Ini Pilkada Bung! Bukan Memilih Orang Kampung Semata, Tapi Pemimpin Daerah

Ini Pilkada Bung! Bukan Memilih Orang Kampung Semata, Tapi Pemimpin Daerah

- in Headline, OPINI
667
0

Oleh: Firdaus al-Muqaddas.MH
Ketua Yayasan Sepakat Maju Insan Kamil Batusangkar Sumbar

Suasa Pilkada semakin mencengkram, kompaye terjadi diberbagai daerah baik di desa, di kota sampai kepelosok daerah yang biasa tak perna datang kini hadir disana.

Walaupun kampaye dimasa pandemi ini banyak aturan, aturan KPU dan aturan dari protokoler Kesehatan. Para kandidat selalu mengunakan momen kompaye itu dengan cara dan metode masing-masing dengan baik.

Ahli panggung akan pergi ke masjid surau dan musalah, yang hobi blusukan akan datang keladang, kesawah dan ke pasar demi menemui masa dan pendukung yang akan mencoblos nama meraka dibilik suara.

Para pendukung akan berdebat demi calonya dimedia masa fb, instragram dan lainnya. Apapun dilakukan demi sebuah jabatan yang sementara.

Pemilhan kepala daerah ini identik akan memperjuangkan daerah asal calon kepala daerah, Apakah seperti itukah sesungguhnya. Ego kekampungan itu apa harus dipertahankan untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria.

Islam mengajarkan kita memilih pemimpin itu tentu kepada pribadi calon terlebih dahulu. Kriteria itu seperti jujur, amanah, tabliq (komunikatif), cerdas. Sikap dan sifat ini tentu harus melakad dalam jiwa seorang pemimpin.

Selain kriteria personal, kriteria visi misi, dan program harus menjadi pertimbangan. Visi misi sesuai dengan kondisi masyaarakat dan kebutuhan masyarakat saat ini. Serta mau dibawa kemana daerah tersebut dengan program-program yang pro kepada rakyatnya.

Pemilih yang cerdas akan melihat visi-misi, prorgam para kandidat untuk membangun daerahnya.

Pemilih yang cerdik mereka akan memiliki sejumlah karakter perilaku memilih pemimpin, pertama anti money politik; pemilih menentukan pilihan tidak karena motif imbalan materi atau menerima suap sejumlah uang ataupun material lainnya dari pihak atau paslon tertentu.

Kedua tidak asal pilih, yakni konstituen dalam memilih calon pemimpin daerahnya tidak hanya menggugurkan hak sebagai warga negara yang baik.

Ketiga visi misi dan platform yang diusung partai/koalisi partai dan calon kepala daerah menjadi pertimbangan utama untuk memutuskan pilihan defenitif.

Keempat pemilih harus belajar dari pengalaman empiris perihal banyak pejabat daerah yang tersandung kasus pidana korupsi.

Oleh karena itu pilihlah yang baik diantara terbaik tidak harus memilih orang kampung yang akan menjadi kepala daerah. Yang jelas kita memilih calon pemimpin bukan perwakilan kampung.

Pilkada badusanak itu harus dijaga dan dipelihara dengan baik bukan berati memilih dusanak jadi kepala daerah. Pilihlan calon sesuai dengan kriteria agama, adat, negara dan kebutuhan daerah. (***)

print

Leave a Reply