Rabiah Jamil, Anggota MPRS Perempuan Pertama Berasal Dari Tanah Datar

Rabiah Jamil, Anggota MPRS Perempuan Pertama Berasal Dari Tanah Datar

- in Headline, Nan Tacelak, WANITA
1417
0
Oleh
SILFIA HANANI
Minangkabau, kaya dengan sosok pejuang perempuan. Dalam pusaran sejarah kita dapat menghitung-hitung para pejuang berdarah Minang itu, salah satunya adalah Rabiah Djamili, lahir di Jaho Kabuapaten Tanah Datar tahun 1920. Ayahnya ulama terkenal dan memiliki lembaga pendidikan yang sampai saat ini masih eksis di Jaho. Ulama itu adalah Muhammad Djamil Djaho (1875-1945). Didik dilingkungan pendidikan dan relijius.
Rabiah juga mendirikan lembaga madrasah perempuan dan dia sempat memimpinnya dari tahun 1937 sampai 1982. Sampai saat ini, madrasah ini masih menjadi salah satu madrasah perempuan di Jaho yang mengintegrasikan antara pendidikan umum dan agama, serta mempunyai keterampilan dalam membaca kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Alumni dari sekolah ini telah menyebar dimana-mana dan bahkan ada yang melanjutkan pendidikan ke luar seperti dibeberapa negara Timur Tengah.
Rabiah Djamil pernah menetap di Aceh, karena dibawa oleh suaminya Muhammad Abdullah Wali yang memimpin salah satu pondok pesentren ternama di negeri Serambi Mekah itu. Ketika di Aceh Rabiah juga terlibat dalam memajukan pendidikan dan pendidikan perempuan di pesentren itu, sehingga sampai sekarang di Aceh Rabiah masih terkenal dengan sebutan Umi Padang. Jika ada di Aceh yang menyebut Umi Padang, Rabiahlah itu orangnya.
Pada tahun 1940-an, Rabiah kembali ke Jaho dan aktif membenahi madrasah perempuan kembali, disamping aktif berdakwah, berorganisasi dan berpolitik. Keaktifan itu tidak heran menjadikan Rabiah pada 1955-1967 menjadi anggota MPRS ( Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara).  Karir politik sangat cemerlang pada masa itu, mungkin Rabiahlah perempaun Minang yang waktu itu menjadi angora MPRS.
Rabiah menjadi kebanggaan bagi masyarakat Minangkabau ketika itu. Setelah berakhir masa jabatannya menjadi angora MPRS kembali menggeluti dunia pendidikan di Jaho dan berdakwah secara totalitas sampai akhir hayatnya.

print

Leave a Reply