Ruhana Kuddus Wartawati Pertama Akan Diberikan Gelar Pahlawan Nasional

Ruhana Kuddus Wartawati Pertama Akan Diberikan Gelar Pahlawan Nasional

- in Feature, Headline
842
0

Oleh Silfia Hanani

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1884. Terlahir dari keluarga yang terkemuka karena ayah dari Rohana Kuddus yaitu Muhammad Rasad Maharadjo Soetan yang bekerja sebagai jurnalis dan memiliki hubungan yang baik dengan pihak Belanda dan ibu beliau bernama Kiam.

Sejak kecil beliau disapa dengan panggilan “One” oleh keluarganya, yang merupakan panggilan khusus buat Rohanna Kudus.

Ketika  berumur delapan tahun Rohana mendirikan sekolah terbuka di Talu Pasaman untuk anak-anak seumuran dia dan Rohana pun menjadi gurunya. Di sebut sekolah terbuka, karena anak siapa pun boleh belajar dan datang.

Kegiatan belajar berlangsung di teras rumah. Tidak dipungut bayaran, malahan alat tulis dan keperluan untuk belajar bersama dibiayai oleh ayahnya.
Masa kecil, Rohana memiliki kebiasaan membaca yang aneh. Membaca keras-keras di hadapan umum.

Hal ini, dilakukan oleh Rohana guna menarik perhatian orang untuk belajar membaca dan bersekolah.

Setelah remaja sepeninggal ibunya yang berpulang ke hadapan ilahi. Rohana pulang ke kampung halaman di Koto Gadang, tinggal bersama nenek tercinta.

Neneknya seorang pengerajinan sulam yang terkenal di Di Koto Gadang waktu itu.

Di negeri ini Rohana melanjutkan perjuangannya yang belum selesai itu. Ia menjadi pembaca berat dan belajar dari membaca itu. Membaca bagi Rohana membebaskan dirinya dari kungkungan-kungkungan yang tidak memberdayakan manusia.

Rohana sadar betul dengan membaca sebagai pembebesan keterbelakngan, makanya gerakan pertama dilakukan Rohana untuk kalangan perempuan adalah membebaskan perempuan dari buta huruf.

Rohana mengajarkan perempuan-perempuan di Koto Gadang membaca. Waktu itu, perempuan tersisihkan oleh pendidikan oleh kontruksi budaya dan stigma yang menyatakan perempuan hanya orang rumahan, orang dapur dan orang kasur.

Tak layak untuk kedepan publik masyarakat. Mungkin masih ingat ungkapan ini bagi kita untuk apa perempuan tinggi-tinggi bersekolah, toh akhirnya ke dapur juga.

Koto Gadang adalah nagari pertama di Minangkabau ini, mendobrak ketidak adilan yang dikontruks untuk perempuan itu, melalui pergerakan yang dilakukan oleh Rohana dengan KAS-nya.

KAS adalah, perkumpulan perempuan pertama di Minangkabau yang diketuai oleh Rohan yang berdiri pada 11 Februari 1911. Perkumpulan ini, berkembang menjadi institusi pendidikan dan tempat pemberdayaan ekonomi perempuan.

Perempuan berkumpul belajar, berkumpul mengerjakan membedayakan ekonomi melalui unit usaha produktif menyulam dan menjahit.

Hasil dari kerajinan perempuan ini dipasarkan pula oleh KAS. Dari usaha pemasaran ini, KAS berkembang menjadi unit usaha simpan pinjam untuk membangun ekonomi perempuan.

Rohana tidak puas sampai dengan pendidikan perempuan di KAS. Rohana memikirkan, bagaimana perempuan untuk bisa menulis, karena dengan tulisan itu bisa dikenal perjuangan dan pembebasan yang bisa dilakukan oleh perempuan.

Maka berkat kerjasama Rohana dengan Dt. St. Maharaja pimpinan surat kabar Utusan Melayu di kota Padang, berdiri pula surat kabar perempuan pertama di Indonesia pada tanggal 10 Juli 1912 bernama Sunting Melayu.

