Wisata Religi Ke Masjid Raya Rao-Rao

Wisata Religi Ke Masjid Raya Rao-Rao

- in Feature, Headline, PARIWISATA
635
0

Oleh Destia Sastra

Kabupaten Tanah Datar memiliki banyak anugerah peninggalan sejarah yang beragam. Salah satu peninggalan sejarah itu berupa Cagar Budaya yang berbentuk bangunan, dikenal dengan sebutan Masjid Raya Rao-Rao.

Masjid Raya Rao-Rao menjadi salah satu masjid tertua di Indonesia yang masih berdiri kokoh dan digunakan oleh masyarakat Nagari Rao Rao untuk beribadah sampai saat ini.

Setidaknya ada akulturasi 5 budaya yang mempengaruhi arsitektur Masjid Rao Rao. Mulai dari arsitektur tradisional, Eropa, Hindu Budha, Islam dan Cina

Seratus tahun yang lalu, di suatu nagari kecil di pinggang Gunung Marapi. Di jalan lintas Batusangkar-Bukittinggi. Di saat jalan lintas tersebut belum beraspal mulus seperti sekarang.

Nagari di Ranah Minang masih gelap gulita karena belum ada aliran listrik. Saat itulah, tepatnya pada tahun 1908, para tetua (sesepuh) atau di Ranah Minang disebut dengan Tungku Tigo Sajarangan (cerdik pandai, kaum ulama, ninik mamak) orang Rao-Rao, merancang satu masjid yang indah di pandang mata.

Tidak sekadar baik dan bagus menurut ilmu arsitek seperti yang berkembang sekarang. Melainkan juga dijiwai oleh semangat mengamalkan Islam secara kaffah, yang sejalan dengan menerapkan adat Minangkabau yang terkenal: Adat Basandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah (adat bersendi pada Agama, Agama bersendi pada Al-Quran). Apa yang harus dianut dalam adat, harus sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Masjid ini di bangun di Nagari Rao-Rao, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Di bangun di atas tanah wakaf H. Mohammad Thaib Caniago pada tahun 1908 yang diprakarsai oleh Abdurrachman Datuk Majo Indo bersama masyarakat Nagari Rao-Rao. Masjid ini diselesaikan akhir tahun 1918.

Masjid ini memiliki luas 16 meter persegi dengan gaya arsitektur yang unik. Arsitektur masjid ini memadukan corak arsitektur dari tiga bangsa: Eropa (Italia dan Belanda), Melayu (Minangkabau), dan timur Tengah (Persia).

Atap masjid ini berbentuk limas yang terdiri dari empat undakan dengan permukaan cekung, hanya saja di tingkatan atap teratas terdapat ruang berbentuk persegi dengan empat atap bergonjong mengarah ke empat penjuru mata angin, sementara pada bagian menaranya terdapat ruang berbentuk segidelapan beratapkan kubah.

Di dalam ruang salat berdiri empat tiang utama yang terbuat dari beton. Di bagian mihrab masjid yang baru dibuat mimbar permanen pada tahun 1930, dihiasi hiasan berupa pecahan kaca keramik. Mimbar tersebut berukuran 3 × 1,38 meter dengan tinggi 3,1 meter.

Setidaknya ada akulturasi lima budaya yang mempengaruhi arsitektur Masjid Rao Rao.

Gaya arsitektur Islam bisa terlihat dari lengkungan yang menghubungkan tiang-tiang di bagian luar masjid. lengkungan ini merupakan gaya arsitektur Islam yang telah digunakan pada bangunan Islam di kawasan Arab sejak abad ke-8 Masehi.

Gaya arsitektur lokal pada Masjid Rao-Rao bisa dilihat pada bentuk atap masjid yang memiliki gonjong serupa rumah gadang.

Selain itu beberapa pemaknaan terhadap bangunan juga berkaitan erat dengan adat setempat, seperti adanya pemaknaan terhadap keberadaan suku hingga aturan adat.

Pengaruh gaya arsitektur Hindu Budha bisa dilihat dari atap masjid, atap yang bertingkat merupakan merupakan pengaruh dari kebudayaan Hindu Budha.

Selanjutnya, penggunaan bahan berupa beton atau semen, marmer lantai, pintu berukuran besar merupakan pengaruh yang diberikan oleh kebudayaan Eropa.

Kebudayaan Cina terlihat pada penguanaan keramik mimbar. Mimbar masjid hampir keseluruhan permukaannya dilapisi dengan kaca keramik.

Pelapisan tersebut mengunakan kaca keramik yang sudah pecah dan ditempelkan dengan jarak yang cukup rapat. Penggunaan keramik dengan warna-warninya yang mencolok pada mimbar, merupakan pengaruh gaya dari Cina.

Perjalanan waktu, membawa pengaruh pada perubahan arsitektur masjid di Minangkabau.

Arsitektur Masjid Raya Rao-Rao menjadi bukti kekayaan referensi para pendiri dan perancangnya. Sekaligus, selera yang dinamis dan terbuka pada ragam budaya dunia. Meski, tetap tak meninggalkan dasar arsitektur lokal Minangkabau. Sebuah akulturasi yang padu.

Jika Anda sudah menyusun rencana liburan dengan baik, maka akan membuahkan hasil liburan yang baik juga, karena Anda sudah melakukan hal yang benar.

print

Leave a Reply