Perjuangan Para Petani, “Lelah Berujung Bahagia

Perjuangan Para Petani, “Lelah Berujung Bahagia

- in Feature, Headline
356
0

Oleh Feri Ilham Dani

Saat panen tiba, tergambar terang dan jelas, padi menguning keemasan di Mudiak Aia, Desa Taratak Teleng, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok menghampar sepanjang mata memandang, melambai-lambai diterpa angin seolah mengisyaratkan harapan akan peningkatan kesejahteraan.

Ditambah lagi riuhnya pengiraian dan alat penderai padi dari batang bertalu berirama merdu yang mengiringi roda perekonomian Jorong Taratak Teleng yang masih semarak berputar. Anak-anak Desa pun tak ketinggalan ikut berpesta dengan berlari-lari lincah di pematang menikmati keriangan orang tuanya menuai harapan.

Siang terik tidak menyurutkan semangat para buruh tani memanen padi yang menguning. Meski harus bersusah payah memanen hingga memikul beratnya padi untuk dibawa ketempat pendiaman sementara, para petani ini tetap bersuka cita.

Hal ini dirasakan bagi Para Petani asal Mudiak Aia Jorong Taratak Teleng, Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok. Para Petani dalam masa panen kali ini cukup membuat mereka senang. Karena padi yang ditanam dan dirawat dengan tenaga mereka, kini waktunya dipanen. Sepintas tampaknya akan mendapat hasil yang lumayan.

Dua rute yang tersedia untuk dilewati oleh Masyarakat untuk sampai ke lokasi sawah mereka. Sebagian Masyarakat Petani di Mudiak Aia butuh perjuangan untuk pergi ke sawah mereka dengan menempuh rute perbukitan jalan setapak.

Butuh waktu ±45 menit berjalan kaki karena tak ada yang berani membawa kendaraan untuk menempuh rute yang curam dan mendaki. Di kiri kanan jalan setapak, di balik rimbun ilalang, jurang dalam mengangga.

Meskipun semenjak padi terbit, perjuangan yang tiada henti mereka lakukan, sebelum terbitnya fajar mereka harus pergi kesawah menjaga padi dari serangan burung hingga terbenamnya matahari. Langkah yang terus dilakukan sampai masanya padi bisa dipanen.

padi yang menguning lambai menjuntai ramai dituai riuh berlagu, penderai padi dari batangnya bertalu irama merdu, senja datang mereka pulang membawa harapan. Dari hasil padi yang di panen ini mereka menghidupkan keluarganya, dan kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi sedikit dengan adanya padi yang di panen.

kebutuhan kuliah anaknya, kebutuhan sekolah, dan bahkan lain-lain yang dianggap perlu, selalu disisihkan dari padi hasil panen mereka. Lelah, capek, tidak terasa ketika anak yang mereka sayangi menjadi dambaan keluarga bisa melanjutkan pendidikan nya ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi mereka pendidikan sang anak sebagai sang mahkota harapan keluarga sangat penting. Biarlah ekonomi sederhana, asal sang anak bisa menimba ilmu. Semoga dengan lelah nya perjuangan ini, anak harapan orang tua tidak merasakan kepedihan yang dialami sekarang. Begitu teguh prinsip sang orang tua yang berprofesi hanya sebagai petani demi keluarga dan sibuah hati mereka.

Bahwa sesulit apapun kehidupan yang kita alami sekarang, semoga tidak menyurutkan semangat kita untuk menimba ilmu, jangan sia-siakan mereka yang menaruh harapan padamu wahai sang anak. Sesusah apapun kondisi yang kita hadapi, semoga kita dapat tetap memberikan kebaikan untuk segala sesuatu yang ada di sekitar kita. (***)

print

Leave a Reply