Ini Cerita Dari Iran Untuk Indonesia

Ini Cerita Dari Iran Untuk Indonesia

- in Feature, Headline
290
0

SALJU, Bagian 1
Oleh DR. Gazali MA
Direktur Pasca Sarjana IAIN Bukittinggi

Walaupun sudah satu tahun lebih berlalu, perjalanan ke Iran yang saya lakukan di awal 2019 sepertinya masih menarik untuk diungkapkan. Ada dua masalah yang “sensi” ditunggu-tunggu oleh orang-orang terkait dengan negeri 1000 Mullah ini, yaitu: syi’ah dan mut’ah.

Akan tetapi pada bagian pertama ini saya tidak akan mengulas ke dua persoalan tersebut, karena akan saya jadikan bagian tersendiri dalam rentetan perjalanan yang hampir dua pekan ini.

Perjalanan ke Iran tidak jauh beda durasinya dibandingkan dengan ke Arab Saudi (bagi yang sudah pernah Haji dan Umrah), yang lebih kurang 9 jam dengan menggunakan pesawat terbang. Akan tetapi karena tidak ada penerbangan “direct” maka durasinya bertambah menjadi 4 jam untuk transit di kota Dubai.

Bagi yang ingin berpetualang intelektual dengan mengunjungi universitas yang ada di Iran dan pusat-pusat kebudayaan, sepertinya harus mempunyai relasi dan hubungan kerjasama yang sudah jelas dan ada jaminan dari institusi yang menjadi perantara kita untuk dapat masuk ke negara tersebut.

Rombongan dari Indonesia yang berjumlah 7 orang: satu orang dari UIN Yogyakarta, satu orang dari UII Yogyakarta, satu orang dari UMY Yogyakarta, dua orang dari ITS Surabaya, satu orang dari Universitas Paramadina Yogyakarta, dan saya sendiri dari IAIN Bukittinggi.

Kami berangkat dari terminal internasional Soekarno-Hatta, pada pukul 11.00 WIB dengan menggunakan pesawat Qatar Air Ways. Sampai di Dubai kami harus menunggu penerbangan lanjutan lebih kurang 3-4 jam untuk melanjutkan ke Iran. Kira-kira jam 4 pagi kami mendarat di Taheran dengan kondisi cuaca yang sangat dingin.

Dalam keadaan seperti ini saya harus pergi ke toilet untuk membuka koper melengkapi pakaian “watermal” penghilang rasa dingin dan menambah dengan beberapa pakaian penghangat lainnya. Setelah melihat info cuaca melalui telfon genggam, ternyata cuaca saat itu -2 derajat celcius.

Dari bandara kami diboyong ke Shahid Baheshti University, di pinggi kota Taheran, kampus ini dilengkapi dengan wisma/ penginapan setaraf hotel bintang 5 yang terdiri dari beberapa kamar dengan berbagai tingkatan kelas, ruang pameran, restoran, ruang seminar dengan kapasitas lebih kurang 500 orang serta fasilitas olah raga seperti gym, lapangan sepak bola, tennis, dan kolam renang in-door.

ebuah kampus yang nyaman terletak di atas perbukitan yang berunduk-unduk dan wisma ini di bukit yang tertinggi, sehingga dapat melihat ke seluruh gedung universitas. Ketika bangun pagi dan melaksanakan sholat subuh, saya memandang ke luar melalui jendela dan melihat banyak tumpukan-tumpukan kapas di atas bukit.

Dihantui rasa penasaran saya bertanya kepada teman sekamar dari UMY Yogyakarta, “itu apa yang putih-putih di atas bukit ya Pak”. Bapak yang sudah bergelar Dr. ini menjawab kemungkinan itu adalah salju, kan sekarang musim dingin.

Karena penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi saya mengajak si-bapak untuk ke luar hotel menemui salju tanpa melengkapi pakaian dengan jas dingin, sarung tangan serta syal. Di hotel kami hanya menggunakan pakaian biasa karena ruangan hotel sudah dilengkapi dengan pemanas yang cukup hangat seperti di daerah tropis.

Rasa takjub, heran dan bercampur dengan keharuan yang sangat mendalam kami berlarian menghampiri salju di tengah tiupan angin yang cukup kencang dalam suhu di bawah 0 derajat celcius. “wow”, salju… ternyata serutan es yang menggunung di atas tanah.

Subhanallah, masyaallah seluruh kalimat tayyibah yang ada dalam perbendaharaan otak keluar dari mulut mengungkapkan ke-Agungan Allah swt. Orang asing yang bertemu dengan makhluk yang tidak pernah sama sekali dijumpainya. Tidak tahan dengan kondisi dingin yang sampai menusuk tulang kami cepat-cepat kembali ke hotel menuju tempat sarapan pagi.

Sarapan pagi kami disuguhi roti bakar yang sangat tipis, sate yang tidak ada lidi-nya (daging bakar), salad, yogurd (dadiah dalam bahasa minang), kari (gulai cincang daging), serta minuman bersoda; sprite, Fanta serta coca cola, tinggal pilih mana yang suka, serta air mineral.

Selama sarapan saya cukup lama termenung membayangkan umat manusia yang hidup dengan empat musim ini dan bangsa saya hidup nyaman di alam tropis.

Hidup dalam empat musim manusia harus memutar otak mereka agar dapat eksis di kala musim dingin. Makanan, energy, transportasi yang dapat melalui salju di jalan yang licin, pakaian yang dapat melindungi diri dari suhu yang dingin tentu menjadi kebutuhan yang wajib tersedia selama musim dingin.

Waktu yang 12 bulan setahun seperti hanya dapat digunakan selama setengah atau sepertiganya, dalam bayangan kita yang hidup di belahan bumi yang tropis. Akan tetapi mereka masih bisa bertahan dan bahkan lebih maju dalam mengadaptasi lingkungan. Ruangan yang selalu hangat dan nyaman, dengan penghangat yang terus menyala, tidak dapat saya bayangkan apabila listrik hidup mati seperti di Negara saya.

Apakah karena sepotong sorga yang menjadi julukan negeri ini, sehingga kita hanya menikmati kemewahan; air yang selalu mengalir, tanpa membeku, cuaca yang senantiasa sejuk tanpa harus memakai baju berlapis-lapis, energy yang bisa diperoleh dimana saja; laut dan darat (minyak bumi), udara (panas matahari) serta sungai dan danau (PLTA), menjadikan kita manja, malas berfikir, mengeksploitasi anugerah Tuhan tanpa memperbaruinya, sungguh ini sangat keterlaluan. (***)

print