Nuzul Qur’an dan Lailatul Qadar yang Dirindukan Umat Islam

Nuzul Qur’an dan Lailatul Qadar yang Dirindukan Umat Islam

- in Headline, ISLAMIC
946
0

Oleh : Alinardius Yusuf. MA

Tanpa terasa perputaran waktu sangat cepat hingga puasa memasuki minggu ketiga dan sudah sampai pada malam yang istimewa yang dikenal dengan malam nuzulul qur’an. Namun masih banyak yang belum memahami pengertian nuzulul qur’an yang sesungguhnya.

Karena hal itu juga , kebanyakan orang yang masih menganggap malam itu biasa sama seperti malam –malam yang lainny. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kita akan memahami bersama mengenai pengertian nuzulul qur’an secara harfiah atau bahasa dan secara istilah
Secara Harfiyah atau secara bahasa, Nuzulul Qur’an berasal dari kata Nuzul yang berarti turun dan Qur’an artinya kitab suci Al- Qur’an ( bacaan ).

Jadi, secara bahasa Nuzulul Qu’an berarti turunnya Al-Qur’an ( bacaan ). Secara Istilah, Nuzulul Qur’an berarti Peristiwa penting dalam peristiwa penurunan Al-Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia, hingga diturunkan secara berangsur–angsur kepada Rasulullah SAW sesuai dengan peristiwa–peristiwa dalam jangka waktu kurang lebih 23 tahun. Dapat disimpulkan bahwa Nuzulul Qur’an, yaitu waktu di mana Allah SWT menurunkan wahyunya berupa Kitab Suci Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW.

Pengertian ini yang selama ini kita ketahui.
Bulan Ramadhan adalah bulan dimana Allah swt menurunkan Al- Qur’an kepada Rasulullah SAW yang dijadikan sebagai petunjuk umat manusia mengenai hak dan batil.

Dalam sebuah hadist juga dijelaskan, bahwa di bulan Ramadhan turun juga kitab – kitab nabi lain sebelum Rasulullah SAW. Suhuf atau lembaran–lembaran tersebut diturunkan kepada masing – masing Nabi sekaligus dari Baitul izzah ke langit dunia, yaitu melalui lailatul qadar. Al- Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah ke langit dunia secara langsung, Namun Al- qur’an diturunkan atau diwahyukan kepada Rasulullah saw dengan cara berangsur–angsur atau disebut dengan Mutawatir, sesuai dengan keadaan dan kejadian–kejadiannya.

Para Ulama berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya nuzulul qur’an , hal ini dikarenakan karena tidak ada keterangan yang resmi atau yang mendasari mengenai waktu tepatnya Nuzulul Qur’an. Ada yang meriwayatkan nuzulul qur’an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan , ada pula yang mengatakan tanggal 21 ramadhan, dan ada juga yang mengatakan tanggal 23 dan 24 ramadhan.

Karena begitu mulianya kitab suci Al-Qur’an , maka para umat muslim memperingati malam nuzulul qur’an di peringati mulai tanggal 15 sampai dengan tanggal 24 , dan biasanya ada yang menjalankannya dengan khatam al-qur’an sendiri sendiri atau kelompok ada juga yang memperingatinya dengan bertausiah yang bertemakan nuzulul qur’an .kepercayaan kita selama ini mengenai malam nuzulul qur’an terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, itu tetap di benarkan.

Karena pada tanggal 17 Ramadhan pertama kali Rasulullah mendapat wahyu ayat yang pertama yaitu surah Al- ‘alaq ayat 1- 5 , saat itu Rasulullah berada di gua hira’ .Ayat yang pertama diturunkan merupakan ayat diperintahkan untuk kita membaca, supaya kita tahu petunjuk hidup dan dapat membedakan hak dan batil .Subhanallah . . . .

