Keprihatinan Pelaku Seni Sumbar, Luncurkan Festival MenTari

Keprihatinan Pelaku Seni Sumbar, Luncurkan Festival MenTari

- in Headline, News, PADANG
0

PADANG, bakaba.net — Pelaku seni Sumatera Barat prihatin dengan minimnya iven festival seni dan ruang-ruang kreatif yang dapat menantang pelaku seni di Sumatra Barat untuk berkreasi.

Salah satu pelaku  seni yang prihatin dengan kondisi itu adalah SEKOCI. Untuk  membuka ruang kreatifitas pelaku seni,  SEKOCi  membentangkan sebuah perhelatan bernama Festival MenTari.

SEKOCI merupakan singkatan dari Serikat Koreografer Cahaya Indonesia yang diiniasiasi para koreograer senior yaitu Indra Yuda, Susas Rita Loravianti, Joni Andra, Ali Sukri, Herlinda Mansyur, dan Hartati.

SEKOCI itu sendiri berbasis komunitas yang berdiri  atas kesadaran bersama untuk mendorong perkembangan tari yang lebih baik di Sumatra Barat dan Indonesia.

Festival MenTari diutamakan untuk koreografer muda yang digelar selama 3 hari, pada 6, 7, dan 8 April 2021 di Medan Nan Balinduang, Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang.

Ada 10 koreografer muda Sumatra Barat yang memeriahkan festival ini, yang prosesnya berbeda dengan festival kebanyakan yang dilaksanakan sebelumnya di Sumatra Barat.

“Selama 15 tahun terakhir, kita jarang mendengar nama koreografer muda yang muncul dan konsisten berkarya, baik di ajang nasional apalagi di internasional. Kekosongan ini harus dicarikan jalan keluarnya. Diperlukan usaha keras untuk meneroka kembali potensi penciptaan tari dari Sumatra Barat. Barangkali selama ini terabaikan,” kata Dr. Susas Rita Loravianti, S. Sn., M. Sn, Direktur Festival MenTari menjawab Minggu (21/3).

Menurut dosen tari ISI Padang Panjang ini, terputusnya generasi tari Sumatera Barat, salah satunya karena tidak adanya ruang yang menantang bagi mereka untuk menciptakan karya.

“Kalaupun ada, itu hanya dalam bentuk lomba yang dipastikan hasilnya tidak membuat para koreografer berkembang dengan baik dan menemukan karakternya.

“Untuk itu, kita memerlukan sebuah platform yang tertata, terukur dengan proses kuratorial yang jelas, diskusi gagasan dan ide secara intensif yang mampu merangsang dan membangkitkan potensi kreatif mereka,” terangnya.

Lebih jauh ia katakan, bagaimanapun juga kerja penciptaan seni harus dibangun dengan pondasi yang kuat. Festival ManTari merupakan sebuah festival yang berbasis proses penciptaan tari mengesankan ke arah itu.

“Festival MenTari bukan semata menggelar karya koreografi di atas panggung, lalu ditonton. Bukan. Festival ini menggunakan metode mentoring secara intensif selama 3 bulan dengan melibatkan para mentor dan board festival,” katanya

Lebih lanjut Susas Rita Koravianti menyebutkan, ada pertukaran gagasan dan pematangan konsep selama proses itu. Karya tampil merupakan koreografi yang telah melewati tahapan yang matang. Para koreografer muda ini tampil sesuai potensinya kreatifnya.

Dikatakan Susas Rita Loravianti,   yang membedakan festival ini dengan festival-festival sebelumnya ialah prosesnya. Koreografer muda yang akan tampil di Festival MenTari ini, mengikuti dengan disiplin ketat  rangkaian tahapan proses penciptaan yang disebut “Ruang Reka-Cipta Tari”.

“Ruang Reka-Cipta Tari” merupakan penggambaran dari kegiatan yang diimplementasikan melalui proses pendampingan. Pendamping pada festival ini disebut “Teman dalam Berproses”.

“Teman dalam Proses” bagi para koreografer adalah teman berdiskusi tentang ide/gagasan dan mengurainya hingga menjadi konsep karya, Mereka akan digiring ke proses penciptaannya masing-masing sehingga “Teman Dalam Proses” tidak hanya untuk membuka cakrawala dan memperkaya wawasan, mereka tapi juga membantu mengurai proses para koreografer. Proses ini dijalani selama 3 bulan,” terang Doktor Pencipta Tari ini.

Ada 5 aspek utama yang jadi perhatian dalam pembekalan untuk koreografer muda, yaitu koreografi, gagasan karya, musik tari, dramaturg, dan artistik.

Untuk materi koreografi difasilitasi Hartati (koreografer), gagasan karya oleh Heru Joni Putra (sastrawan), musik tari oleh Taufik Adam, seorang komposer, dramaturg tari oleh Adinda Luthvianti (sutradara), dan artistik oleh Hanafi (perupa).

“Ada 10 koreografer muda Sumatra Barat yang mengikuti proses ini sekaligus tampil dalam Festival MenTari yang angkat tema “Balakang Layar” ini,” terangnya.

Pemilihan tema “Belakang Layar” ini bertujuan memberi pengetahuan kepada koreografer betapa pentingnya proses penciptaan sebelum koreografer berhadapan dengan penari saat prose latihan.

10 Koreografer Muda

Setelah melewati proses, 10 koreografer muda Sumatra Barat yang ikut dalam panggung Festival MenTari, ialah Denny Maiyosta, Ipraganis, Marya Dance, Afrizal, Nurima Sari, Muthia Rianti, Hendri, Yesriva Nursyam, Safrini, dan David Putra Yudha (Novrizal Sadewa).

print

Leave a Reply