Praktik Pungli di Sekolah Disebabkan Belum Adanya Regulasi Yang Jelas

Praktik Pungli di Sekolah Disebabkan Belum Adanya Regulasi Yang Jelas

- in Headline, HUKRIM
527
0
PENJELASAN—Wakapolda Sumbar Kombes Pol Nur Afiah didampingi Ketua Ombudsman Sumbar Yunafri’ Kapolres AKBP Irfa Asrul Hanafi dan Bupati Irdinansyah Tarmizi ketika memberikan keterangan pers.(Bakaba/Wirmas Darwis)

Batusangkar, Bakaba—Wakapolda Smbar Kombes Pol. Nur Afiah menegaskan, penyebab terjadinya praktik pungli di jajaran pendidikan karena belum ada regulasi yang mengatur pendanaan pendidikan terutama yang berasal dari masyarakat dan komite secara jelas dan mengacu kepada aturan yang berlaku.
“Akibatnya, banyak kepala sekolah yang kesulitan membedakan mana yang pungli dan mana yang tidak, mana yang sifatnya sumbangan dan mana yang pungutan,” kata Wakapolda Nur Afiah melakukan sosialisasi seputar pungli kepada jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Datar terutama kepala sekolah dan komite SD, SLTP dan MTsN, di Indo Jolito Batusangkar, Senin (13/2).
Dikatakan, Ia menjelaskan sumbangan ke sekolah sebenarnya dibolehkan kecuali pada pendidikan dasar yaitu SD dan SLTP, namun harus mengikuti mekanisme agar tidak menjadi pungutan tidak resmi.
“Pungutan liar itu jelas definisinya dimana pungutan yang sengaja dilakukan dengan memaksa orang untuk membayar sesuatu tanpa aturan yang jelas dan tidak transparan,” katanya.
Ia mengatakan kalau pungutan yang dilakukan untuk kepentingan lembaga pendidikan berdasarkan kesepakatan bersama maka hal itu tidak ada masalah asal sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Ombudsman Sumbar Yunafri mengatakan untuk mengantisipasi pungli di jajaran pendidikan hendaknya pemerintah daerah membuat regulasi ketentuan pendanaan pendidikan yang berasal dari masyarakat atau komite.
“Dengan adanya regulasi tersebut maka pihak sekolah bisa mengantisipasi kegiatan yang masuk kategori pungutan liar sehingga bisa dicegah,” katanya.
Ia menjelaskan pungutan liar dalam konteks dunia pendidikan adalah pungutan yang dilakukan tanpa ada regulasi yang mengatur.
“Selain itu jika ada suatu kegiatan di sekolah yang tanpa perencanaan sejak awal maka bisa dikategorikan pungutan liar,” katanya.
Ketua DPRD Tanah Datar Anton Yondra mengharapkan pemerintah daerah segera membuat regulasi sebagai payung hukum soal pungutan di sekolah.
“Sejak adanya Tim Saber Pungli, para kepala sekolah dan guru resah. Mereka kuatir kebijakan yang sudah dibuat sekolah selama ini masuk kategori pungli sehingga bisa dipidanakan,” katanya.
Ia menyebutkan payung hukum tersebut mendesak untuk dibuat agar pengelola pendidikan di tingkat sekolah tidak berada pada wilayah kurang jelas.
“Jadi jelas batasannya mana yang masuk kategori pungutan, mana yang liar dan mana yang sumbangan,” katanya.
Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi menyampaikan akan segera berkonsultasi dengan instansi terkait dalam membuat relugasi sehingga pengelola sekolah tidak ragu dalam mengambil kebijakan yang pada akhirnya berpengaruh pada proses belajar.
“Dalam hal ini Disdikbud dapat berkoordinasi dengan instansi terkait dalam melakukan kajian mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak,” katanya.

Ikut hadir dalam sosialisasi itu Kapolres Tanah Datar AKBP Irfa Asrul Hanafi, Wakapolres Padang Panjang Kompol S. Priyono, Dandim Letkol Inf Nandang Dimyati, Wakapolres Tanah Datar Kompol I Gusti Made Reje, Kepala Disdikbud Abrar, dan para kepala organisasi perangkat daerah setempat. (WD/Tia)

print

Leave a Reply