Bung Hatta: Aku Rela Di Penjara Asal Bersama Buku

Bung Hatta: Aku Rela Di Penjara Asal Bersama Buku

- in Headline, LIFESTYLE, NASIONAL
770
0
Medan, bakaba – Perpustakaan Negara Republik Indonesia Proklamator Bung Hatta Bukittinggi, melaksanakan kegiatan sosialisasi pemikiran Bung Hatta di Medan pada Kamis 12 April 2018.
Kegiatan ini dilakukan untuk membumikan pemikiran-pemikiran Bung Hatta kepada generasi muda sebagai pelanjut tongkat estafet pembangunan bangsa. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai kalangan mulai dari pustakawan sampai pada mahasiswa dibeberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Medan.
Dr. Silfia Hanan, M,Si yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut menjelaskan, tidakan, pemikiran dan komitmen-komitmen kebangsaan Bung Hatta harus dijelaskan dan disosialisasikan kepada generasi sekarang ini, sebagai salah satu modal bagi generasi untuk mewujudkan masa depan yang berkemajuan dan beradab.
Bung Hatta sudah memberikan berbagai contoh tauladan mulai dari sikap sederhana dan hemat Bung Hatta sampai kepada sikap kecintaannya kepada tanah air ini, sangat perlu disosialisasikan saat sekarang.
Kesederhanaan Bung Hatta, dapat dirujuk untuk mewujudkan generasi yang anti korupsi. Kesederhanaan Bung Hatta itu bisa dilihat diantaranya dari sikapnya yang sangat berhati-hati dalam memergunakan fasilitas negara dengan kepentingan pribadi atau keluarga.
Bung Hatta pernah mengembalikan sisa uang berobatnya kepada negara, pernah menolak menerima amplop tebal berisi uang, pernah pula menolak hadiah mobil mewah. Bung Hatta bahkan pernah menolak permintaan adiknya supaya memberikan ketebelece agar memudahkan pemasangan telepon kerumahnya, pernah pula menolak permintaan keluarga agar menjemput ibunya dengan mobil dinas wakil presiden.
Tidak hanya itu saja, Bung Hatta juga pernah menesehati putri keduanya dalam berkirim surat pribadi jangan pergunakan amplop milik negara, sekalipun itu kecil dan remeh temeh. Pernah pula menegur pembatu pribadinya untuk mengembalikan empat helai kertas milik negara yang digunakan untuk menulis surat urusan keluarga.
Bung Hatta juga terkenal dengan menjalankan kehidupan penuh dengan kesederhanaan, kesederhanaan itu dipertahankannya sampai akhir hayatnya, sehingga tokoh proklmator ini memilih jenazahnya berbaring ditengah-tengah rakyatnya, bukan di makam pahlawan, seperti perintah yang ditulis dalam surat wasiat pada tanggal 10 Februari 1975 atau lima tahun sebelum Bung Hatta wafat, sehingga ketika Bung Hatta wafat 14 Maret 1980 di makamkan di pemakaman umum Tanah Kusir Jakarta, bukan di Taman Makam Pahlawan Kali Bata.
Literasi Bung Hatta juga harus ditauladani dan contoh oleh generasi sekarang ini, Bung Hatta terkenal dengan orang suka membaca sesibuk apapun membaca menjadi kegiatan Bung Hatta, dalam situasi dan kondisi bagaimana pun Bung Hatta tidak bisa dijauhkan dari buku, sekalipun dalam penjara.
Ketika Bung Hatta di asingkan oleh Belanda ke Digul, Banda Naire dan seterusnya satu yang tidak ditinggalkan Bung Hatta adalah buku. Tidak sedikit buku yang dibawanya, berpeti-peti sehingga buku itu menjadi teman abadi Bung Hatta dikala apapun,
“Bung Hatta mengatakan aku rela dipenjara, asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”, ujarnya mengutip ucapan Bung Hatta.
