Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Terkesan Ada Materi Adat Dalam Pelatihan di Sentra Industri Tenun

Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Terkesan Ada Materi Adat Dalam Pelatihan di Sentra Industri Tenun

- in Headline, NASIONAL
918
0
Lintau, bakaba – Hj. Mufidah Jusuf Kalla dalam rangkaian kunjungan kerja ke Tanah Datar juga mengunjungi sentra industri tenun alami di Nagari Tigo Jangko Kecamatan Lintau Buo Kamis (12/04). Kunker RI 4 beserta rombongan untuk meninjau persiapan peresmian yang direncanakan 08/05 mendatang.
Koodinator sentra rumah industri tenun Atitje Sutan Aswar memaparkan muatan materi yang disampaikan kepada peserta yang mengikuti pelatihan tenun.
Sebelum masuk ke materi menenun para peserta diberi pemahaman tentang adat, pasalnya menurut perantau asli Minang ini bila tidak ada adat tidak ada tenun.
Menurut Atitje masyarakat Minangkabau dulunya selalu menganut falsafah hidup “Adat Basandy Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” atau yang lebih dikenal dengan ABS SBK, tetapi saat ini fasalah itu sudah mulai hilang, dan adat sudah mulai ditinggalkan, hal itu berdampak budaya berpakaian perempuan Minangkabau.
Untuk itu menurutnya seluruh peserta tenun harus faham masalah adat baru masuk kemateri lainnya seperti memadukan warna, mencelup serta menenun.
“Diharapkan dengan adanya sentra industri rumah tenun ini dapat membangkit batang tarandam”, ujar Atitje.
Terlihat Hj. Mufidah Jusuf kalla sangat terkesan dengan adanya materi adat yang masuk pada materi pelatihan. Pada kesempatan tersebut Istri Wapres Yusuf Kalla itu juga ikut mencelup dengan pewarna alami.
Selanjutnya RI 4 dan rombongan meninjau rumah susun yang berada dalam komplek sentra industri tenun. Hampir 30 menit Hj. Mufidah Jusuf Kalla dalam Rusunawa.
Ketua KAN Tanjung Bonai H MY Datuak Paduko Kayo yang berhasil ditemui bakaba.net sangat mendukung adanya sentra industri tenun ini, pasalnya hal ini sangat berdampak pada kesejahteran masyarakat dan pelestarian nilai-nilai budaya khususnya budaya berpakaian orang Minang.
“Sentra industri tenun ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan perkembangan daerah serta pelestarian adat”, ujarnya.
Lintau menurut MY Datuak Paduko Kayo pernah berjaya dengan songketnya. Kejayaan songket luntau berakhir pada orde baru dengan adanya produksi masal tektil pabrikan yang menjual kainnya dengan harga murah sehingga banyak yang membeli tektil hasil industri pabrik dan meninggalkan tenun. (TIA)

print

Leave a Reply