BAKABA | Bangun Karakter Bangsa

Pengelolaan Manajemen Keuangan pada UMKM Cinta Mart di Lingkungan Asrama Universitas Andalas

Oleh: Magevil Akmal, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Manajemen, Universitas Andalas

PADANG – Di balik hiruk-pikuk aktivitas mahasiswa di Business Center Asrama Universitas Andalas lantai 2, sebuah unit usaha mikro berbentuk minimarket sederhana, Cinta Mart, terus mengepulkan napas usahanya sejak berdiri pada tahun 2016. Berada di lingkungan kampus yang dinamis, Cinta Mart menjadi penopang kebutuhan harian ribuan mahasiswa penghuni asrama. Di balik keberlanjutannya selama delapan tahun lebih, kunci utama ketahanan minimarket mikro ini ternyata terletak pada pengelolaan keuangan harian yang cermat, penetapan margin harga yang terukur, serta pencatatan manual yang disiplin meski dijalankan dalam keterbatasan operasional usaha mikro. Berada di lingkungan akademis yang dinamis dengan karakteristik konsumen yang berstatus mahasiswa, keberlanjutan dan kelancaran operasional agar tetap berjalan. Pengelolaan tersebut mencakup penentuan harga jual, pencatatan transaksi, serta pengawasan pemasukan dan pengeluaran.

Sejak didirikan, Cinta Mart menjadi salah satu tempat bagi penghuni asrama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keberadaan minimarket di lingkungan asrama memudahkan mahasiswa mendapatkan berbagai barang tanpa harus pergi jauh dari tempat tinggal mereka. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Cinta Mart membutuhkan pengelolaan keuangan yang teratur agar kegiatan jual beli dapat berlangsung dengan baik.

Sebagai usaha mikro berbasis kawasan kampus, Cinta Mart menghadapi dinamika operasional yang khas. Usaha ini mempekerjakan tiga orang karyawan part-time yang bekerja secara bergiliran dengan total waktu operasional mencapai 35 jam per minggu per karyawan. Keterlibatan mahasiswa sebagai pekerja paruh waktu ini tidak hanya membantu operasional harian toko, tetapi juga menjadi bagian dari siklus manajemen keuangan toko yang bertumpu pada transparansi arus kas harian dan ketelitian stok barang.

Aspek krusial yang menjadi landasan keberlanjutan Cinta Mart adalah skema penentuan harga jual (pricing strategy) dan pengelolaan margin keuntungan. Pengelola toko mempraktikkan metode penghitungan unit cost yang sistematis. Pemilik usaha, Bu Anisa, menetapkan mekanisme harga secara langsung setiap kali stok barang dari distributor tiba di lokasi.

“Cara mengatur uang dan harga barang di sini cukup baku. Ketika barang datang dalam kemasan pack, misalnya berisi 24 pieces, harga total per pack dari distributor akan dibagi 24 untuk mendapatkan harga pokok per unit. Setelah itu, baru ditambahkan margin keuntungan yang sudah ditentukan pemilik, yaitu berkisar Rp800 hingga Rp1.000 untuk kategori produk makanan,” ungkap Anggi, salah satu karyawan part-time Cinta Mart. Cara tersebut digunakan untuk mengetahui harga setiap produk sebelum dijual kepada pelanggan.

Penetapan margin yang terukur ini dirancang khusus untuk menjaga daya beli mahasiswa penghuni asrama tanpa mengorbankan arus kas operasional toko. Margin sebesar Rp800–Rp1.000 per produk makanan terbukti memadai untuk menutup biaya operasional harian, gaji karyawan paruh waktu, sekaligus mempertahankan tingkat harga yang sangat kompetitif di lingkungan kampus. Pencatatan keuangan di Cinta Mart tersebut masih dilakukan secara manual. Transaksi dicatat setiap hari untuk membantu mengetahui kegiatan keuangan yang berlangsung. Dengan cara tersebut, harga jual dapat ditentukan berdasarkan biaya pembelian barang dan keuntungan yang ingin diperoleh.

