Pandemi Covid 19, Pemilik Kos-kos Telan Pil Pahit

Pandemi Covid 19, Pemilik Kos-kos Telan Pil Pahit

- in Feature, Headline
0

Bukittinggi, bakaba.net – Pemilik kos-kosan di dilingkungan IAIN Bukittinggi melakukan berbagai inovasi, hal itu untuk menarik minat mahasiswa agar kembali indekos.

Tidak tanggung-tanggug bahkan banyak kos-kos yang mereka kelelolah dengan menyediakan wifi, tv, cctv serta fasilitas lainnya mulai dari harga Rp. 200.000-Rp.350.000 dengan kualitas fasilitas yang berbeda.

Tetapi para pemilik kos akhirnya harus menelan pil pahit, karena IAIN Bukittinggi kembali memperlakukan perkuliahan sistim daring. Hal itu dipertegas dengan surat edarannya tertanggal (07/01/2021) lalu.

Sistim perkuliahan daring ini tentu berdampak sangat signifikan terdapat pendapatan kos-kosan yang berada disekitar kampus tersebut.

Padahal sebelumnya, kos-kosan banyak yang sudah diboking para mahasiswa yang mengira perkuliahan sistem tatap muka.Bahkan ada Mahasiswa yang telah membayar uang mukanya.

Bahkan bulan Desember yang lalu, kos di lingkup sekitaran kampus atau Kubang Putiah itu 90% dikatakan penuh.

Tetapi kampus mengeluarkan surat edaran tentang perkuliahan secara daring, sehingga mahasiswa banyak yang membatalkan bokingannya. Hal ini juga menimbulkan kekecewaan pemilik kos.

“Sejak pandemi covid-19 ini, pendapatan kita jadi menurun sebagai pemilik kos, mahasiswa membatalkan boking kosnya. Banyak kamar yang kosong kembali”. Tutur pak hendra sebagai pemilik kos, dengan penuh rasa kecewa.

Bahkan sejak Pandemi Covid 19, Mahasiswa banyak yang tidak membayar kosannya, sudah beberapa kali kami menghubungi. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti ngekos saja ungkap Susi pemilik kos lainnya saat bincang-bincang dengan bakaba.net.

Saat ini kos-kosan sangat sepi, hanya diisi oleh beberapa mahasiswa semester akhir dan beberpa semester dibawahnya karena terkendala signal di kampung.

Pemilik kos ataupun mahasiswa berharap, sistem perkuliahan kembali ke sistim tatap muka lagi.

Pasalnya perkuliahan secara daring berpengaruh secara signifikan menurun drastis perekonomian warga kubang putiah.

Sementara Mahasiswa berpendapat sistim perkuliahan daring, pasalnya mahasiswa kesulitan memahami materi pembelajaran yang dilakukan dengan sistem seperti itu.

Warga berharap Dunia kembali bernafas bebas, tanpa terpenjara oleh covid-19. (Kharisma Pratiwi)

print

Leave a Reply