BAKABA | Bangun Karakter Bangsa

UIN Bukittinggi Cetak Generasi Berprestasi, dari Juara MTQ hingga Robotik Internasional

“Dengan filosofi prestasi adalah akibat, UIN Bukittinggi membangun ekosistem dari Mahad hingga UKM untuk mencetak lulusan yang berguna bagi nagari, bukan sekadar mengejar piala di lemari.”

BUKITTINGGI, bakaba.net – Prestasi bukan tujuan akhir, tetapi bukti bahwa proses mencetak generasi berkualitas itu berhasil. Prinsip tersebut yang dipegang UIN Sjech M Djamil Djambek Bukittinggi.

Di UIN Bukittinggi, prestasi mahasiswa menjadi cermin dari filosofi kampus, yakni berkarakter, intelektual, beretika, dan berakhlak. Banyak kampus mengejar prestasi sebagai tujuan untuk menambah piala di lemari. Namun di UIN Bukittinggi, logikanya dibalik. Prestasi adalah akibat, bukan sebab.

Prestasi adalah buah, bukan akar. Akarnya adalah proses panjang mencetak generasi yang utuh. Jika tujuannya adalah mencetak generasi berkualitas, maka prestasi akan datang dengan sendirinya, bahkan setelah wisuda, dan bahkan ketika tidak ada juri yang menilai.

Di UIN Bukittinggi, mahasiswa tidak dididik untuk menjadi juara. Mereka dididik untuk menjadi berguna. Dan ketika mereka berguna, mereka menjadi juara.

Setiap prestasi mahasiswa UIN Bukittinggi merupakan cermin dari empat pilar filosofi kampus tersebut. Ketika Ibrahim Masykur meraih Juara 1 Kitab Standar pada MTQ Nasional Sumatera Barat, itu bukan karena jenius semalam. Itu karena setiap subuh ia dibina di Mahad Al Jamiah, mulai dari tahsin, tahfiz, hingga kajian kitab kuning. Karakternya dibentuk dulu, prestasinya menyusul.

Ketika Muhammad Fakhri Ramadhan meraih Juara 1 dan 2 Robotik Internasional di Malaysia pada tahun 2025 dengan mengalahkan 5 negara, itu adalah bukti integrasi ilmu. Ia merupakan mahasiswa Informatika di kampus Islam. Ia belajar coding, tetapi juga belajar etika dan AI Ethics Awareness.

Pada Pekan Kreativitas Mahasiswa atau PKM IV PTKIN se-Sumatera 2026, Cantika Atma Triannisa meraih medali emas pada cabang storytelling. Capaian itu menjadi bukti intelektual bahwa ia menguasai bahasa internasional tanpa kehilangan identitas ke-Indonesiaan.

Sementara Windya Revani dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam meraih Juara 2 MC Nasional U FEST 2025 se-Indonesia. Juri tidak hanya menilai suaranya yang merdu, tetapi juga etikanya dalam berkomunikasi, cara menghormati audiens, dan cara memilih kata yang santun.

Etika inilah yang diajarkan terlebih dahulu di UIN Bukittinggi. Seorang komunikator Islam harus jujur, tidak membuat clickbait, dan tidak menyebar hoaks. Prestasi tanpa etika hanya akan melahirkan influencer yang viral tapi merusak. Prestasi dengan etika melahirkan intelektual yang beradab.

Pada PKM IV PTKIN se-Sumatera 2026, UIN Bukittinggi mengirim kontingen 16 cabang dan membawa pulang 2 medali emas pada cabang debat konstitusi dan storytelling. Debat konstitusi menjadi prestasi paling strategis karena mahasiswanya paham hukum, paham negara, dan paham hak warga.

Selain dua emas tersebut, UIN Bukittinggi juga meraih 3 medali perak untuk cabang pop solo, Pildama, dan film pendek, serta 3 perunggu untuk cabang monolog, stand up comedy, dan tari kreasi.

Prestasi tersebut merupakan bukti proses pembinaan yang berhasil, mulai dari pembinaan di kelas dengan kurikulum terintegrasi berbasis Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah, pembinaan di Mahad, pembinaan di Unit Kegiatan Mahasiswa atau UKM, hingga pembinaan di masyarakat.

Rektor UIN Bukittinggi, Prof Silfia Hanani, selalu berpesan agar sivitas akademika terus meng-update diri dan menguasai teknologi dalam beradaptasi dengan kemajuan dunia global. Dukungan segenap sivitas akademika sangat memengaruhi munculnya deretan prestasi dari tahun ke tahun. (***)

Exit mobile version