SEJARAH MINANGKABAU PERSPEKTIF ARKEOLOGIS (2)

SEJARAH MINANGKABAU PERSPEKTIF ARKEOLOGIS (2)

- in BUDAYA, Headline
2644
0
Koleksi yang juga sangat penting dan masih berkaitan dengan kerajaan Pagaruyung yaitu beberapa peninggalan dari zaman Adityawarman berupa prasasti yang sekarang telah dilestarikan di beberapa tempat di Tanah Datar

Oleh : Drs. Nurmatias)*

Diantara tinggalan tersebut terdapat beberapa yang sangat penting seperti cap/stempel semasa Sultan Abdul Jalil. Selain itu juga terdapat keris bernama Curik Simalagiri yang terbuat dari besi berlapis emas. Keris ini berhias gambar bairawa dari emas. Koleksi ini diperkirakan berasal dari masa sebelum Adityawarman.

 

Keris Curik Simalagiri

Selain itu juga ditemukan koleksi yang berkaitan langsung dengan Sultan Alam Bagagar Syah yakni  bekas Nisan beliau ketika masih di makamkan di Mangga Dua (sebelum makam Sultan dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata). Nisan tersebut secara arkelogis bertipe/bergaya Aceh dengan pahatan suluran si bandan nisan.

Nisan Sultan Alam Bagarsyah

Di samping itu, koleksi yang juga sangat penting dan masih berkaitan dengan kerajaan Pagaruyung yaitu beberapa peninggalan dari zaman Adityawarman berupa prasasti yang sekarang telah dilestarikan di beberapa tempat di Tanah Datar. Prasasti tersebut sangat penting bagi data sejarah tentang kerajaan sebelum Islam yang bertahta di daerah  Pagaruyung yang berdasarkan penelitian diperkirakan berasal dari periode Melayu Kuno. Prasasati tersebut seperti Prasasti Pagaruyung I-IX, Prasasti Saruaso, Prasasti Kuborajo, Prasasti Rambatan, Prasasti Bandar Bapahat, Prasasti Pariyangan.

Prasasti Pagaruyung I-IX

Seperti prasasti Pagaruyung I menyebutkan wilayah kerajaan Adityawarman dengan swarnnabhumi yang artinya tanah emas. Kemuadian pada prasasti Pagaryuyung III menyebutkan angka tahun 1347 M. Prasasti pagaruyung IV yang tulisannya banyak yang tidak terbaca, namun pada baris ke 9 terdapat kata surawasa (surawasawan pada prasasti Saruaso I), menurut kasparis lokasi itu diperkirakan ibukota kerajaan Adityawarman ( berada disekitar wilayah nagari Saruaso)

Peninggalan lainnya adalah Pedang Cinangke, Pedang Simanggi Masak, Pedang Jenawi, Sikatimuno, Kain Sangseto, Mustika Sati, Tombak Lambiang Lamburan Berambut Janggi, dan Agung Simandarang. Pedang Cinangke memiliki gagang bertahta perak. Pedang Simanggi Masak merupakan sebuah pedang panjang. Pedang Jenawi merupakan pedang bermata dua dan memiliki alur dibagian tengahnya. Sikatimuno merupakan sebuah patung kepala yang terbuat dari porselen.  Kain Sangseto berupa kain sutera yang terbuat dari benang emas.  Mustika Sati berbentuk kepala ular dan berpermata dikedua bagian ujungnya yang berwarna merah delima dan hijau zamrut. Tombak Lambiang Lamburan Berambut Janggi sebuah tombak yang memiliki rambut janggi. Agung Simandarang berupa agung yang besar. Seluruh peninggalan tersebut sampai sekarang masih ada dan terpelihara dengan baik di Istano Silinduang Bulan dan di beberapa situs Kompleks Prasasti di Tanah Datar.

Lebih jelasnya bahwa keberadaan Kerajaan Pagaruyung, terutama raja Adityawarman dapat dibuktikan dengan ditemukannya bukti tertulis berupa prasasti,[1] diantaranya  pertama, Prasasti Pagauyung I atau prasasti Bukit Gombak, digoreskan pada sebuah batu pasir kwarsa warna coklat kekuningan (batuan sedimen) berbentuk empat persegi berukuran tinggi 2,06 meter, lebar 1,33 meter, dan tebal 38 centimeter. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sangsekerta bercampur dengan bahasa Melayu Kuno atau Jawa Kuno (Djafar dalam Istiawan, 2006 : 3). Prasasti Pagaruyung I berisi tentang puji-pijian akan keagungan dan kebijaksanaan Adityawaraman sebagai raja yang banyak menguasai pengetahuan, khususnya dibidang keagamaan, Adityawarman dianggap sebagai cikal bakal keluarga Dharmaraja, prasasti Pagaruyung I berisi pula tentang pertanggalan saat penulisan prasasti. Pertanggalan dalam prasasti ini ditulis dalam bentuk kalimat candra sengkala  berbunyi wasur mmuni bhuja sthalam atau dewa ular dan pendeta yang menjadi lengan dunia. Masing-masing kata diatas mempunyai nilai tertentu, bila dirangkai akan menjadi angka tahun. Wasur beragka 8, mmuni bernilai 7, bhuja bernilai 2, dan  sthalam = 1. Angka tersebut dibaca dari belakang sehingga menghasilkan angka tahun 1278 Saka (1356 M).

