Tanah Datar, bakaba.net – Kabupaten Tanah Datar dikenal sebagai jantung kebudayaan Minangkabau. Salah satu warisan yang masih hidup dan dijaga hingga kini adalah silek atau silat tradisional. Tak hanya satu, Tanah Datar memiliki beragam aliran silat dengan kekhasan masing-masing nagari.
Hal itu disampaikan H. Rony Mulyadi, S.E., Datuak Bungsu saat mendampingi Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy, menutup Bimtek melestarikan nilai tradisi silek Pangian sebagai bentuk pembinaan terhadap Nagari Creative Hub di Gedung Controller Bu Nagari Pangian, Selasa (14/04).
Terlihat Wabup Ahmad Fadly, S.Psi., dinas instansi terkait ikut mendampingi Wakil Gubernur Vasko Ruseimy.
Anggota DPRD Sumatera Barat Fraksi Gerindra ini menyebutkan, silat bukan sekadar bela diri.
“Bagi orang Minang tempo dulu, silat adalah sekolah karakter sebelum anak muda pai marantau,” ungkap politisi yang pernah menjabat sebagai Ketua DPRD ini.
Ia melanjutkan, tuo silek pada sasaran akan menempa anak-anak minang, tentang adab, kesabaran dan keberanian tidak hanya belajar silat.
Dulu di ranah minang jika anak laki-laki belum khatam silat, belum dianggap cukup bekal untuk pergi merantau. Karena silat membentuk mental, tahu cara menempatkan diri di rantau orang.
Di Tanah Datar sendiri hampir tiap nagari punya aliran silat sendiri. Ada Silek Harimau, Silek Tuo, Silek Lintau, hingga Silek Kumango yang gerakannya khas dan filosofinya dalam. Semuanya lahir dari alam, adat, dan nilai Islam yang melekat kuat di masyarakat Minangkabau.
Seperti diketahui “Roh dari belajar silat itu, lahia menjadi kawan, batin mancari tuhan”. Secara lahiriah silat mengajarkan persaudaraan dan menjaga hubungan sesama manusia. Sementara secara batin, setiap gerakan silat menuntun pada zikir, mengingat kebesaran Allah SWT.
Saat ini sambung Rony Mulyadi Pemkab Tanah Datar terus melestarikan silat lewat kurikulum muatan lokal di sekolah, festival budaya, dan pembinaan sasaran silat di nagari-nagari.
Rony Mulyadi berharap generasi muda tak melupakan warisan ini di tengah gempuran budaya modern.
“Silat itu identitas kita. Kalau hilang, hilang pula satu bagian dari jati diri Minangkabau. Tanah Datar harus tetap jadi pusat kebudayaan, tempat silat hidup dan diajarkan,” tegasnya. (***)
