Gubernur Maluku Pertama Keturunan Minangkabau

Gubernur Maluku Pertama Keturunan Minangkabau

- in Feature, Headline, NASIONAL, Sejarah
1422
0

Suku Minangkabau memiliki budaya senang merantau, mereka menyebar di seluruh Indonesia hingga ke manca-negara dalam berbagai macam profesi dan keahlian, dengan jumlah populasi yang relatif kecil (2,7% dari penduduk Indonesia), Minangkabau merupakan salah satu suku tersukses dengan banyak pencapaian

Suku Minang tidak hanya sukses sebagai pedagang, tetapi banyak yang menjadi orang-orang berpengaruh didunia, seperti Rajo Bagindo (Philipina), Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (Sultan Johor), Raja Malewar (Negeri Sembilan), Yusof Bin Ishak (Presiden Pertamana Singapore). Bila berbicara pada Tingkat Nasional ada M Hatta, M Yamin,  Sultan Syharil,  Tan Malaka serta beberapa tokoh lainnya.

Tetapi banyak yang tidak tahu, gubernur pertama Maluku juga keturunan Minangkabau. Berikut bakaba.net memuat tulisan Muhammad Padang keturunan Minangkabau yang menjadi gubernur pertamana di Maluku, sumber blog Andiko Sutan Mancayo

Edisi-edisi selanjutnya,  bakaba.net akan menyajikan cerita-cerita menarik dari sebuah pengembaraan anak muda enerjik yang lebih dikenal dengan #mangkutakraunsabalik. Selamat menikmati cerita sejarah ini.

Muhammad Padang anak dari pasangan Ahmad Padang dan Hj. Khadijah Pelupessy lahir di Sirisori Islam, Saparua, Maluku, Hindia Belanda pada tanggal 10 Oktober 1914 (versi Departemen Penegaran RI Tahun 1952) versi lain menyebutkan tahun 1920 dan kemudian di Jakarta, Indonesia.

Muhammad Padang adalah seorang politisi Indonesia pada masa-masa peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Ia merupakan Gubernur Provinsi Maluku yang ketiga, yang disetujui dari tahun 1960 hingga 1965, setelah disetujui sebelumnya, Muhammad Djosan yang dikeluarkan oleh Gubernur dari tahun 1955 hingga 1960.

Pada tahun 1965 Muhammad Padang diganti oleh gubernur berikutnya, GJ Latumahina, yang disetujui sampai tahun 1968.

Adiknya bernama, Usman Padang juga politisi yang pernah disetujui Ketua DPRD Provinsi Maluku selama dua periode (10 tahun) dari tahun 1972–1982 sebelum digantikan oleh RMS Latuconsina.

Ayahnya, Ahmad Padang adalah perantau dari Koto Anau, Kabupaten Solok, Sumatera Barat yang memindahkan Belanda ke Saparua pada zaman penjajahan Belanda.

Mohammad kecil, menamatkan pendidikan dasar pada ‘Saparoeasche School’ di Saparua dan melanjutkan ke sekolah menengah MULO di Kota Ambon. Kemudian ia merantau ke Pulau Jawa.

Pada masa mudanya di Pulau Jawa, Mohammad Padang adalah pejuang kemerdekaan pada fase “Revolusi Fisik”. Sebagai seorang tokoh pejuang muda, ia memulai perantaraan badan perjuangan pemuda untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan.

Mulanya Ia menjadi anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API-Ambon) yang dipimpin oleh H. Tanasale dan JD de Fretes.

Setelah pindah ke Surabaya, ia menjadi anggota organisasi besar “Pemuda Republik Indonesia” (PRI-Ambon) yang dipimpin M. Sapya dan Kolibongso.

Sewaktu hijrah ke Yogyakarta ia bergabung di Organisasi “Pemuda Indonesia Maluku” (PIM). Di Yogyakarta ia berjuang dalam Partai Politik Maluku (Parpim) yang didirikan oleh AJ Patty.

Sebagai anggota Parpim beliau mewakili Maluku juga di KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dan bersama-sama dengan Tuan J. Latuharhary dan Dr. GA Siwabessy dan berjasa menanggulangi masalah dan tantangan orang-orang Maluku untuk tetap berada di dalam wadah Negara terkait RI.

Setelah pemberontakan RMS pada tahun 1950 dapat ditumpas ia bersama Gubernur Mr. J. Latuharhary berjuang membangun Maluku. Sebagai seorang tokoh pejuang anak daerah Maluku, Mohammad Padang memenangkan jabatan prestisius sebagai Gubernur Maluku yang edisi ketiga (1960–1965).

Sebelumnya, beliau bersama AJ Patty ditunjuk sebagai wakil Maluku di Parlemen RIS (Republik Indonesia Serikat). Mohammad Padang juga menjadi salah satu pendiri Universitas Pattimura dan menjadi anggota Presidium Unpatti dari tahun 1962–1971.

Tokoh Maluku dan pejuang kemerdekaan ini meninggal dunia di Jakarta dan ia meninggal sebagai pejuang kemerdekaan dan pengabdi rakyat di daerah Maluku.

Sosok Muhammad Padang, merupakan salah satu dari para pejuang politisi Muslim asal Maluku yang sulit dilacak jejak sejarah dan kiprahnya di dunia politik Indonesia. Kesalahan fatal, yang terjadi peran-peran tokoh pejuang Muslim Maluku jarang diekspose dan juga tidak dituangkan dalam literasi ilmiah.

Selain Muhammad Padang, juga terdapat pejuang asal SSI yang juga dicari jejaknya seperti Adam Pattisahusiwa yang memimpin perjungan Pemuda Merah Putih di tanah Bupolo (Buru).

Apa bedanya Muhammad Padang dengan Mr. J. Latuharhari dan Dr. J. Leimena? Mereka sama-sama pejuang, hanya saja kita kalah mengabadikan sosok, kiprah dan prestasi mereka dalam literatur ilmiah, sehingga peran meraka cepat pudar.

#abadikansejarah #proudgranddaughter #kakakopadin #bangunmaluku

print

Leave a Reply