Kasus Penyimpangnan Moral Anak Sekolah Masih Ditemukan Di Tanah Datar

Kasus Penyimpangnan Moral Anak Sekolah Masih Ditemukan Di Tanah Datar

- in Headline, News, TANAH DATAR
0
Prof. dr. Fasli Jalal, Sp.Gk, Ph.D

TANAH DATAR, bakaba.net – Tanah Datar membutuhkan pendidikan karakter anak dan usia sekolah. Pasalnya didaerah itu masih ditemukan kasus penyimpangan moral yang dilakukan oleh anak dan remaja usia sekolah di daerah itu.

Hal itu diungkapkan Rektor Universitas YARSI Prof. dr. Fasli Jalal,Ph. D saat memberikan masukan RPJMD Bidang Pendidikan dan Renstra Dinas Pendidikan serta Penyusunan RAPBD Bidang Pendidikan 2022 Tanah Datar Senin (24/04/2021].

Fasli Jalal memberikan masukan untuk RPJMD Tanah Datar yang disampaikan secara virtual meeting lebih fokus dalam bidang pendidikan yang dlihat dari tiga perspektif, yaitu peningkatan akses pendidikan, peningkatan mutu pendidikan dan peningkatan manajemen pendidikan.

Dalam peningkatan mutu pendidikan Fasli Jalal melihat berbagai persoalan seperti yang disebutkan diatas, masih ditemukan kasus penyimpangan moral yang dilakukan oleh anak dan remaja usia sekolah di Tanah Datar.

Permasalahan ini muncul karena Kurangnya kemampuan orang tua dalam rumah tangga dalam mendidik karakter anak yang berlandaskan pada nilaia gama dan budaya, apalagi rata-rata usia sekolah masyarakat sumatera Barat hanya8,99 (tahun2020), disamping itu perhatian lembaga pendidikan formal terhadap pendidikan karakter masih lemah jika dibandingkan dengan pendidikan yang berorientasi pada kognitif dan psikomotor.

“Belum seimbangnya pembinaan kompetensi pedagogi kdan professional dengan kompetensi kepribadian dan sosial guru, padahal keteladanan guru sangat dibutuhkan,” kata Fasli Jalal.

Rektor Universitas YARSI ini juga menyampaikan, pengaruh negatif dari lingkungan sosial yang menyimpang baik dari teman sebaya maupun pengaruh negatif perkembangan IT juga menjadi persoalan kasus penyimpangan moral yang dilakukan oleh anak dan remaja usia sekolah.

Solusi untuk persoalan penyimpangan moral dengan memberikan pendidikan karakter bagi anak usia sekolah diantaranya training Parenting berbasis Islam dan budaya Minangkabau (pranikah, orang tua yang memiliki balita, dan orang tua yang memiliki remaja), penguatan Karakter Guru sebagai teladan di sekolah melalui training khusus secara berkala atau materi yang diintegrasikan dalam setiap pelatihan atau pembinaan guru serta penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kebudayaan Minangkabau serta pelibatan tungku tigo sajarangan dalam penguatan pendidikan karakter.

Masih dalam peningkatan mutu pendidikan, dalam materinya Fasli Jalal menyampaikan persoalan rendahnya kualifikasi pendidik PAUD atau tidak memiliki kualifikasi D4/S1 baik di Jorong maupun dilingkungan perkotaan, sementara guru yang tidak memikili kualifikasi S1 itu tidak bisa melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya serta belum diakuinya pengalaman guru yang belum S1 sebelum mereka melanjutkan pendidikannya.

Persoalan lainnya dalam peningkatan mutu pendidikan sebut Fasli Jalal, kurangnya akses atau minat guru u ntuk mendapatkan pelatihan, masih rendahnya kemampuan dan kemauan guru untuk belajar dan berbagi, jumlah guru yang memiliki kompetensi dan mau berbagi ilmu dengan guru lainnya secara nasional masih sangat rendah dibandingkan kabupaten lainnya.

Masukan untuk RPJMD itu Fasli Jalal juga singgung permasalahan pembelajaran secara daring dimasa pandemi covid 19.

Dalam pembelajaran daring, masih konektivitas dan tingginya tantangan terutama ketersediaan gadget dan sarana lainnya, tidak meratanya jaringaan internet di tingkat nagari, atau masih ada nagari yang blankspot, masih adanya tenaga pendidik yang gaptek, permasalahan anggaran dan persoalan lainnya.

Dalam peningkatan akses pendidikan ternyata jumlah siswa mengulang pada jenjang SD cukup signifikan, tercatat 1.526 siswa yang mengulang dari 38.471 peserta didik atau mencapai 4 %, sedangkan angka putus sekolah tingkat SD 24 siswa, SMP 12 siswa, SMA 3 siswa dan SMK 5 siswa.

Tingginya angka siswa mengulang atau tinggal kelas ini disebabkan oleh berbagai permasalahan, seperti siswa tidak melewati PAUD, siswa SD belum melewati PAUD, guru-guru yang berpengelaman dan kuat kemampuan pedagogiknya belum diprioritaskan untuk mengajar di kelas 1 SD, pembelajaran dikelas 1 SD terlalu cepat memperkenalkan calistung, sehingga siswa menjadi keteteran mengikuti pembelajaran sehingga siswa mengulang kelas.

Tanah Datar sebut Fasli Jalal, tenaga pendidiknya juga banyak yang memasuki masa pensiun, terhitung dari tahun 2021 – 2025  guru yang akan pensiun mencapai 1.080 dengan rincian tahun 2021 sebanyak 158 orang, tahun 2022 sebanyak 234 orang, ditahun 2023 sebanyak 217 orang, 2024 mencapai 218 orang dan ditahun 2025 ada 253 orang guru yang pensiun.

“Tidak seimbangnya  antara supply dan demand guru atau setiap guru yang keluar dari sistem harus daapat lansung digantikan guru baru,” kata Fasli Jalal.

Guru-guru yang diangkat  tahun 80an  telah masuk antrian pensiun, terbatasnya formasi  guru baru untuk menganti yang pensiun, sehingga banyak sekolah yang diisi oleh guru honorer, bahkan ada sekolah negeri yang jumlah PNS kurang dari setenggah jumlah standarnya.

Sementara permasalahan peningkatan manajemen pendidikan, menurunnya capaian standar nasional pendidikan jenjang SD, SMP yang signifikan dari tahun 2019 ke 2020 dan sangat diperlukan kerja keras untuk mencapai standar naasional pendidikan/SNP, baik itu standar isi, proses, sarana dan prasarana masih dibawah SNP. (TIA}

print

Leave a Reply