Generasi Muda, Pilkada 2020 Tanah Datar Tentang Isi Kepala Bukan Isi Dompet

Generasi Muda, Pilkada 2020 Tanah Datar Tentang Isi Kepala Bukan Isi Dompet

- in Headline, OPINI
689
0

Oleh Muhammad Fadhil

Belum selesai obrolan ruang publik tentang pemilu serentak April 2019 kemaren, kali ini kita akan dihadapkan dengan kedatangan Pilkada 2020.

Waktu yang kurang lebih 11 bulan lagi, telah memunculkan beberapa nama dari putra putri terbaik Tanah Datar yang bakal berkompetisi di Pilkada mendatang.

Dialog-dialog masyarakat juga perlahan bergeser ke bakal calon, mulai dari menelisik rekam jejak, kemampuan, keunggulan serta kelemahan masing-masingnya.

Begitu juga bakal calon. Menjelang Pilkada kedepan, ia akan membranding dirinya sedemikian rupa untuk menarik simpati masyarakat. Maklum saja, di era partisipasi suara rakyat adalah penentu nasib politisi. Hukum yang berlaku “Dikenal, maka terpilih” Dalam demokrasi, strategi seperti itu sah-sah saja. Silakan membranding diri, asal tetap berorientsi pada ide dan gagasan.

Kenapa ide dan gagasan? Karena, Kompleksitas permasalahan di Tanah Datar menuntut Pemimpin yang menawarkan kebaruan pembagunan di daerahnya, tidak hanya pembangunan fisik, melainkan juga pembangunan nonfisik, seperti pembangunan manusia, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lain-lain.

Membangun fisik sangatlah mudah, asal ada uang maka jadi. Namun membangun nonfisik dibutuhkan keseriusan serta analisa tajam, mendalam dan komprehensif dari seorang Pemimpin. Agar, promblem sosial yang paling fundamental sekalipun dapat terselesaikan.

Hal tersebut hanya mungkin dapat terwujud bila pemimpinnya tidak hanya mengandalkan kaya harta, tetapi juga kaya pengetahuan. Harta bisa membeli manusia, sementara pengetahuan menandakan dia manusia.

Disinilah letak peran generasi muda Tanah Datar, mengembalikan marwah politik pada makna yang sebenarnya. Memastikan kepada masyarakat, jangan lagi melihat calon pemimpin itu dari uang atau asetnya yang berlimpah. Tetapi lihatlah, seluas apa pengetahuan mereka terhadap persoalan daerahnya.

Cerdaskan masyarakat, beritahu kepada mereka, bahwa Pilkada mendatang itu tentang nilai kepala bukan nilai dompet. Hukum sebab akibat berlaku, bila politisi mengedapankan uang demi kekuasan, maka mereka akan melahirkan kebijakan yang menyengsarakan.

Mengapa tulisan ini menitik beratkan pada generasi muda. Karena generasi muda bukan hanya sebagai generasi penerus, tetapi juga generasi pelurus. Generasi yang bertanggung jawab meluruskan kembali makna-makna politik dan demokrasi yang digerus oleh hantu-hantu kekuasaan.

Maka anak muda jangan apatis dengan politik, justru kita harus aktif. Aktif dalam setiap dinamikanya, aktif mengikuti setiap isu-isu yang berkembang. Karena hari ini barometer baik atau buruknya demokrasi bangsa ini kedepan adalah kita, anak muda.

Dengan begitu, alihkan pandangan kita dari euforia-euforia yang tidak menguntungkan, bangun ke

print

Leave a Reply