“Nan Ampek” Jadi Salah Satu Konsep Museum Istano Basa Pagaruyung

“Nan Ampek” Jadi Salah Satu Konsep Museum Istano Basa Pagaruyung

- in BUDAYA, Headline, OPINI
113
0

Oleh Destia Sastra

Museum istana Basa Pagaruyung merupakan bangunan yang mengadopsi dua sistem politik yang ada di Minangkabau. Anjuang yang berada pada sisi kiri dan kanan merupakan sistem koto Piliang menggambarkan kedudukan penghulu tidak sama, hal itu digambarkan dengan “Bajanjang Naiak, Batanggo Turun.

Sementara sistem pemerintahan bodi Caniago yang demokratis terlihat dari singgaraja yang tidak memiliki kursi seperti filosofinya “Duduak sahamparan, berdiri sepematang, duduk sama rendah tagak sama tinggi.

Menurut AA Navis, masyarakat Minangkabau memiliki kebudayaan yang sangat kuat dipengaruhi oleh agama Islam.

Hal ini terlihat dalam prinsip adat Minangkabau yang tertuang singkat “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah,” (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Kitab Allah yaitu Al-Qur’an), berarti adat dan budaya Minangkabau selalu berlandaskan pada ajaran agama Islam . Demikian juga dengan bangunan arsitektur rumah
tradisional termasuk Istano Basa Pagaruyung.

Secara umum dalam bangunan museum Istana Basa Pagaruyung terdapat empat konsep pembangunan yaitu, Nan Ampek (yang empat), Alam Takambang Jadi Guru, Matrilineal, Sejarah Kerajaan Pagaruyung.

Konsep Nan Ampek terlihat dari simbol hiasan atau interior museum Istana Basa Pagaruyung dengan motif saik ajik makanan tradisional Minangkabau yang terbuat dari beras ketan merah, putih dan hitam. Warna merah dan hitam dari interior itu memiliki simbol kepemimpinan dan keberanian.

Bila Kaji  lagi Nan Ampek mempunyai makna tersendiri bagi masyarakat adat itu yang merupakan tata krama berprilaku, asal-usul (jati diri), dan hukum adat bagi semua masyarakat Minangkabau yang berkaitan dengan adat, agama, dan undang-undang.

Nan Ampek diuraikan dalam hal-hal yang di atur berjumlah serba empat, seperti tau kajadian asal, kejadian manusia berasal dari air, api, angin, tanah. Tau asa nagari (tahu negeri asal).

Asal nagari di Minangkabau mulai dari taratak, dusun, koto, dan nagari. Selanjutnya ada empat aturan adat yang disebut masyarakat Minangkabau “Tau adat nan ampek (tahu adat yang empat).

Adat yang empat itu yaitu adat nan sabana adat, adat nan di adatkan, adat nan taradat, dan adat istiadat. Ini merupan peraturan perundang-undangan asli Minangkabau.

Dan untuk berinteraksi ditengah-tengah masyarakat, Minangkabau mengamalkan kato nan ampek (tahu kata yang empat), yaitu kato mandaki, mandata, malereng, dan manurun. Suku yang empat yaitu bodi, caniago, koto, piliang dan Lain-lain (Sayuti, 2005: 2).

Alam menjadi konsep kedua dalam mendirikan dan mendekorasi museum istano Basa Pagaruyung orang Minang mengambil filosofi dari alam dan menjadikannya sebagai pembelajaaran.

Ragam ukiran di Istano Basa Pagaruyung merupakan visualisasi dari Alam Takambang Jadikan Guru, maka akan terlihat ragam ukiran dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan yang memiliki makna filosofis masing-masing.

Unsur Matrilineal juga terasa sangat kental dari bangunan Istano Basa Pagaruyung, mulai dari kebutuhan, pernak-pernik perempuan, diantaranya adanya biliak untuk perempuan dan anjuang paranginan khusus untuk perempuan, unsur kaca untuk berhias dan motif-motif ukiran yang memyimbolkan tentang perempuan di Minangkabau.

Bahkan pada museum istano Basa Pagaruyung juga terdapat beberapa ruangan yang khusus untuk perempuan diantaranya anjuang perak, biliak untuk anak perempuan yang sudah menikah dan lantai dua yaitu anjuang paranginan untuk putri yang masih gadis sebagai tempat pingitan, disana juga terdapat banyak cermin dan tempat berhias putri.

Masyarakat Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal, atau menurut garis ibu, anak masuk keluarga ibu, bukan pihak ayah. dan Istano Basa Pagaruyung hanya ditempati kaum perempuan.

Sementara laki-laki yang sudah balig, tidak boleh tinggal di rumah tinggal dalam Istano, tapi tinggal bersama laki-laki lainnya di surau. Jika seorang laki-laki Minang menikah, mereka akan tinggal di rumah istri.

Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaan pada budaya Minangkabau terletak pada perempuan, kekuasan yang tidak terlihat secara langsung tetapi dapat dirasakan kehadirannya.

Sementara itu tidak ada unsur kerajaan Pagaruyung juga sangat terasa kental dari museum Istana Basa Pagaruyung. Konsep kerajaan terlihat dari ukuran banggunan yang cukup besar, selanjutnya ada singgasana raja, anjung perak, anjuang Rajo babanding, anjuang paranginan serta mahligai.

Dalam museum itu ada beberapa replika benda pusaka milik kerajaan serta artefak lainnya yang berhubungan dengan kerajaan Pagaruyung. Koleksi-koleksi itu mulai dari awal abad, periode Eropa kolonial, kolonial, Jepang dan benda tradidional yang berhubungan dengan unsur kerajaan. (***)

print

Leave a Reply