Janji Pramuka Pantik PPK

Janji Pramuka Pantik PPK

- in Headline, KABA PENDIDIKAN
422
0

Oleh : Mittiarni

Kelas disebuah sekolah adalah sorga bagi penghuninya. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Pembuktiannya adalah dengan memperhatikan semua aktivitas yang terjadi didalam kelas berupa ungkapan dan ekspresi dari penghuninya dalam berbagai bentuk bertujuan untuk menyenangkan penghuni lainnya,

Mereka bersikap, berprilaku, dan bertindak selalu menuju kearah yang lebih baik, tidak menyinggung atau melukai hati dan perasaan teman, tidak merusak lingkungan sekitar, apalagi sampai mengganggu ketertiban kelas. artinya adalah bahwa tidak satu orangpun dalam kelas itu yang menginginkan kekecewaan dari seseorang karena sikap, prilaku, dan tindakannya, semuanya ingin bahagia, semuanya ingin membahagiakan, dan semuanya ingin menikmati kebahagiaan.

Itulah kelas, itulah dunia anak sekolah, itulah kebahagiaan, dan itu adalah asset masa depan.

Namun bagaimana jika tanpa disadari, disuatu saat yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, terjadi hal-hal buruk yang membuat penghuninya terkejut, marah, kecewa bahkan sampai ingin keluar dari kelas itu karena sebab yang tidak bisa ditolerir, sangat prinsipil, esensial, dan menyangkut kelangsungan, kenyamanan, sebagai penghuni kelas. Piranti abad modern telah menguasai kehidupan mereka.

Suasana jadi berubah. Kelas tiba-tiba jadi tak bergairah, tak ada senyum ceria, tak ada gelak tawa riuh rendah yang membahana, tak ada lagi percepatan kecerdasan menuju kesiapan tugas dengan nilai tinggi penuh sportifitas, tak ada lagi kegigihan berpacu dalam waktu saat pembelajaran berlangsung, tak terdengar lagi debat, tanya, dan diskusi yang hangat dalam menyelesaikan persoalan materi pelajaran yang belum tuntas, tak ada lagi senandung kegembiraan setelah menerima kertas ulangan dari guru walaupun nilai tinggi, tak ada lagi celetukan menggemaskan dari siswa Berkebutuhan Khusus minta perhatian saat semua penghuni kelas larut dalam tugas yang menguras otak dan memancing konsentrasi tinggi, tidak ada lagi, tidak ada lagi !.

Yang ada hanyalah para penghuni kelas yang berdiam sendiri-sendiri dimeja belajarnya, dipojokan kelas, dibawah atap taman kelas yang tidak bisa dikategorikan sejuk, di dinding ruangan yang catnya mulai memudar, bahkan di pojokan lemari guru yang agak terlindung dari orang banyak yang lalu-lalang keluar masuk kelas, tanpa sapaan manis penuh keakraban, tanpa lirikan mata persahabatan yang damai, tanpa senggolan kasih yang menandakan kecintaan pada sesama.

Jika ada makanan tak ada lagi yang berkeinginan untuk menawarkan kepada yang lain sehingga mereka memakan makanan mereka sendiri-sendiri, tak terlihat lagi penghuni kelas itu saling bertukar makanan, saling mencicipi bawaan bekal dari ibu mereka, tak ada lagi pemandangan diantara mereka yang berlarian di sepanjang lorong bangku dalam kelas untuk mengejar tutup kotak nasi yang dibawa lari oleh seseorang sebagai tanda kedekatan bathin, tidak ada lagi kotak makanan ataupun kotak kue yang besar karena isinya banyak dan akan dimakan bersama dengan teman yang tidak sempat atau memang tidak berkesanggupan untuk membawa bekal kesekolah, tak ada lagi lenggokan kucing manis yang berbulu tebal sehat dan menggemaskan yang selalu dapat jatah makan sisa kue yang sengaja tidak dihabiskan oleh penghuni kelas yang penuh kasih sayang pada sesama makhluk Tuhan dibawah meja, tak ada lagi kesadaran untuk memberi pupuk dan air pada tanaman, bunga, serta tumbuhan yang ada di dalam pot maupun ditaman depan kelas, semua kebersamaan sepertinya telah hilang dibawa angin yang tidak bernama, telah lenyap disapu waktu yang tak bersuara, telah pupus diterjang ketidakpedulian yang tak beralasan.