Ketika di dalam penjara itu pula Bung Hatta menulis buku salah satu diantara buku yang ditulis dipenjara itu adalah Alam Pikiran Yunan, kemudian buku ini menjadi mahar ketika Bung Hatta menikah dengan Rahmi Rahim pada tanggal 18 November 1945 di Mega Mendung.
Kecintaan Bung Hatta dan kebutuhan membaca itu sudah dimulai Bung Hatta semenjak remaja. Bahkan ketika Bung Hatta sebelum sekolah sudah terbiasa membaca koran langganan pamannya, sehingga tidak heran sebelum Bung Hatta diterima sekolah dasar dia sudah bisa membaca, itulah kelebihan Bung Hatta.
Pada masa remaja kebutuhan membaca itu sudah terpatri dalam dirinya, apalagi setelah hijrah sekolah ke Jakarta, Bung Hatta mulai membeli buku pelajaran dengan teratur dan membacanya dengan trik-trik tertentu.
Ketika Bung Hatta di Belanda buku dan membaca itu semakin tidak terpisahkan dalam hidupnya, sehingga ketika di pulang ke Indonesia buku dibawanya pulang berpeti-peti, jumlahnya sangat banyak kemudian menjadi koleksi perpustakaan di rumahnya.
Buku-buku yang dimiliki oleh Bung Hatta itu nyaris semuanya berbahasa asing, Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis semua bahasa itu bahasa yang dikuasi oleh putra kelahiran Bukttinggi 12 Agustus 1902 ini. Buku koleksi Bung Hatta ini melebihi dari 10 ribu judul buku dengan tema bermacam-macam, ekonomi, budaya, politik, filsafat, hukum dan seterusnya.
Untuk mendapatkan membeli buku yang berharga itu, adakalanya diperoleh dari honor menulis di koran. Semasa di Belanda Bung Hatta menulis dibeberapa media cetak kemudian honornya dibelikan ke buku-buku yang dibutuhkan, Bung Hatta juga tidak segan-segan berhutang di toko buku untuk mendapatkan buku-buku bacaan terbaru.
Komitmen kecintaan Bung Hatta kepada negara dan bangsa ini tidak diragukan lagi, keluar masuk penjara telah menjadi bahagian dari hidupnya demi memperjuangkan Indonesia meredeka. Baik ketika muda belia di Belanda maupun setelah pulang ke Indonesia, penjara dan pengasingan adalah resiko yang diterimanya karena idealismenya untuk memperjuangkan Indonesia harus merdeka itu.
Bahkan Bung Hatta juga rela melepaskan jabatan wakil presidennya demi tercapainya kestabilan negara yang merdeka. Dengan legowo, meletakan jabatan wakil presiden, tanpa menjelak-jelekan lawan politiknya.
Bung Hatta, juga terkenal sebagai Bapak Koperasi yang merancang ekonomi kerakyatan membagun kesejahteraan rakyat dengan basis kejujuran, kekeluargaan dan gotong royong. Bukan atas dasar individualisme dan kapitalisme. Dimana koperasi ini menjadi model pembangunan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Kepala Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Purwanto, SIP menjelaskan pula pada kesempatan tersebut perpustakaan Proklamator Bukittinggi, merupakan aset bangsa ini yang harus dimanfaatkan seganap bangsa ini pula.
Banyak literature-literatur ke Bung Hatta-an dikoleksi di sini yang harus digali dan dipelajari oleh anak bangsa, sehingga gagasan, ide, pemikiran, tindakan dan prilaku Bung Hatta dapat dirujuk untuk kepentingan bangsa kedepannya.
Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dapat dikunjungi oleh siapa saja, letaknya sangat strategis di kota Bukittinggi daerah kelahiran Bung Hatta.
Di samping adanya koleksi Bung Hatta juga tersedia koleksi buku-buku layaknya sebuah perpustakaan yang dapat diakses oleh semua pengunjung. Oleh sebab itu, jadilanlah perpusatakaan menjadi kebutuhan hidup yang memberikan pencerahan. (SILFI)

print

Leave a Reply