Tanah Datar, bakaba.net – Setiap foto dalam pameran “Prahara Pulau Emas” bukan sekadar bidikan kamera. Di baliknya tersimpan kisah duka, harapan, perjuangan, dan semangat kemanusiaan saat bencana hidrometeorologi melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025.
Pameran yang digagas Pewarta Foto Indonesia (PFI) Wilayah Sumatra bersama Pemkab Tanah Datar itu resmi dibuka Wakil Bupati Tanah Datar Ahmad Fadly di Istano Basa Pagaruyuang, Batusangkar, Senin (27/7/2026). Tanah Datar menjadi kota pertama penyelenggaraan sebelum berlanjut ke Aceh dan Medan.
Puluhan karya foto jurnalistik dipajang selama 27–30 Juli 2026. Foto-foto itu merekam dampak bencana sekaligus perjuangan masyarakat, relawan, dan petugas yang bahu-membahu membantu korban.
Wabup Ahmad Fadly menyebut pameran ini lebih dari sekadar dokumentasi.
“Foto-foto ini membuat kita melihat secara jelas apa yang terjadi di lokasi bencana. Hal itu menimbulkan empati yang sangat dalam dan menyadarkan kita untuk lebih baik lagi menjaga alam,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi PFI yang memilih Tanah Datar sebagai lokasi pertama di Sumbar. Ia berharap kolaborasi serupa bisa diperluas untuk mempromosikan potensi pariwisata daerah melalui karya fotografi.
Wabup menambahkan, Tanah Datar termasuk wilayah rawan bencana sehingga mitigasi terus diperkuat. Upayanya lewat pelatihan, sosialisasi, dan edukasi kepada masyarakat bersama BPBD, BNPB, dan instansi terkait.
“Kami terus melatih masyarakat agar tanggap terhadap bencana, melakukan sosialisasi, dan memberikan edukasi tentang cara menghadapi bencana sehingga paling tidak jiwa masyarakat dapat terselamatkan,” katanya.
Ketua PFI Padang Arif Pribadi menyebut jadwal pameran dipersingkat hingga 30 Juli karena rangkaian berikutnya digelar di Aceh pada 2 Agustus.
Koordinator PFI Wilayah Sumatra Hendra Syamhari mengatakan pameran ini bagian dari peluncuran buku “Prahara Pulau Emas” hasil kolaborasi PFI, Mata Waktu, dan PLN. Karya berasal dari pewarta foto PFI Aceh, Padang, Medan, Jakarta, PFI Pusat, dan fotografer lain yang mendokumentasikan bencana di Sumatra.
“Foto jurnalistik memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan bencana secara nyata tanpa rekayasa. Melalui gambar, masyarakat dapat melihat apa yang benar-benar terjadi di lapangan,” ujar Hendra.
Ia berharap setiap foto menjadi pengingat bagi generasi mendatang tentang jejak bencana di Pulau Sumatra. Sekaligus mendorong masyarakat lebih peduli lingkungan dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana. (***)