Kedua, prasasti Pagaruyung II, berhuruf Jawa Kuna dengan bahasa Sanksekerta. Isi dari prasasti ini belum dapat dijeskan secara lengkap, namun  dilihat dari angka tahunnya yakni  1295 Saka atau 1373 M sezaman dengan prasasti Aditiawarman lainnya. Ketiga, Prasasti Pagaruyung III, isi prasasti hanya berupa keterangan pertanggalan tanpa menyebutkan suatu peristiwa tertentu, kemungkinan besar prasasti ini ditempatkan pada konteks bangunan (candi) atau bangunan keagamaan lain. Keempat, Prasasti Pagaruyung IV, prasasti yang mengunakan huruf Jawa Kuno dan bahasa Sangsekerta serta berasal dari masa Adityawarman. Hal ini ditunjukkan dengan penyebutan nama Adityawarman pada baris ke-13. Kemudian pada baris ke-9 ada kata sarawasa, kata yang hampir sama dapat dijumpai pada Prasasti Saruaso I, yaitu surawasawan , yang kemudian berubah menjadi Saruaso, nama sebuah nagari (desa) di Kabupaten Tanah Datar + 7 kilometer dari Kota Batusangkar. Kelima, Prasasti Pagaruyung V, berisi tentang masalah taman dan diluar kelaziman prasasti dari Adityawarman.

Keenam, Prasasti Pagaruyung VI, merupakan stempel atau cap pembuatan bagi Tumanggung Kudawira, siapa dia belum dapat dijelaskan secara lengkap. Akan tetapi berdasarkan jabatan dan namanya dapat diketahui bahwa Tumanggung Kudawira berasal dari Jawa, sebuah jabatan yang lazim dipakai pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit. Ketujuh, Prasasti Pagaruyung VII, prasasti ini tidak diketahui angka tahunnya, hanya didalamnya menyebutkan nama Sri Akarendrawarmman sebagai maharadjadiraja. Pemakaian nama warmman  dibelakang menunjukkan bahwa Sri Akarendrawarmman masih ada hubungan darah dengan Adityawarman. Berbagai ahli menyebutnya sebagai saudara Adityawarman dan kerana gelarnya adalah maharadjadhiraja  tentunya ia sudah menjadi raja saat mengeluarkan prasasti tersebut, mungkin sesudah Adityawarman turun tahta (meninggal).

Kedelapan, Prasasti Pagaruyung VIII, prasasti yang dibuat pada masa Aditiawarman, ini berdasarkan tahun dikeluarkannya yakni 1291 Saka atau 1369 M. Menurut Casparis (dalam Istiawan, 2006 : 23-24) bahwa Prasasti Pagaruyung VIII mempunyai pertanggalan dalam bentuk candra sengkala yaitu sasi  atau bulan bernilai 1, kara  atau tangan bernilai 2,  awacara atau suasana bernilai 3, dan  turangga atau kuda berangka 8. Candra sengkala ini sama dengan 1238 Saka atau 1316 M. Hingga kahirnya Casparis menyimpulkan melalui berdasarkan isi prasasti tersebut bahwa Akarendrawarmman yang disebut dalam prasasti tersebut merupakan mamak  (saudara ayah) dari Adityawarman, sedangkan Adwayawarman (Ayah Adityawarman seperti disebut dalam Prasasti Kuburajo I) tidak pernah memerintah selaku seorang raja di Sumatera Barat). Kesembilan, Prasasti Pagaruyung IX, fragmen prasasti ini sekarang disimpan di Ruang Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar. Jika melihat bentuk dan gaya tulisannya, maka kemungkinan prasasti ini berasal dari masa pemerintahan Adityawarman.

Kesepuluh, Prasasti Saruaso I, prasasti yang berasal dari Raja Adityawarman yang berangka tahun 1297 atau 1375 Masehi. Prasasti tersebut berisi tentang suatu maklumat atau pengabaran tentang upacara keagamaan yang dilakukan oleh Raja Adityawarman sebagai seorang penganut Budha Mahayana sekte Bhairawa. Kesebelas, Prasasti Saruaso II, isi pokok dari prasasti tersebut adalah tentang seorang rajamuda (yauwaraja) yang bernama Ananggawarman. Disebutkan pula bahwa Ananggawarman merupakan anak (tanaya) dari Raja Adityawarman (1347-1375 M) yang kemungkinan masih berkuasa pada saat prasasti tersebut ditulis. Keduabelas, Prasasti Kuburajo I, berisi tentang tentang sebuah genealogis atau garis keturunan Raja Adityawarman. Pada garis kedua disebutkan seorang tokoh bernama Adwayawarman yang berputra raja Kanaka Medinidra. Ketigabelas,  Prasasti Kuburajo II,  prasasti yang berasal dari masa Adityawarman. Beberapa kata yang dapat dibaca dari prasasti ini antara lain “rama” (baris pertama), yang dapat berarti ketua desa. Dan pembacaan pada baris ketiga menghasilkan kata “puri” dan ”sthana” yang berarti tempat peristirahatan di istana, dan pada baris terakhir dijumpai kata “srima” yang merupakan penggalan dari kata sri maharadja, sedangkan tulisan yang lain tidak terbaca karena aus.

