“Kelok Situjuah” Karya Nyata Prajurit Sejati Bangun Ekonomi Anak Negeri

“Kelok Situjuah” Karya Nyata Prajurit Sejati Bangun Ekonomi Anak Negeri

- in Feature, Headline
720
0

Oleh Destia Sastra

Matahari sudah beranjak sore,  sementara diriku masih menyusuri ruas beraspal mulus menuju Nagari Situjuah Ladang Laweh salah satu nagari di Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Limapuluh Kota.

Nagari berpenduduk 1.500 jiwa ini umumnya berprofesi sebagai petani, profesi mulia yang sudah mereka lakoni secara turun menurun.

Untuk mencapai lahan pertanian, saya mendengar cerita warga Nagari Situjuah Ladang Laweh harus menempuh perjalanan yang tidak bisa disebut mudah.

Warga Situjuah Ladang laweh harus menempuh  jalan setapak, menuruni lembah, memanjat licinnya tebing-tebing perbukitan dan mengarungi rimba dengan beban puluhan kilogram dipundak.

Mereka berjalan dalam sunyi  jauh dari derungan mesin-mesin beroda dan tetapi dari kejauhan terdengar sayup-sayup cuitan burung yang saling sahut-menyahut diatas ranting pepohonan..
Kiauan burung itu seperti simponi yang indah ditengah  keringat bercucuran deras.

Tanpa saya sadari mobil sudah sampai dijalan tanah dan berhenti diruas jalan yang baru dibuka dalam TMMD 106 yang dilaksanakan di wilayah Kodim 0306/50 Kota.

Sore ini saya punya janji dengan Dan. Satgas TMMD 206 Kodim 0306/50 Kota untuk menjajal ruas jalan yang baru dibuka. Mataku melihat ruas yang baru dibuka dan tidak mungkin dilalui mobil.

Dari kejauhan saya mendengar deru motor yang semangkin mendekat, tidak berapa lama suara raung-raung motor berhenti persis di samping saya, ternyata suara raung motor berasal dari motor trabas yang ditunggai Dan. Satgas  Letnan Kolonel Kav. Solikhin, S. Sos, M.M

“Mba, jadi ikut menjajal ruas jalan ini,” kata  Dan. Satgas sambil menghampiri saya sambil tersenyum. Saya jawab dengan anggukan dan segera beralih pada salah satu motor trabas yang sudah disediakan untuk saya.

Meski sudah naik motor trabas, tetapi ruas masih terlalu liar, karena ruas baru pada tahap pembukaan awal tentunya masih terlalu terjal dan terdapat tikungan tajam sehingga membutuhkan keahlian khusus dalam mengendalikan motor agar tidak terpeleset.

Setelah melalui medan berat yang menguji andrenalien sampailah kami pada tingkungan ruas jalan yang sedang dikerjakan. Dan. Satgas lansung memeriksa setiap detail pekerjaan sambil menanyakan kendala-kendala yang ada termasuk perkembangan pengerjaan Kelok Situjuah agar tikungan tidak terlalu tajam

Sementara saya melayangkan pandangan keruas yang baru kami lewati, jantung saya berdegup kencang ternyata ruas itu masih terlalu kasar dengan beberapa tanyakan tajam disertai tikungan. Terbayang betapa sulitnya TNI dalam TMMD 106 ini dalam merintis dan membangun jalan ini.

Petani Bertarung Dengan Kerasnya Alam Dan Binatang Buas

Beruntung lokasi pengerjaan tikungann saya bertemu  Mawardi Datuak Sindaro Paneh Walinagari Situjuah Ladang Laweh.

Mawardi menuturkan ruas jalan ini sudah 10 tahun lamanya  didamba warga setempat.  Sebab ruas ini satu-satu jalan yang digunakan warga Situjuah Ladang Laweh untuk mencapai lahan pertanian mereka.

Sebelum ada ruas Kelok Situjuah warganya membutuhkan waktu antara tiga sampai enam jam untuk mencapai kebun-kebun dan sawah mereka.

“Sebelumnya warga Situjuah Ladang Laweh harus tinggal berhari-hari pada gubuk yang mereka bangun berdekatan dengan  kebun maupun sawah mereka,” kata Mawardi.

Tinggal dalam hutan hanya dengan penerangan seadanya di gubuk yang mereka bangun untuk melepas lelah. Mereka tidak punya pilihan lain, tidur dalam hutan beralaskan tikar dan dari sela-sela dinding gubuk angin malam leluasa menembus kulit. Belum lagi binatang ancaman dari berbagai binatang buas.

Sisi lain, warga Situjuah Ladang Laweh harus mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membawa hasil pertanian mereka dengan mengupah kepada petani lain, sehingga cost yang dikeluarkan menjadi cukup besar. Hal begitu sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Hal yang sama juga dituturkan warga yang biasa disapa Zulfikar. Bagi laki-laki yang sudah berusia senja ini  menelusuri rimba yang masih asri, menapak lembah dan mendaki tebing, hal yang sudah biasa bagi dirinya.

Bahkan sering  petani-petani setempat bertemu dengan binatang liar dan hewan virus mematikan didalam hutan yang sesekali bisa mengancam nyawa mereka. Seperti kera, babi dan ular.

Perjuangan petani untuk bisa hidup di nagari yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari pusat Ibukota Kabupaten Limapuluh Kota itu, belum sampai disana.

