Songket Minangkabau, Sebuah Identitas Yang Harus Tetap Lestari

Songket Minangkabau, Sebuah Identitas Yang Harus Tetap Lestari

- in BUDAYA, Headline, TANAH DATAR
470
0

Batusangkar, bakaba – Songket Minangkabau merupakan produk budaya yang memiliki martabat tinggi dan tidak terbilang masa. Doa-doa leluhur Minang tertoreh pada setiap motifnya yang menjelma menjadi sebuah identitas yang harus tetap di jaga, agar tidak tergerus masa.

Hal tersebut dikatakan Atitje  koordinator intruktur sentra industri tenun menjawab bakaba.net di Batusangkar Selasa (17/04
Lebih lanjut Atitje mengatakan sebagai produk budaya, songket harus tetap dikenakan oleh orang Minang, baik dalam acara adat maupun acara formal serta informal, karena songke merupakan jati diri dan kita harus bangga karena mempunyai indentitas,
Pemakaian songket tanpa batas usia, karena dalam inovasi-inovasi yang dilakukan khususnya dalam proses desain selalu dilakukan revitalisasi songket, sehingga produk yang dihasilkan dapat diterima semua usia dan kalangan.
“Jika sebuah produk budaya, seperti songket terus di pakai oleh masyarakat maka dia tidak akan mati tergerus zaman”, ujarnya.
Dalam upaya inovasi dan revitalisasi songket Minangkabau, Atitje mencoba memperjuangkannya sepanjang 19 tahun melalui penelitian lapangan. Perjalanan panjangnya tidaklah sia-sia, karena telah menghasilkan inovasi dan revitalisasi songket dengan pemakaian bahan baku baru.
Inovasi dan revitalisai dengan bahan baku baru tetap menghasilksn songket yang berkualitas tapi dengan harga yang relatif terjangkau, sehingga songket tidak lagi menjadi barang mewah yang hanya dapat dimiliki oleh kalangan tertentu tetapi bisa menjangkau seluruh kalangan.
“Saya tidak ingin nilai-nilai di balik kain adat punah hanya karena kain itu sendiri berjarak (tidak terjangkau oleh masyarakat itu sendiri”, ujarnya.
Untuk menjaga songket sebagai jati diri orang Minang tersebutlah, atitje ingin berbagi proses kreatif yang dia alami dalam mengintroduksi pemakaian bahan baku baru pada proses produksi tenun songket minang, agar produk budaya tersebut  tidak tergerus masa. (TIA)

print

Leave a Reply