Sungguh sangat memilukan, sungguh sangat disayangkan.
Sepertinya telah terbentuk sebuah dunia yang tak berkehidupan, dunia dimana sudah tak bersenyawa lagi antar penghuninya, tak bersinergi lagi antar pemiliknya dan tidak berkasih sayang lagi sesamanya. Semuanya larut dalam fikiran sikap dan prilaku sesuai dengan keinginan dan kontrol emosi masing- masing saja, tak berfikir lagi bahwa ada kehidupan lain selain kehidupan diri sendiri. Mereka seakan telah menjadi raja dan penguasa dalam kerajaan yang mereka bangun sendiri.

Keadaan terus berlanjut, sampai suatu saat terjadi perdebatan sengit dalam jiwa kemanusiaan ciptaan Tuhan yang dilengkapi dengan hati dan nurani serta rasa dan perasaan dalam sebuah kalbu yang halus dan haus akan kasih sayang, kebersaamaan, cinta alam serta kepedulian terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan .

Sehingga tanpa sadar muncul satu persatu kelompok-kelompok kecil dalam kelas . Bermula dari satu kelompok yang pada awalnya hanya beraggotakan dua orang, karena merasa senasib dan sepenanggungan. Seiring waktu seseorang yang merasa senasib sepananggungan lainnya mulai menambahkan dirinya dalam kesadaran penuh ke dalam kelompok yang mulai mereka butuhkan, demikian seterusya sehingga tanpa disadari juga muncullah kelompok-kelompok bermain dengan ciri khasnya masing-masing.

Dalam perjalannannya kelompok bermain ini sedikit demi sedikit, sehari demi sehari sepanjang waktu mulai menunjukkan jati dirinya, sehingga tanpa perintah ba atau bu, tiba-tiba tersiar kabar bahwa dalam sebuah kelas ada beberapa kelompok bermain, diantaranya kelompok anak yang suka mengganggu temannya yang sedang asyik berjalan di sepanjang teras sekolah, kelompok anak yang suka menghabiskan waktu istirahatnya di kantin sekolah sambil memalak teman yang punya uang lebih, kelompok anak yang suka menghabiskan waktu istirahatnya di mushala sekolah yang selalu menganggap orang-orang selain mereka adalah pendosa atau ada kelompok anak yang selalu menghabiskan waktunya diperpustakaan sekolah dengan menganggap dirinya lebih rajin dan lebih pintar sehingga sepertinya hanya merekalah yang lebih berhak disebut murid yang baik disekolah karena selalu mendapatkan nilai tinggi, tidak membuat kegaduhan, dan selalu hadir setiap hari di dalam kelas.

Ada apa ini?. Kenapa ini bisa terjadi ?.
Ruang kelas yang semula merupakan sorga, sekarang telah berubah jadi tempat perpecahan hati dan pikiran. diantara mereka tidak lagi saling mengenal dengan baik, tidak lagi saling menyapa dengan mesra, tidak lagi saling berbagi satu untuk semua dan semua untuk satu, sepertinya kebersamaan mulai pudar, kepercayaan mulai hilang, kepedulian pada sesama tak lagi nyata, rasa cinta alam dan kasih sayang pada sesama manusia tak lagi terasa.

