BAKABA | Bangun Karakter Bangsa

Makna “Di Seberang Matahari”: Ny. Lise Eka Putra Ajak Jaga Warisan Adat Minangkabau Lewat Ilmu dan Akhlak

Tanah Datar, bakaba.net – Sebuah puisi berjudul “Di Seberang Matahari” karya Prof. Puti Reno Raudah Thaib kembali mengingatkan pentingnya memaknai rumah pusaka. Bukan hanya sebagai bangunan dari kayu dan ukiran, tetapi sebagai tempat amanah dan nilai diwariskan dari generasi ke generasi.

Penghormatan terhadap karya tersebut disampaikan Ketua TP PKK Tanah Datar, Ny. Lise Eka Putra, Kamis (26/08). Ia mendapat kehormatan membacakan puisi karya Bundo Prof. Puti Reno Raudah Thaib, seorang tokoh perempuan Minangkabau yang dikenal luas karena pemikiran, ilmu, dan keteladanannya.

Dalam pernyataannya,  menyampaikan pesan mendalam yang ia tangkap dari setiap bait puisi tersebut.

“Di setiap baitnya, saya menangkap pesan bahwa rumah adalah tempat nilai dipelihara, sumpah dipatri, dan jati diri diwariskan. Rumah pusaka akan tetap kokoh bukan karena usianya, melainkan karena masih ada hati yang setia menjaga maknanya,” ujar  Ny. Lise Eka Putra.

Ia menegaskan, Prof. Puti Reno bukan hanya mewarisi kebesaran adat, tetapi juga menghadirkan pemikiran yang menginspirasi perempuan Minangkabau masa kini.

“Terima kasih, Bundo Prof. Puti Reno Raudah Thaib, atas karya yang mengajak kita kembali memaknai akar, menghormati leluhur, dan menyiapkan warisan terbaik untuk anak cucu,” katanya.

Ny. Lise Eka Putra juga mengutip salah satu pesan inti dari perenungannya terhadap puisi tersebut.

“Rumah yang paling kokoh bukanlah yang paling megah, melainkan rumah yang tetap menjaga amanah,” sampai Ny. Lise Eka Putra.

Menurutnya, nilai-nilai luhur adat Minangkabau harus terus hidup, tidak hanya di rumah gadang, tetapi juga tertanam di dalam hati setiap generasi.

“Semoga kita semua menjadi bagian dari mereka yang menjaga warisan itu, dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Aamiin,” tutup Ny. Lise Eka Putra.

Puisi “Di Seberang Matahari” menjadi mengingatkan kita menjaga warisan budaya tidak cukup dengan melestarikan fisik bangunan. Yang lebih utama adalah menjaga semangat, sumpah, dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. (***)

Exit mobile version