ahli di bidang falak sebagaimana diakui sendiri ke ahliannya oleh Syaikh Thahir Djalaluddin al-Falaki, seorang terkemuka dalam ilmu Falak. Surau menjadi instrumen beliau dalam menyebarkan ilmu agama.

Berbeda hal nya dengan Syaikh Djalaluddin sebagai seorang ulama Apologetik Thariqat Naqsyabandiyah, menyebarkan ajaran dengan berorganisasi dan menulis agar ajarannya dapat dikenal luas oleh kalangan masyarakat.

Kemudian, Syaikh Janan Thaib beliau berkiprah di tanah suci, beliau mendirikan sekolah di Mekkah yang dinamai sebagai Sekolah Indonesia.

Terakhir, Syaikh Muhammad Siddiq Birugo. Kemauan kerasnya dalam mempelajari ilmu agama dan mendalaminya ini beliau bergabung dengan organisasi Muhammadiyah. Beliau dikenal sebagai sosok penyemangat pergerakan pembaharuan dan pendidikan.

Buku ini memberikan “api semangat” bagi kaum milenial sebagaimana semangat dan gigihnya ulama terdahulu dalam menimba ilmu agama. Selain itu, menulis atau mengahasilkan sebuah karya tulis adalah salah satu dakwah atau penyaluran ilmu pengetahuan yang dapat dikatan abadi walau hayat sudah berakhir namun nama dan ilmu akan selalu hidup. (Kharisma Pratiwi)

print

Leave a Reply