Sungguh ini harus menjadi perhatian kita semua, tidak saja oleh guru yang berada disekolah tetapi juga oleh orang tua yang menjaga anak di rumah, serta masyarakat sekitar siswa sebagai pengawal dan pemerhati pendidikan.
Ketika ada usaha untuk mencari siapa yang bertanggungjawab, muncul berbagai argumen yang memojokkan guru sebagai pendidik dan pengajar yang tidak bekerja maksimal, padahal telah diberi tunjangan sertivikasi sebesar satu kali gaji pokok setiap bulan oleh pemerintah, atau menyalahkan orang tua yang seratus persen menyerahkan pendidikan anaknya kepada sekolah dengan alasan telah membayar mahal, atau mempermasalahkannya ditengah masyarakat sebagai lingkungan yang merasa telah memberikan fasilitas kepada dunia pendidikan dalam bentuk moril dan materil, tetapi tidak menemukan hasil,

Pencarian terus menerus dilakukan, penelusuran terus menerus dijalankan sampai keletihan berhenti pada suatu kesimpulan yang tak terduga sebelumnya yaitu, telah terjadi Pergeseran Nilai, Degradasi Moral, Etika dan Budi Pekerti yang telah melanda dunia anak sekolah melalui piranti abad modern dengan berbagai nama,bentuk dan tampilan serta harga yang bersaing dalam promosi besar, dalam gebyar yang sangat menggiurkan jiwa muda yang masih labil .

Pergeseran nilai, degradasi moral, etika dan budi pekerti terjadi akibat berlangsungnya revolusi digital yang membawa perubahan terhadap peradaban masyarakat, membuat fenomena abad kreatif semakin tegas sehingga bangsa Indonesia harus membangun kembali manusianya dengan pemahaman kepada penggalian sumber daya manusia yang berbudi luhur, cedas, kreatif, cinta negara, dan dapat menegakkan kembali karakter yang berakar kepada budaya bangsa Indonesia yang telah ada sejak nenek moyang bangsa Indonesia ada. Penggalian dan pembiasaan dimulai dari dunia pendidikan melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan disekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerjasama antara sekolah dengan pendekatan mengajar dan pengelolaan kelas yang riang penuh keceriaan, pendekatan keluarga dengan gerakan pola Berlian (Bersama Lindungi Anak) dari semboyan Kota Layak Anak, dan pendekatan masyarakat dengan pengawalan yang jujur dan cerdas karena PPK merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Tujuan dari gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) ini pada dasarnya adalah untuk mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter, sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan, dengan memperhatikan keberagaman satuan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia, selain itu yang tidak kalah pentingnya tujuan penguatan pendidikan karakter ini adalah untuk merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, peserta didik, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter demi membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan dimasa depan dengan keterampilan abad 21.

Keterampilan abad 21 meliputi berfikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dengan kualitas karakter yang beradaptasi pada lingkungan yang dinamis terutama pada bidang religius, nasionalisme, mandiri, integritas, gotong royong, toleransi, tanggungjawab, kreatif dan peduli lingkungan. Seiring dengan itu para peserta didik juga harus mampu menerapkan keterampilan dasar literasi sehari–hari dalam hal baca, tulis, berhitung, sains, teknologi, informasi dan komunikasi, finansial, budaya dan kewarganegaraan sehingga dapat memecahkan persoalan- persoalan yang muncul secara cepat, cermat, dan tepat.
Agenda Nawacita No.8 yang menyatakan bahwa penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental, membangun pendidikan kewarganegaraan (sejarah, pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti). Penataan kembali kurikulum pendidikan nasional, mengevaluasi model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional, jaminan hidup yang memadai bagi para guru khususunya di daerah terpencil serta memperbesar akses warga miskin untuk mendapatkan pendidikan. Inilah yang dimaksud dengan Gerakan Pendidikan Karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan.

ImpIementasi PPK dilakukan mulai dari kegiatan pagi dengan melaksanakan upacara bendera pada hari Senin, menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu nasional, dan berdoa bersama, serta literasi. Kegiatan ekstrakurikuler juga mendapatkan tempat yang tepat bagi penerapan Penguatan Pendidikan Karakter disekolah, seperti dalam kegiatan keagamaan, kepramukaan, PMR, kesenian, bahasa dan sastera Indonesia, jurnalistik (Majalah Dinding ) dan olah raga.

