Silek Sebagai Jati Diri Orang Minangkabau

Silek Sebagai Jati Diri Orang Minangkabau

- in Headline, Olah Raga
1675
0
Oleh : Destia Sastra
Silek di Minangkabau merupakan seni olahraga bela diri yang tumbuh dan berkembang di wilayah Minangkabau sejak dahulu kala. Silek bagi anak Minang merupakan jati diri, yang melekat dalam keseharian mereka, terutama bagi kaum lelakinya. tetapi bukan tabu bagi kaum perempuan, karena banyak perempuan minang yang menguasai seni bela diri tersebut.
Silek juga dipelajari anak nagari di Minangkabau untuk mempertahankan nagari dari serangan musuh, misalnya perampok, dan sejenis. anak lelaki minang sejak kecil sudah belajar di surau. biasanya mereka dilatih guru mengaji, yang menguasai ilmu silek. latihan silek dilakukan biasanya usai belajar mengaji pada malam hari.
Secara garis besar, silek minang memiliki beberapa aliran, seperti silek tuo (silat tua), silek sitaralak (silat sitaralak), silek lintau (silat lintau), silek luncua (silat luncur), silek kumango (silat kumango), silek harimau (silat harimau), silek pauah (silat pauh), silek gulo-gulo tareh (silat gulo-gulo tareh), silek ulu ambek (silat ulu ambek), silek sungai patai (silat sungai patai), dan silek baruah (silat baruh).
Silek Kumango adalah satu dari sepuluh aliran silek legendaris dari Minangkabau. silek ini terkenal dengan jurus mematikan yang disebut kuncian kemanga. dalam gerakan, ada sepuluh jurus inti kumango. yaitu, ilak kida, ilak suok, sambuik pisau, rambah, cancang, ampang, lantak siku, patah tabu, ucak tangguang, dan ucak lapeh. selain itu, ada gerakan dasar bernama langkah tuo, yaitu gerakan menyerang maupun menangkis dengan cepat yang membuat lawan tak berkutik. juga ada langkah ampek, yaitu pengembangan langkah tuo yang berfungsi sebagai umpan bagi lawan.
Sikek kumango mempunyai  keterkaitannya dengan agama Islam. Landasan yang kuat dalam hal keagamaan merupakan kunci  utama dalam mempelajari silek Kumango. Oleh karena itu, berlatih silek sekaligus akan membimbing seseorang pada sikap yang baik, seperti menjauhkan pesilek dari sifat takabur, durhaka, dan sombong yang merupakan ajaran-ajaran yang dilarang agama. Begitu pula seorang pesilek akan dilarang keras untuk berniat atau bermaksud berbuat jahat kepada orang lain.
Nilai-nilai tersebut terkandung dalam ungkapan ”baniat mamatah tapatah” (berniat mematah terpatah) yang berarti  barang siapa yang berniat jahat dia sendiri yang celaka. Nilai-nilai yang demikian sangat relevan dengan bela diri. Silek Kumango bermula dari sebuah surau subarang mesjid kecil di Nagari Kumango Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat. Dulu Syekh Abdurahman yang lebih dikenal dengan Alam Basifat tidak hanya  mengajar agama di tempat tersebut, sekaligus mengajar ilmu silat pada malam hari. Kebiasaan pemuda zaman dahulu harus tidur di surau, di manfaatkan oleh Syekh  untuk berlajar bela diri.
Saat ini, jasad Syekh Abdurrahman “dibaringkan” tepat di samping surau tempat ia menularkan ilmu silat dan ilmu agama. Hal itu guna mengingatkan syiar agama beliau melalui silat Kumango kepada generasi penerus. Tak hanya makam, kediaman Syekh pun hingga kini masih tetap dipertahankan warga Kumango sebagai bentuk kecintaan pada sang guru.
Dalam perkembangan selanjutnya, dua anak Syekh Abdul Rahman Al-Khalidi ini berperan penting dalam mengembangkan silek Kumango. Mereka berdua dengan tekun membawa dan sekaligus mengembangkan silek tersebut. Pada tahun 1952, Syamsarif Malin Marajo berhasil menjadi juara pencak silat pada PON II di Jakarta. Keberhasilan inilah yang membawa harum nama silek Kumango di Sumatera Barat.
Untuk melestarikan silek kumango Almarhum bekerja sama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyusun buku pelajaran silat untuk diajarkan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Draft buku pelajaran itu sudah siap lengkap dengan gambar-gambarnya yang semuanya dibuat di Simpurut Batusangkar. Akan tetapi karena adanya pergolakan-pergolakan daerah yang terjadi pada tahun 1956, buku tersebut belum/tidak jadi diterbitkan. Bagaimana keberadaan draft buku tersebut sekarang tidak diketahui sama sekali.
