Tradisi Malamang, Pupuk Semangat Persatuan Warga Sariak Alahan Tigo 

Tradisi Malamang, Pupuk Semangat Persatuan Warga Sariak Alahan Tigo 

- in Feature, Headline
547
0

Oleh Feri Ilham Dani Santiago

Salah satu tradisi lokal yang dimiliki oleh masyarakat minang dalam menyambut sebuah perayaan adalah dengan malamang. Lamang sendiri adalah makanan khas yang terbuat dari bahan baku ketan.

Malamang sekilas tak ada istimewanya, karena hanya berartikan memasak lemang. Lemang sendiri adalah makanan khas dari Sumatera Barat yang terbuat dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bulu bambu.

Bambu tersebut sebelumnya dialasi dengan daun pisang dan kemudian di panggang di atas bara api. Biasanya lemang di sajikan dengan tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasikan.

Namun, bagi masyarakat Desa Taratak Teleng, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, malamang merupakan suatu tradisi. Tradisi ini biasanya dilakukan di saat hari-hari tertentu, seperti hari besar keagamaan atau memperingati hari kematian.

Kegiatan malamang sendiri biasanya dilakukan bergotong royong dengan pembagian tugas pencari bambu sebagai tempat adonan, pencari kayu bakar untuk memanggang, penyiapan pada bahan-bahan untuk membuat lemang, dan lainnya. Biasanya lemang dibuat dalam jumlah banyak dan disajikan untuk kudapan dalam acara Hari-hari besar Islam.

Menurut Elmi Alif (31), Masyarakat asal Desa Taratak Teleng, di kampungnya malamang itu sudah menjadi keharusan yang dilakukan saat menyambut hari besar keagamaan. “Kalau Hari Raya ID tanpa malamang, ada yang kurang,” jelasnya saat di wawancarai bakaba.net, Sabtu (23/5).

Elmi Alif melanjutkan, tradisi malamang sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kebanyakan desa-desa di Nagari Sariak Alahan Tigo.

Terlepas dari kegiatan malamang, lemang yang merupakan kudapan khas Sumatera Barat ini selalu dihidangkan dengan tapai atau ketan hitam/ketan merah yang difermentasikan.

Untuk malamang, tidak bisa dilakukan seorang diri. Malamang membutuhkan beberapa orang untuk membuatnya. Misalnya saja, dalam malamang diperlukan orang untuk mencari bambu sebagai tempat adonan, mencari kayu bakar guna memanggang dan memasukkan adonan lamang kedalam  buluh bambu.

Untuk satu orang saja, tentu malamang merupakan pekerjaan yang sangat berat bahkan tidak mungkin. Oleh karena itu dalam malamang, dibutuhkan beberapa orang yang mampu saling bekerja sama dari awal hingga akhir pembuatan lamang. Dengan adanya saling kerjasama diantara sekelompok orang dalam malamang, maka malamang akan terasa mudah dan menyenangkan.

Disinilah letak kelebihan dalam tradisi malamang. Malamang dapat memupuk rasa kerjasama dan kebersamaan sesama anggota masyarakat di Minangkabau.

Tradisi malamang diperkirakan berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Kegiatan ini berlangsung terus menerus hingga saat ini. Tradisi ini memang telah jarang dilakukan, apalagi di nagari-nagari yang semakin metropolis. Hanya perhatian pemerintah dan tokoh masyarakat yang mampu menghidupkan tradisi ini agar tetap bertahan.

Zulkifli (27), tokoh pemuda setempat juga menyatakan perlu menghadirkan kembali tradisi malamang yang saat ini sudah jarang dilakukan masyarakat

“Selaku generasi muda, kami ingin mewarisi tradisi yang baik ini, sebab dalam tradisi malamang terdapat semangat persatuan, kebersamaan dan kekompakan,” kata Zulkifli, Sabtu (23/05/2020).

Hingga kini, meski zaman telah berubah dan ilmu pengetahuan terus berkembang, lamang tetaplah makanan yang terbuat dari adonan beras ketan dan santan yang dimasukkan dalam tabung bambu, dimana lubang dalam bambu tersebut sebelumnya telah dialasi oleh daun pisang dan kemudian dipanggang diatas api dengan kayu sebagai bahan bakar. (***)

print

Leave a Reply