Apakah diantara kita masih ada yang beranggapan bahwa malam nuzulul qur’an itu biasa ? dengan adanya pembahasan mengenai pengertian nuzulul qur’an secara bahasa dan istilah di atas. Jika orang yang beriman, walaupun membaca pembahasan sesingkat diatas, maka tanpa berfikir panjang bahwa dalam memperingati nuzulul qur’an bukan hanya berdiam diri, namun dengan menjalankan hal–hal yang berbilai ibadah seperti membaca Al- Qur’an syukur – syukur khatam Al-Qur’an, banyak–banyak berdzikir , shalat malam atau amal ibadah yang lainnya.

Malam nuzul qur’an juga identik dengan malam Lailatul qadar, lailatul qadar adalah malam yang paling dirindukan oleh umat Islam. Sebab, satu malam itu nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Kapankah terjadinya lailatul qadar? Tidak seorangpun dapat memastikan tanggalnya. Hadits-hadits yang menerangkan lailatul qadar menyatakan bahwa malam itu terjadi pada malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Bahkan ada ulama yang berpendapat lailatul qadar terjadi pada malam 21 atau malam 27.

Namun, tetap saja tidak dapat dipastikan. Terlebih, jika umat Islam berbeda pendapat mengenai malam ganjil dan malam genap. Yakni ketika awal puasanya berbeda.
Selain tidak ditetapkan tanggal pastinya, lailatul qadar juga seakan menjadi misteri karena tidak terlalu berbeda dengan malam-malam lainnya.

Memang ada riwayat yang menyebutkan tanda-tandanya, tetapi tanda-tanda itu juga tidak terlalu dapat diketahui banyak orang dan tidak dapat dipastikan. Mengapa Allah merahasiakan kapan terjadinya lailatul qadar? Ada beberapa hikmah dirahasiakannya lailatul qadar.

Pertama, Lailatul qadar, tidak dapat dibuktikan secara indrawi bagaimana terjadinya. Allah hanya memfirmankan tentang adanya dan keutamaannya. Adapun turunnya malaikat pada malam itu juga termasuk perkara gaib yang tidak dapat diketahui secara indrawi. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al Qadr : 1-5) Maka mempercayai lailatul qadar dan berupaya mencarinya adalah bukti keimanan. Sebab ia telah beriman kepada firman Allah dan hadits Nabi bahwa ada lailatul qadar yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Kedua, dirahasiakannya tanggal lailatul qadar terjadi membuat umat Islam lebih giat beribadah sebagaimana contoh dan nasehat Rasulullah.“Sungguh aku diperlihatkan lailatul qadar, kemudian aku dilupakan –atau lupa- maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam yang ganjil.” (Muttafaq alaih) Seandainya lailatul qadar dipastikan turun pada tanggal tertentu, mungkin banyak umat Islam yang beribadah penuh pada malam itu, tetapi enggan beribadah seperti di malam-malam lainnya. Sebab ia berpikir telah mendapatkan malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Dengan adanya hadits “malam ganjil”, maka banyak umat Islam yang giat beribadah di malam-malam ganjil. Dan karena seringkali umat Islam berbeda pendapat tentang awal puasa, malam ganjil bagi sebagian umat Islam adalah malam genap bagi sebagian umat Islam lainnya. Dan karena tidak ada yang dapat memastikan mana yang benar dan lailatul qadar turun di malam ganjil yang mana, maka semangat beribadah itu mestinya menjadi merata di 10 hari terakhir Ramadhan.

Ketiga, Karena tanggalnya dirahasiakan dan kepastian apakah malam itu lailatul qadar atau bukan juga dirahasiakan, maka umat Islam lebih selamat dari sifat sombong/takabur. Jika saja tanggal lailatul qadar dipastikan dan sifat malam itu diketahui secara pasti, mungkin sebagian orang yang mendapati lailatul qadar akan menyombongkan diri karena telah beribadah di malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Semoga penjelasan di atas mampu memberi pencerahan kepada kita semua . Semoga kita tetap berada dalam lidungan dan keberkahan Allah swt .AMIN

print

Leave a Reply