Ermon Revlin : Tanah Datar Masih Bebas Penyakit “Difteri” Mematikan

Ermon Revlin : Tanah Datar Masih Bebas Penyakit “Difteri” Mematikan

- in Headline, Peristiwa
664
0

Batusangkar,Bakaba—Meskipun Penyakit difteri sudah menyerang hampir seluruh wilayah di Indonesia, namun Kabupaten Tanah Datar hingga saat ini masih bebas penyakit yang dapat menyebabkan kematian tersebut. Sebelumnya ada satu kasus yang dicurigai terjangkit kuman itu, tapi berdasarkan hasil laboratorium pasien tersebut bukan terserang kuman difteri.

Hal tersebut di katakan Kepala Dinas Kesehatan Tanah Datar dr. Ermon Revlin MPH menjawab bakaba.net di ruang kerjanya Kamis (14/12).

Ermon Revlin mengatakan difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diptheriae yang menyerang selaput lendir dan tenggorokan.

“Penyakit ini bisa menghalangi jalan pernapasan yang membuat penderita kesulitan bernapas”, ujarnya.

Bakteri menginfeksi orang yang tidak memiliki kekebalan tubuh dan amat berbahaya bagi anak-anak di bawah 15 tahun,” tambahnya.

Penularan bakteri melalui cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi kuman diferi.

Sebenarnya kuman diferi dapat dicegah dengan imunisasi, tapi ada sebagian orang tua yang menolak anaknya untuk di imunisasi.

Hal yang sama juga disampaikan dr. Irwanto kuman diferi yang menyerang saluran pernafasan tersebut dapat di antisipasi dengan imunisasi.

Banyak faktor yang menyebabkan orang terserang kuman diferi salah satunya lingkungan yang tidak bersih sehingga menurunkan daya tahan tubuh.

Cara penularan kuman diferi dapat melalui barang yang telah terkontaminasi oleh bakteri penyebab
difteri, misalnya mainan atau handuk bersentuhan langsung dengan bisul akibat difteri di kulit penderita, kontak langsung dengan hewan yang sudah terinfeksi, minum susu yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi serta menghirup udara saat penderita bersin atau batuk.

Menurut Irwanto bakteri penyebab difteri ini sangat mudah menyebar dan menginfeksi banyak orang. Oleh sebab itu, penderita difteri biasanya diisolasi di ruangan khusus agar korbannya tidak semakin banyak.

Sementata vaksin untuk imunisasi difteri dibagi dalam 3 jenis, yaitu: vaksin DPT-HB-HiB, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda secara bertahap.

Imsasi dasar pada bayi (di bawah usia 1 tahun) sebanyak 3 dosis vaksin DPT-HB-HiB dengan jarak masing-masing 1 bulan.

Imunisasi lanjutan (booster) saat anak usia 18 bulan sebanyak 1 dosis vaksin DPT-HB-HiBImunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 1 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin DTImunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 2 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin TdImunisasi lanjutan (booster) saat anak kelas 5 SD sebanyak 1 dosis vaksin vaksin Td.

“Lima kali vaksinasi ini diharapkan mampu melindungi anak dari difteri seumur hidup”, ujarnya.

Sementara penderita difteri yang sudah sembuh pun disarankan untuk tetap vaksin agar terhindar dari kemungkinan terjangkit penyakit yang sama,” tambah Irwanto.

Keberhasilan pencegah difteri dengan imunisasi adalah sebesar 95%. Jika di suatu daerah banyak orang yang menolak imunisasi, maka terdapat kesenjangan atau kekekebalan tubuh yang mengakibatkan difteri muncul lagi.

Kesenjangan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap difteri yaitu mereka yang tidak mendapat imunisasi maupun yang tidak lengkap imunisasinya.

“Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk difteri,” ujarnya. (TIA)

print

Leave a Reply