Literasi Digital, Mentawai Diajak Bijak Bermedia Sosial

Literasi Digital, Mentawai Diajak Bijak Bermedia Sosial

- in Headline, MENTAWAI, News
0

MENTAWAI, bakaba.net — Dalam memanfaatkan perkembangan teknologi, harus dibarengi dengan bijak bermedia sosial, agar tidak menjadi penyebar hoaks kepada masyarakat luas yang berdampak secara luas.

Hoaks merupakan informasi yang tidak benar, dengan dibumbui atau ditambahi dan dikurangi dengan kata-kata sedemikian rupa sehingga seolah-olah benar adanya.

Pada era digital sekarang ini adalah eranya juga sosial media, namun jika lengah atau teledor bermedia sosial dapat berakibat fatal.

Kesalahan bersosialmedia di era digital sekarang dapat berakibat fatal namun jika bijak dalam  bersosialmedia juga menawarkan sejumlah peluang yang menjanjikan, apalagi jika mampu mengolah dan memanfaatkan sosial media tersebut.

Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia telah meluncurkan 4 (empat) modul literasi digital, yaitu; (1) Budaya Bermedia Digital; (2) Aman Bermedia Digital; (3) Etik Bermedia Digital; dan (4) Cakap Bermedia Digital yang dilaksanakan di 34 provinsi, 514 kabupaten/kota sampai akhir tahun ini.

Kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkesinambungan dan akan dilakukan di tahun-tahun berikutnya sampai akhir masa kerja kabinet sekarang serta dihelat oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia bekerjasama dengan PT PCI.

Jumat (9/7) kegiatan Gerakan Nasional Literasi Digital untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat kembali digelar melalui webinar virtual menggunakan  aplikasi zoom, untuk yang pertamakalinya dan berlangsung dari pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 17.00 WIB.

Kegiatan ini diikuti oleh 175 peserta yang berasal dari pelajar, guru, ASN dan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Kota Padang, tetapi Sumatera Barat, serta dari sejumlah daerah di Indonesia.

Adapun yang tampil sebagai pembicara adalah Jangkung Trisanto (Senior Manager Social Media CNN Indonesia TV) (Digital Safety), Syali Gestanon, S.Sos (Kepala Seksi Pengelolaan dan Aspirasi Publik Dinas Kominfotik Prov. DKI Jakarta) (Digital Ethics), Dr. Havid Ardi, S.Pd., M.Hum. (Wakil Dekan 1 Fakultas Bahasa dan Seni UNP/Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FBS UNP, Digital Culture), dan Saparman Nur, M.Pd. (Kepala SD TELKOM Padang – Sumatera Barat, Digital Skill).

Moderator dalam iven kali ini adalah Sonnaria, selain itu juga ada Key Opinion Leader @Amaratih – Jurnalis, Presenter” Apa Kabar Indonesia Pagi” TV  ONE, MC/ Moderator

Webinar kali ini mengambil tema “Bijak Bermedia Digital”  dan mendapat sambutan dari pemerhati, dan praktisi pendidikan.

Sejumlah komentar dan pujian serta dukungan untuk kegiatan ini juga bermunculan, seperti dari Linda Contesa yang mengucapkan terimakasih atas materi dari Dr. Havid Ardi.

Hal yang sama juga disampaikan kepada narasumber Saparman Nur, atas segala terobosannya bersama SD Telkom, serta dari Endar Mahesa yang menyatakan terimakasih serta memuji dan mengatakan kegiatan webinar ini sangat bermanfaat.

Salahseorang peserta, Amelia Harmelianti menanyakan kepada narasumber  Jangkung Trisanto, tentang baggaimana cara melindungi data pribadi di media digital, dan bagaimana kalau proteksi tersebut sudah dilakukan tetapi akun pribadi kita tetap di ambil alih oleh pihak yg tidak bertanggung jawab untuk penipuan digital?

Selain itu, hal-hal apa saja yg harus dilakukan dan bagaimana cara melaporkannya mengingat akun tersebut adalah akun pribadi kita yang digunakan orang lain tanpa seizin pemiliknya?

Peserta lainnya,  Rusel Coffin Saleleubaja, bertanya kepada narasumber Saparman, menurut Rusel, dirinya  membandingkan teknologi di Mentawai  dengan di Padang belum memadai.

Rusel mencontohkan jaringan internet 4G masih bisa dihitung di berbagai tempat di Kepulauan Mentawai, jadi selama pendemi Covid 19, pendidikan pembelajaran di Mentawai sangat memperhatikan oleh pemerintah.

Selain itu juga ditanyakan bagaimana tindakan pemerintah agar bisa memadai pendidikan selama pendemi Covid 19 di Mentawai,, selain itu lambatnya informasi secara daring di Kepulauan Mentawai dialami oleh setiap sekolah  mulai dari SD – SMP – SMA.

Tanggapan lain datang dari  Nofriansyah dan ditujukan kepada narasumber Syali Gestanon, S. Sos., tentang bagaimana seandainya kita menjadi korban pelecehan seksual digital dan kita melaporkannya, sejatinya kita akan mendapatkan perlindungan hukum. Namun yang terjadi di culture masyarakat kita pada umumnya justru korban mendapatkan lebih banyak perundungan.

Sebaliknya, jika kita diam saja, pada akhirnya masyarakat tidak tereduksi. Jadi pilihan apakah yang paling baik dalam digital culture saat ini yang harus kita lakukan?”

Sedangkan peserta atas nama Vivin Sulistya, bertanya kepada narasumber Havid Ardi, tentang apa tolok ukur seseorang dapat dikatakan bijak dalam bermedia social karena dalam kehidupan sehari-hari banyak juga seseorang yang berpendidikan, berjabatan, tapi sering juga  memanfaatkan media digital itu tidak sesuai dengan culture bangsa Indonesia.
Kegiatan Webinar Literasi Digital untuk Sumatera Barat berikutnya akan dihelat oleh Kota Solok, Senin (12/7) pukul 14.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB dan pada pagi harinya, Senin (12/7) pukul 09.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB akan digelar oleh Kota Padang.

Setiap peserta yang mendaftar dan mengikuti webinar ini akan mendapatkan fasilitas berupa E- sertifikat dari Kominfo dan Voucher E-Money (Novrizal Sadewa).

print

Leave a Reply