Keempatbelas, Prasasti Rambatan, berada di Nagari Empat Suku Kapalo Koto, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Prasasti ini terdiri dari 6 baris tulisan dalam huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Keadaan tulisan sudah cukup aus, sehingga hanya beberapa kata saja yang terbaca. Prasasti tersebut berbentuk sloka sardulawikridita  dan wangsastha 14. Di atas tulisan terdapat hiasan 2 (dua) ekor ular yang saling berbelit. Bentuk hiasan yang demikian dijumpai pula dalam beberapa prasasti Adityawarman lainnya. Kelimabelas, Prasasti Ombilin, terletak didepan Puskesmas Rambatan I, dekat Danau Ombilin, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar. Isi prasasti tersebut antara lain berupa penghormatan kepada Adityawarman yang pandai membedakan dharma  dan adharma, ia punya sifat sebagai matahari yang membakar orang jahat, tetapi menolong orang baik. Keenambelas, Prasasti Bandar Bapahat, berada di Bukit Gombang, Kabupaten Tanah Datar. Dari prasasti tersebut dijumpai nama Adityawarnan dan grama sri surawasa.  Ketujuhbelas, Prasasti Pariagan, ditemukan ditepi Sungai Mengkaweh, disebelah timur kota Padang Panjang. Prasasti ini dipahatkan pada batu monolit non-artifisial berbentuk setengah lingkaran dengan tulisan berjumlah 6 baris. Aksara yang dipakai sama dengan aksara prasasti Adityawarman lainnya.

Kedelapanbelas, Prasasti Amogrhapasa, prasasti ini dipahatkan pada bagian belakang Arca Amoghapasa yang ditemukan di Rambahan dihulu Sungai Batanghari.  Isi prasasti ini antara lain : Adityawarman menyebut dirinya Maharajadiraja, nama lain yang dipakainya adalah Udayadityawarman, ada upacara Bhairawa, karena indikasi matangini  dan matanginisa, ada nama Tuhan Prapatih sebagai pejabat tinggi dari Adityawarman, Acaryya Dharmmasekhara mendirikan Arca Budha dengan nama Gaganagnja,  ada restorasi candi, berdasarkan indikasi kalimat jirnair udharita, ada pemujaan kepada jina, ada sebutan Rajandra Mauli Maliwarmmadewa Maha rajadhiraja dan nama Malayupura. Kesembilanbelas, dipahatkan pada lapik Arca Amoghapasa yang ditemukan di Jorong Sungai Langsat, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Isi dari prasasti ini menyebutkan bahwa pada tahun 1208 Saka (1286 M), bulan Badrawada tanggal 1 paro terang, Arca Amogapasha dibawa dari Bumi Jawa dan ditempatkan di Dharmasraya. Arca ini merupakan persembahan dari Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara (dari kerajaan Singosari di Jawa) untuk Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa dari Melayu Dharmasraya.

 Penutup

Sebagai sebuah kajian sesungguhnya Sejarah Minangkabau memang merupakan salah satu sisi masa lalu masyarakat yang mendiami Pulau Andalas ini yang penuh keunikan tersendiri dan meninggalkan bukti arkeologis yang sampai sekarang ini masih dapat kita jumpai. Percikan peninggalan itupun mengilhami kita untuk mendalami lebih dalam tentang persoalan sejarah Minangkabau itu sendiri.

Sebuah terobasan yang bisa kita lakukan selain melaksanakan kajian mendalam dan terus menerus tentang sejarah Minangkabau, juga melakukan internalisasi dalam dunia pendidikan tentang pemahaman buki-bukti arkelogis tentang sejarah Minangkabau itu sendiri.

Akhirnya, melalui kebijakan yang mumpuni semuanya itu bisa dilaksanakan, sehingga masa lalu dari Minangkabau itu sendiri akan terkuak dan terpatri dalam diri masyarakat Minangkabau.(Habis)

Penulis :

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

[1] Secara lengkap tentang keberadaan kerajaan Pagaruyung dan Raja Adityawarman melalui bukti tertulis berupa prasasti lebih rinci dapat dilihat pada hasil karya Budi Istiawan, 2006 : 48 halaman.