Meskipun persaingan usaha ritel semakin mengandalkan sistem digital, Cinta Mart masih mengandalkan sistem pencatatan keuangan manual harian. Setiap transaksi keluar-masuk, pendapatan harian, hingga restok barang dicatat dengan teliti setiap akhir shift operasional. Pencatatan secara rutin diperlukan agar pemasukan dan pengeluaran usaha dapat diperiksa kembali apabila terjadi kendala. Ketika terjadi kendala keuangan atau ketidaksesuaian antara jumlah kas fisik (cash on hand) dan catatan penjualan, karyawan bersama pemilik tidak segan untuk melakukan audit dan rekapitulasi ulang dari awal.

Keterlibatan karyawan juga berhubungan dengan pengelolaan keuangan karena kegiatan penjualan berlangsung melalui aktivitas operasional sehari-hari. Setiap transaksi yang dilakukan perlu dicatat dengan baik agar informasi keuangan dapat diperiksa kembali. Oleh karena itu, ketelitian dalam menjalankan tugas menjadi satu hal yang diperlukan dalam kegiatan minimarket.

Pengelolaan keuangan yang dilakukan Cinta Mart menunjukkan bahwa usaha mikro juga memerlukan pencatatan dan perhitungan yang teratur. Meskipun pencatatannya masih menggunakan cara manual, pencatatan setiap hari dapat membantu pihak usaha memantau transaksi. Selain itu perhitungan harga berdasarkan jumlah barang dalam satu kemasan serta penambahan margin keuntungan menjadi bagian dari proses pengelolaan keuangan.

Kombinasi antara penetapan harga yang bijak, pengawasan ketat terhadap modal kerja, dan kedisiplinan rekapitulasi harian ini mendapat apresiasi langsung dari konsumen utamanya, yaitu para mahasiswa penghuni asrama Universitas Andalas. Keberadaan minimarket ini dirasakan sangat mempermudah akses kebutuhan harian tanpa harus keluar dari area kampus.

Aisyah, salah satu pelanggan setia Cinta Mart, menuturkan bahwa stabilitas harga dan ketersediaan barang di Cinta Mart menjadi alasan utama minimarket ini selalu menjadi pilihan utama mahasiswa. “Sebagai mahasiswa asrama, keberadaan Cinta Mart di lantai 2 Business Center ini sangat membantu. Harganya sangat bersahabat dan relatif stabil dibanding tempat lain. Transaksi sehari-hari juga transparan, jadi kami merasa sangat nyaman berbelanja di sini,” jelas Aisyah.

Pola manajemen keuangan yang diterapkan oleh Bu Anisa pada Cinta Mart menunjukkan potret nyata dinamika UMKM di Indonesia. Usaha mikro kerap kali tidak membutuhkan perangkat lunak akuntansi yang rumit untuk bisa bertahan hidup. Kunci utamanya terletak pada pemisahan yang jelas antara modal belanja dan profit, kontrol terhadap penetapan margin, serta konsistensi dalam melakukan evaluasi keuangan secara rutin.

Model bisnis minimarket skala mikro seperti Cinta Mart di Business Center Asrama Unand membuktikan bahwa efisiensi operasional dan empati terhadap target pasar (mahasiswa) dapat berjalan berdampingan. Dengan mempertahankan sistem pengawasan finansial yang ketat namun fleksibel, Cinta Mart berhasil mempertahankan eksistensinya sejak 2016 dan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem kehidupan mahasiswa di Universitas Andalas.

Dengan menjalankan pencatatan secara rutin dan memperhitungkan harga jual produk, Cinta Mart berupaya mengelola kegiatan keuangannya dalam menjalankan usaha. Pengelolaan keuangan yang teratur dapat membantu usaha mikro dalam memantau transaksi dan mendukung kegiatan operasional sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen keuangan merupakan salah satu aspek penting dalam menjalankan usaha, termasuk minimarket yang berada di lingkungan asrama mahasiswa. (***)

Exit mobile version