Surat kabar ini diurus oleh perempuan, penulis dan jurnalisnya adalah perempuan dan diketuai oleh Rohana. Rohana merupakan perempuan pelopor dalam gerakan jurnalis perempuan.

Belum ada di nusantara ini, baru Rohana yang merintisnya. Maka tidak salah Rohana di beri gelar julukan wartawan perempuan pertama di nusantara.

Dalam perjalanan saya ke Koto Gadang, menelisik-nelisik tentang Rohana Kudus, ternyata di dunia diumumkan pemenang nobel tahun 2011.

Tengah asyik dengan Rohana, tanpa sengaja terbaca oleh saya di telepon genggam, tiga perempuan di dunia ini pemenang nobel perdamian. Tiga orang perempuan itu dipandang berhasil mengharmonisasikan dunia dengan caranya.

Tiga perempuan pemenang nobel perdamaian yang diumumkan 7 Oktober 2011 itu adalah pertama: Tawakkul Karman (32 tahun), perempuan Arab pertama peraih nobel perdamaian. Tawakkul dikenal sebagai pejuang HAM dan penentang rezim pemerintahan yang berkuasa di Yaman di bawah Presiden Ali Abdullah Saleh.

Kedua, Ellen Johnson-Sirleaf (72 tahun), adalah presiden perempuan Liberia pertama sekaligus presiden perempuan pertama di Benua Afrika dan pernah mengenyam pelatihan di di Universitas Harvard. Sirleaf kini berjuang membangun negara yang baru saja terbebas dari perang sipil selama 14 tahun.

Ketiga, Gbowee, aktivis perdamaian yang menjadi kunci dalam berakhirnya perang sipil Liberia. Pekerja sosial dan konselor trauma ini mengelola Organisasi Aksi Massa Perempuan Liberia untuk perdamaian. Grup ini salah satu alat pencipta perdamaian Liberia pada 2003 lalu.

Usai membaca itu, ingatan saya makin kuat kepada Rohana, karena Rohana bagi saya tidak kalah hebat perjuangannya pada zamannya. Tapi sayang, kenangan tentang Rohana telah terkubur begitu saja.

Anak-anak kita tidak pernah diberi tahu tentang perjuangan “mande” urang awak ini, hingga hero nya telah berubah pada sosok tokoh kartun yang akrab dalam tontonannya.

Malahan sangat menyedihkan ketika saya menonton acara remaja di sebuah televis tentang ilmu pengetahuan, remaja kita lebih kenal dan hafal tuntas tentang penyanyi idolanya ketimbang dengan pahlawan nasional.

Remaja kita tidak lebih fasih menjawab pertanyaan artis ketimbang pahlawannya. Malahan, lebih hafal lagu-lagu asing daripada lagu kebangsaannya yang bernuansa nasionalis, motivator, humanis dan seterusnya.

Kembali kepada tiga perempuan pemenang nobel perempuan tadi, ternyata perempuan-perempuan pemenang nobel itu, orang-orang yang terinspirasi dari perjuangan-perjuangan lokalnya. Berjuangan dengan kecintaan terhadap negerinya.

Kini, di negeri kita, rasa kecintaan terhadap negeri sudah menipis, salah satunya dipengaruhi oleh hilangnya sosialisasi nilai-nilai heroistik semangat kepahlawanan di tengah-tengah kita.

Sekolah tidak berpihak lagi menjelaskannya. Pemerintah, sudah enggan untuk mempopulerkan semangat perjuangan orang-orang terdahulu itu.

Saya berharap pada satu saat, setidaknya pemerintahan Agam memiliki kepedulian kembali dalam mengapungkan perjuangan-perjuangan yang dilakukan Rohana, sehingga anak bangsa kita mendapat satu pencerahan yang luar bisa ditengah-tengah kita sedang mengalami kehilangan pegangan ini. Semoga!

print

Leave a Reply