Istano Basa Pagaruyung Jejak Sejarah Minangkabau Tempo Dulu

Istano Basa Pagaruyung Jejak Sejarah Minangkabau Tempo Dulu

- in Feature, Headline, PARIWISATA
525
0

Oleh Destia Sastra

Tanah Datar sebagai pusat kebudayaan Minangkabau banyak meninggalkan jejak budaya masa lalu yang menarik untuk dikunjungi. Destinasi wisata budaya di Luhak Nan Tuo ini memiliki ragam dan tentunya sangat menarik untuk dikunjungi.

Bahkan ada pameo yang beredar belumlah ke Sumatra Barat, sebelum berkunjung ke Tanah Datar. Pasalnya di daerah yang asri itu terdapat icon wisata Sumbar dan menjadi pusat kegiatan-kegiatan di Sumbar.

Istano Basa Pagaruyung merupakan icon pariwisata di Sumatra Barat, bangunan bergonjong 11 itu merupakan reflika istana tempat rajo alam bertahta.

Istana nan megah ini terletak 5 Kilometer dari pusat Batusangkar. Tepatnya di Jl. Sutan Alam Bagagarsyah, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Lokasinya yang sangat strategis, menjadikan wisatawan yang ingin mengunjungi dapat diakses dengan mudah dari mana saja.

Sekitar abad ke-17 Istana Pagaruyung mulai didirikan. Istana ini berbentuk panggung dengan atapnya mirip dengan tanduk kerbau. Orang Minangkabau diundang dengan gonjong . Ada 11 gonjong yang unik dengan atapnya yang dibuat dari ijuk.

Istana ini memiliki tiga lantai dengan 72 tonggak yang digunakan sebagai penyangga utama. Ornamen dengan ukiran berwarna-warni khas motif Minang di buat untuk menghiasi dinding istana. Lebih dari 50 jenis motif yang digunakan dan setiap motifnya memiliki arti khusus dari falsafah budaya Minangkabau.

Lantai pertama memiliki ruangan yang sangat besar, digunakan sebagai tempat utama raja dalam kepemimpinan pemerintahan. Singgasana raja berada pada bagian tengah. Pada lantai ini juga tersedia beberapa kamar yang digunakan oleh putri raja yang telah menikah. Orang Minang menyebut kamar dengan “Bilik” .

Bilik yang ada di lantai pertama ini juga disusun dan disusun untuk di tinggali oleh para putri raja dan pemeliharaan. Bilik ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu pangkal rumah dan ujung rumah. Pangkal Rumah, digunakan oleh putri raja paling tua bersama dengan keluarga. Bilik berikutnya sampai ujung rumah untuk adiknya yang telah menikah dan bekeluarga.

Lantai Kedua Istana Pagaruyung memiliki ruangan yang lebih besar dengan lantai pertama, digunakan oleh putri raja yang belum menikah untuk beraktivitas dan juga menyediakan beberapa kamar (bilik) untuk mereka tinggali.

Lantai tiga juga tersedia di luar ruangan, yang digunakan oleh raja dan permaisurinya untuk melihat kondisi istana di luar karena tempat yang tinggi. Posisi ruangan ini tepat berada di atas istana di bawah atap gonjong bagian tengah.

Hal Menarik Yang Bisa Dilihat Dalam Istana Pagaruyung yaitu Batu Tapakan, Anjuang Perak, Anjuang Rajo Babandiang, Anjuang Paraginan, Singgasana Raja dan Ratu,  Bilik Mahligai.

Istana Pagaruyung juga memiliki beberapa bangunan pendukung yang berada di halaman depan dan belakang istana yaitu Surau, Dapua, Rangkiang Patah Sambilan, Tabuah, Pincuran Tujuah, Tanjuang Mamutuih

Istana Pagaruyung telah menjadi destinasi wisata budaya dan ikon Pariwisata Sumatera Barat yang bisa Anda saksikan saat ini, itu merupakan replika dari bangunan yang sudah dibakar.

Bangunan asli dari Istana Pagaruyung dahulunya berada di bukit, orang Minangkabau bertemu dengan ” bukik ” yang bernama Bukit Batu Patah. Bukit ini terletak di lereng Gunung Bungsu.

print

Leave a Reply