TEOLOGI CORONA

TEOLOGI CORONA

- in Headline, OPINI
525
0

Oleh DR. GAZALI, MA

Direktur Pascasarjana IAIN Bukittinggi
Memahami relasi Tuhan dan manusia secara sederhana disebut dengan teologi atau ilmu ketuhanan.

Dalam khazanah keislaman klasik hubungan antara Tuhan dan manusia terbelah menjadi tiga. Kanan, tengah dan kiri. Penyebutan kanan bukan berarti benar dan kiri salah atau tengah adalah yang terbaik, “ khayrul amri awsatuha”, akan tetapi hanya untuk memposisikan saja.

Kanan sebut saja sebagai teologi tradisional, dengan beberapa indikasi; tekstual dalam memahami al-Qur’an, kurang bebasnya manusia dalam kemauan dan perbuatan, terikat dengan doktrin agama, kurang percaya kepada sunnatullah dan cenderung statis dalam berfikir (Muzani 1996).

Dan Kiri sangat dominan dalam menggunakan akal dalam memahami relasi Tuhan dan manusia, adanya kebebasan bagi manusia dalam melakukan perbuatan. Pikiran dan tindakan hanya terikat kepada ajaran dasar yang terdapat dalam al-Qur’an dan Hadis, sangat percaya kepada sunnatullah serta hukum sebab akaibat. Wahyu dipahami secara metaforis dan adanya kedinamikaan dalam sikap dan berfikir.(Muzani 1996)

Dengan beberapa indikasi masing-masing corak teologi di atas kita dapat memahami ke arah mana umat Islam mengambil sikap terhadap wabah virus corona.

Bagi kalangan kanan virus merupakan yang datang dari Tuhan dan manusia harus tunduk dan patuh terhadap keputusan Tuhan disebabkan ciptaan Tuhan tersebut. Apakah Tuhan akan menjinakkan virus apabila menghampirinya dan bersahabat semuanya terserah kepada Tuhan. Apabila Tuhan berkehendak baik maka selamatlah manusia yang dijangkiti oleh virus tersebut dan apabila virus tersebut menjadikan manusia harus “kalah” maka itu adalah keputusan terbaik yang diberikan Tuhan kepada manusia disebabkan oleh corona ini.

Bagi kalangan kiri, virus merupakan ciptaan Tuhan yang sudah ada,( Kompas.com – 29/01/2020) dan berpotensi manusia untuk menghindar bahkan apabila sudah menjadi bagian dalam diri manusia (terinfeksi), maka manusia dapat berusaha sekuat tenaga daya dan upayanya untuk melepaskan diri dari jeratan virus yang menjengkelkan ini.

Setiap manusia punya potensi yang sama diberikan oleh Tuhan dalam menjalani kehidupannya. Terserah kepada manusia untuk mengembangkan dua potensi tersebut, pertama akal dan kedua otot untuk berubudiah kepada Tuhaannya.

Bagi manusia yang selama ini menjaga kesehatan, tidak punya penyakit bawaan, diprediksi akan sembuh apabila terjangkit sang virus. Bagi yang punya akal yang panjang akan mematuhi protokol kesehatan yang sudah dirumuskan oleh para pakar sehingga apabila ada potensi virus mendekatinya, dengan sendirinya dia sudah melindungi dirinya dengan protokol tersebut. Pertenyaanya, bagaimana si “kiri” menjelaskan apabila virus tetap membawa si pesakitan ke alam berikutnya.

Maka jawabannya adalah, manusia tersebut sudah sampai pada hitungan sebab akibat yang menjadikannya tiba di saat yang tepat. Dan mereka aka nada analisa apa penyebab, dampak, dan akan berlanjut usaha yang keras untuk melacak sampai dimana perkembangan virus tersebut menyebar kepada yang lain.

Bahkan ada usaha yang sunguh-sungguh juga untuk melindungi manusia yang tidak terjangkit virus terhidar dari virus tersebut dengan aturan-aturan logika dan tindakan yang ketat.

Dari dua sudut yang ekstrim ini kita dapat menyimpulakan posisi yang diambil oleh pemimpin kita dalam menghadapi virus ini dengan cara “berdamai”. Kehendak Tuhan atas manusia tidak bisq serta merta dilepaskan hanya dengan mengandalkan kemampuan maksimal manusia.

Pada titik tertentu manusia harus pasrah dan minta “tangan Tuhan” untuk menjinakkan virus ini, sehingga manusia bias kembali ke dalam kehidupan yang normal baru. Pada sisi lain ada hal-hal tertentu yang masih bias diandalkan yaitu berupa usaha yang dapat mencegah dan mengobati apabila manusia terjengkit oleh penyakit ini.

Hal ini dapat kita lihat pada keputusan yang diambil oleh beberapa daerah dengan membuka diri dari keterisolasi-an. Tempat-tempat ibadah yang diyakini sebagai lokasi yang paling utama untuk memanjatkan do’a mulai di buka walau tetap memperhatikan jarak sebagai langkah rasional. Inilah corak keberagamaan kita di Indonesia yang mayoritas berpegang teguh kepada teologi Ahlussunnah wal jama’ah dengan konsep ikhtiyar sembari mengharap pertolongan dari Tuhan. (***)

print