Pada Sekolah Dasar imlpementasi PPK yang dapat dilakukan adalah PPK berbasis Kelas, dengan metode dan pendekatan mengajar yang lebih bervariasi, kekinian dengan tetap mengedepankan kebutuhan dunia bermain peserta didik, dan Kepramukaan dengan segala aktivitas lapangannya adalah salah satu bidang yang bisa dijadikan wadah.

Pola pembiasaan kepramukaan lebih mengarah kepada materi utama Kepramukaan itu sendiri yaitu menerapkan janji pramuka. Dwi Darma untuk tingkat Siaga dan Dasa Darma untuk tingkat Penggalang, semuanya dilaksanakan dalam praktek penyelesaian Syarat Kecakapan Umum (SKU) dan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) menuju penyematan Tanda Kecakapan Umum (TKU) dan Tanda Kecakapan Khusus(TKK).

Dwi Darma untuk tingkat Siaga berbunyi : (1) Siaga itu menurut ayah bundanya, (2) Siaga itu berani dan tidak putus asa. Dasa Darma untuk tingkat Penggalang berbunyi : (1) Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (2) Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, (3) Patriot yang sopan dan ksatria, (4) Patuh dan suka bermusyawarah, (5) Rela menolong dan tabah, (6) Rajin, trampil dan gembira, (7) Hemat, cermat dan bersahaja, (8) Disiplin berani dan setia, (9) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya, (10) Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Semua janji itu diajarkan, dilaksanakan, dilatihkan untuk dibiasakan oleh Pembina Gugus Depan pada setiap kali latihan pramuka. Latihan pramuka juga dapat dijadikan bagian praktik keterampilan bagi indikator pembelajaran didalam kelas, ketika praktek keterampilan didalam kelas tidak memungkinkan untuk dilaksanakan seperti praktek menanak nasi, membuat makanan tradisional,

menghidangkan makan malam atau praktek menjahitkan kancing baju yang lepas, menyemir sepatu sendiri atau praktek membersihkan pekarangan rumah dan seterusnya.
Pembiasaan mencintai Tanah Air dengan piranti kenegaraan seperti bendera merah putih sejalan dengan kepramukaan yaitu kacu merah putih selalu melingkar dileher setiap anggota pramuka.

Disiplin diterapkan langsung saat pelaksanaan Upacara Pembukaan dan Penutupan Latihan (Tuplat). Kerja keras, pantang menyerah dan semangat gotong royong diterapkan dalam pendirian dan pengurusan tenda. Jujur, sporifitas dan sikap menghargai ditandai dengan penerimaan yang ikhlas hasil berbagai lomba yang dilaksanakan selama kegiatan Raimuna atau Jambore. Budaya antri dapat terlihat ketika anggota pramuka menggunakan sarana umum seperti WC, kamar mandi dan mengambil jatah makan.

Tidak mengambil hak orang lain saat mengambil jatah makan siang, atau makan malam. Teruntuk bagi orang lain tidak boleh diambil, apalagi dirampas. Berdoa sebelum menyantap makanan, makan dengan sopan, tidak terburu-buru. Berdoa setelah makan.

Begitu sempurnanya gerakan pramuka menyiapkan anggotanya untuk dapat menjalani hidup bersama dengan alam sekitar dalam rangkulan karakter sikap, prilaku tindakan, dan kebiasaan yang sangat baik, mengacu pada sebuah pengabdian kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Akankah terjawab tantangan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) disekolah dasar dengan menggandeng janji suci anggota pramuka sebagai dasar karakter yang akan dikembangakan bagi peserta didik disebuah kelas? , jawabannya ada pada Program PPK Berbasis Kelas disebuah sekolah dengan mengedepankan Kepramukaan.

Semoga dengan janji anggota pramuka, kelas sebagai sebuah sorga tetap terjaga hingga peserta didik menjadi pelaku Generasi Emas Indonesia tahun 2045 mendatang. Janji Pramuka bagi Penguatan Pendidikan Karakter anak Indonesia.(***)

 

print

Leave a Reply