Disamping itu usai PON II, beliau bermain dalam sebuah film cerita nasional hasil garapan dari Usmar Ismail (PERFINI) “Harimau Campa.” Almarhum berperan sebagai guru silat (Saleh), sedangkan Harimau Campa diperankan oleh Bambang Hermanto sebagai murid dari Saleh. Silat yang dipakai dalam film tersebut adalah silat Kumango. Hal ini sebagai salah satu bentuk pelestarian silek kumango.
Silek Kumango adalah silek yang unik,lain dari pada yang lain. Dari semua aliran silek di minangkabau,keunikan silek kumango ini terletak pada berbagai macam gerakannya,dibandingkan dari silek lain yang mempedomani gerak lincah dari binatang dan alam,maka silek kumango berasal atau menggambarkan berbagai macam huruf-huruf hijaiyah.Seperti gerak Langkah Tuo dalam salah satu dasar dalam silek kumango yang menggambarkan asma Allah.
Cabang tarekat yang dikuasainya adalah Tarekat Samaniyah, Naqsyabandiyah dan Syatariyah, namun yang di ajarkannya kepada masyarakat dari Surau Kumango adalah Tarekat Samaniyah. Bakat parewa Syekh Abdurahman ini rupanya di salurkan dalam bentuk ilmu silat, yang dikemudian hari di kenal sebagai silat kumango.
Dalam permainan silek kumango tidak dikenal permainan senjata, kecuali dalam kembangan yang berbentuk tarian. Sebagai silek yang berasal dari budaya surau, maka senjata yang dikenal dalam silek kumango adalah sarung. Jadi selain sebagai alat untuk beribadah, sarung juga merupakan senjata yang dapat di andalkan
Sebagai mana sebagian besar silek minang lainnya, dalam pola langkahnya silek kumango juga menganut sistem langkah nan ampek (langkah empat). Pola langkah empat ini pada dasarnya adalah membagi ruang di sekeliling kita menjadi empat bagian, depan, belakang, kiri dan kanan. Pola ini banyak di temui di banyak aliran beladiri lainnya. Dalam silek kumango langkah ampek ni di simbolkan sebagai langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, yang merupakan huruf hijaiyah dalam kalimah Allah dan Muhammad.
Silat atau biasa di sebut silek dalam dialek minangkabau adalah seni beladiri masyarakat minang yang juga berperan dalam mendidik manusia minangkabau untuk menjadi manusia yang mempunyai ketinggian baik lahir maupun batin (urang nan sabana urang/manusia yang sebenarnya manusia). Karena dalam tradisi silek minang tidak hanya di ajarkan untuk membela diri dalam bentuk belajar serangan atau hindaran, tapi juga di isi dengan materi-materi yang penuh filosofi yang di simbolkan dalam aplikasi gerakan silat.
Di samping variasi ideologi Silek yang dikembangkan di Minangkabau, telah terjadi penurunan keberadaan pendekar Silek Minangkabau yang benar-benar memahami atau mengetahui sejarah Silek Minangkabau.
Hal ini pada kenyataannya sangat menyedihkan, yang relevan terhadap kemajuan teknologi, sebagian besar masyarakat Minangkabau telah meniru kebiasaan impor dari negara asing dan kurangnya perhatian kaum muda untuk masa depan budaya adat tradisi “ndak lapuak dek hujan ndak lakang dek paneh”
Tuo-tuo silek merasakan mangkin berkurangnya ketertarikan atau minat generasi muda untuk belajar silek, dahulu silek menjadi jati diri orang Minangkabau. Umumnya orang Minangkabau tempo dulu belajar silek di masa mudanya. Silek di jadikan proses pendidikan tradisional. Seorang guru silek di masa lampau , tidak hanya mengajarkan silek sebagai ilmu bela diri, namun juga mengajarkan sikap, mental spritual serta adat istiadat
Memang kita mengakui, dimensi kehidupan generasi muda saat ini tentu lebih komplek dibandinng generasi muda sebelumnya, saat ini seorang anak/remaja lebih banyak berinteraksi dengan teknologi juga pendidikan formal sehingga merasa tidak punya waktu terlibat dalam kehidupan sosial budaya.
Pada sisi lain munculnya keluhan tentang lemahnya integritas dan karakter generasi muda salah satu dampak dari pengaruh negatif budaya luar
Seharusnya kita semua menyadari terbentuknya karakter generasi muda saat ini karena kegagalan strategi dan sistim yang di bangun tanpa melibatkan kearifan kebudayaan kita yang beragam dan teruji tanggu sepanjang masa. Sementara itu diperburuk dengan pandangan sebagian orang tua yang beranggapan belajar silek hanya mengabiskan waktu dan tidak produktif padahal kebudayaan juga mengajarkan pembinaan mental dan spritual serta kehidupan sosial budaya bagi anak-anak.

print

Leave a Reply