Untuk mengangkut hasil tani berupa padi, juga harus dengan tenaga ekstra. Bagi petani yang memiliki uang lebih, mereka bisa mengupah petani lain sebagai buruh angkut untuk membawa padi agar sampai dirumahnya.

Dalam membawa hasil pertaniannya Zulfika minta bantu untuk angkut padi mereka keluar dari hutan dengan jarak yang  lumayan jauh.

Untuk sekali angkut, biasanya para tukang angkut hanya mampu membawa sebanyak 40 kilogram padi dengan upah satu kilogam padi upah angkutnya Rp 300. Bisa dibayangkan berapa biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk transportasi hasil panen.

Peningkatan Ekonomi Warga.

Ruas jalan yang dibangun TNI dalam kegiatan TMMD 106 di Situjuah Ladang Laweh sebut Mawardi berdampak pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan warga setempat.
Pasalnya selain mempersingkat jarak tempuh juga memudahkan warga dalam membawa hasil.pertanian mereka.

“Ruas jalan ini dapat meningkatkan ekonomi warga dan menekan angka produksi,” kata Mawardi.

Objek  Wisata Baru

Ruas jalan “Kelok Situjuah” ini juga membuka objek wisata baru. Pasalnya dilokasi ruas yang baru di buka terdapat satu benda yang diduga situs bersejarah yaitu “Batu Sandaran Rajo”

“Batu Sandaran Rajo dapat menjadi objek wisata baru di Situjuah Ladang Laweh,” kata Mawardi.

Selain itu hamparan sawah ratusan hektar dengan dibingkai gunung Sago merupakan objek wisata yang bisa dikembangkan kedepannya.

Tantangan dalam membuat ruas “Kelok Situjuah”

Untuk membuat ruas Kelok Situjuah ini tidaklah dibilang mudah tetapi berbagai kendala bahkan faktor cuaca yang terbilang sangat ektrim menjadi kendala yang dihadapi oleh Satgas TMMD 106 di Limapuluh Kota.

Medan Berat dan faktor cuaca menjadi tantangan terberat bagi prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) di Kodim 0306/50 Kota.  Tetapi hal tidak menyurutkan semangat mereka  dalam mengerjakan setiap sasaran baik sasaran fisik maupun non fisik yang sudah direncanakan.

“Dalam pelaksanaannya, berbagai tantangan dialami oleh prajurit bersama masyarakat. Salah satunya adalah medan berat, Pembukaan ruas jalan sepanjang 9100  itu menembus hutan dengan kecuraman yang tinggi dan terkadang satgas harus bekerja dalam hujan yang mulai turun di kawasan itu,” ujar Dan. Satgas  Letkol.  Kav.  Solikhin, S. Sos, M. M.

Setiap hari Solikhin selalu mengevaluasi detail kegiatan, melihat perkembangan pengerjaan ruas jalan.

Dan. Satgas Letkol. kav. Solikhin  mengatakan, meski dihadapkan dengan medan yang sulit dan curam disertai cuaca hujan yang sering mengguyur kawasan itu, tidak mempengaruhi mental dan semangat kerja prajurit dilapangan. Karena kegiatan ini harus terselesaikan sesuai dengan alokasi waktu yang ditentukan.

“Ada tantangan tersendiri dalam kegiatan TMMD kali ini, selain medannya yang sulit juga faktor cuaca karena seringnya turun hujan,” ujar Solikhin.

Untuk mengantisipasi tantangan tersebut dilakukan dengan pelaksanaan pra TMMD 106 Kodim 0306/50 Kota selama 2,5 bulan.

Sasaran kegiatan, sasaran fisik berupa buka jalan baru dengan panjang 9000 meter dan lebar 9 meter yang menghubungkan Nagari Situjuah Ladang Laweh dan nagari Situjuah Tungka, Kecamatan Situjuah Limo Nagari.

Dengan rincian, pembuatan plat daker 4 titik, pasangan golong-golong 10 titik, pemasangan batu pada titik rawan longsor, pembuatan Rumah layak Huni 4 unit dan pembuatan mushalla 1 unit.

Pembukaan ruas penghubung Jorong Sialang Tungka dan Nagari Situjuah Ladang Laweh Kecamatan  Situjuah Limo Nagari Kabupaten Limapuluah Kota mempunyai puncak tertinggi pada ketinggian 1.800 Mpdl.

Untuk mencapai puncak tertinggi itu diputuskan membentuk tikungan agar ruas jalan tidak terlalu menanjak. Tikungan itu selain memudahkan pengendara untuk melewati ruas jalan juga menciptakan spot-spot menarik nantinya.

Untuk mencapai puncak Sialang ruas jalan akan dibuat beberapa tikungan agar ruas jalan itu tidak terlalu terjal. Minimal akan ada tujuh tikungan sebelum menuju puncak Sialang.

Selain ada kelok 9 yang terkenal cantik dan menjadi spot berfhoto bagi pengendara, di Limapuluh Kota akan ada Kelok Situjuah.

Nama kelok itu serasa sangat pas karena ruas jalan berada di daerah Situjuah dan akan menjadi ikon Situjuah nantinya.

“Keloknya kita namakan Kelok Situjuah, karena memiliki tujuh tikungan untuk  mencapai puncak Sialang”,ujar Dan Satgas. ***

print

Leave a Reply