Jiwaku Bergetar Di Makam Sultan Alam Bagagarsyah Raja Pagaruyung Terakhir Itu

Jiwaku Bergetar Di Makam Sultan Alam Bagagarsyah Raja Pagaruyung Terakhir Itu

- in Feature, Headline
0

Oleh Destia Sastra

Mentari bersinar dengan cerah, meski hari masih pagi, tetapi Ibu Kota Jakarta yang tidak pernah berhenti berdenjut itu sudah ramai dengan berbagai aktifitas warganya.

Penulis pagi itu juga sudah membelah sibuknya Jakarta menuju Taman Makam Pahlawan Kalibata, sudah lama saya ingin berkunjung ke makam itu, tempat peristrihatan pejuang bangsa ini tidak terkecuali Sultan Alam Bagagarsyah yang merupakan Raja Pagaruyung terakhir.

Memasuki kawasan Taman Makam Kalibata, tiba-tiba, jiwaku bergetar dan air mata turun menganak sungai, aku tetap melangkah setapak demi setapak dan membiarkan air mata itu jatuh ke tanah.

Berlahan dan berlahan sekali aku tetap mengayun kaki yang tiba-tiba terasa keluh terbayang para pejuang, berjuang sampai titik darah terakhir merebut negeri ini dari cengkraman penjajah.

Mereka berjuang dengan mengorbankan harta, benda, keluarga bahkan jiwa, kini para pejuang itu terbaring disini dalam pelukan sunyi, tanpa jasa mereka tidak mungkin aku bisa berdiri disini diantara para pejuang bangsa.

Pada salah satu nisan, tiba-tiba tubuhku luruh dan jatuh, aku tidak sanggup lagi berdiri, di makam itu aku bersimbuh sambil mengusap nisan yang sangat terawat.

Ya….. Aku berada di makam Sultan Alam Bagagar Syah raja Pagaruyung terakhir yang lahir di Pagaruyung pada tahun 1789 dan wafat di Batavia pada tanggal 12 Februari tahun 1849, ia wafat dalam pembuangan Pemerintah Hindia Belanda karena dianggap sebagai penghianat.

Dalam sunyi ingatanku melayang dan menari pada awal Kerajaan Pagaruyung yang didirikan oleh Adityawarman dan sempat mengalami masa-masa keemasan hingga ke negeri Cina, maka tidaklah berlebihan Kerajaan Pagaruyung sebagai pemersatu tidak hanya nusantara tapi Asia.

Aku memang pecinta sejarah, apapun buku-buku tentang sejarah pasti dibaca tidak tetkecuali tentang kerajaan Pagaruyung dari buku-buku itu, aku tahu betapa gagah beraninya nenek moyang kita termasuk Sultan Alam Bagagarsyah.

Mataku kembali menyapu makam yang terhampar dalam diam, Sutan Alam Bagagasyah Raja Pagaruyung terakhir yang dibuang oleh pemerintah hindia belanda  ke Batavia

Makam beliau pada tahun 1975 kemudian dipindahkan dari Mangga Dua ke TMP Kalibata.

Pemakaman kerangka jenazah Sultan Alam Bagagarsyah di TMP Kalibata atas persetujuan Presiden Soeharto saat itu dipandang sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan atas jasa dan perjuangan beliau dalam menentang penjajahan belanda.

Tokoh-tokoh Minang yang menjadi pelindung dan pemindahan makam Sultan Alam Bagagarsyah yaitu Bung Hatta, Buya Hamka, Prof Bahder Djohan, Prof Hazairin dan Gubernur Harun Zain.

Sejumlah peninggalan Sultan Alam Bagagarsyah dapat kita saksikan dimuseum istana Basa Pagaruyung, seperti Cap Mohor, lukisan Sultan Alam Bagagarsyah sendiri dan artefak-artefak lainnya. Termasuk senjata-senjata yang berhasil dirampas pihak kerajaan dari tentara Hindia Belanda.

Benda-benda peninggalan kerajaan Pagaruyung itu masih terawat dengan baik dalam museum istana Basa Pagaruyung.

Aku ingin berla-lama berada di makam Sultan Alam Bagagar Syah, ingin menikmati sensasi yang mengharu biru, ingin berpelukan dan bercerita dalam sunyi. Tapi aku harus pergi melanjutkan cerita hidupku, pada dunia aku akan bercerita disini terbaring jasad rajo Pagaruyung yang sudah menorehkan sejarah tidak lekang oleh panas dan lapuk karena hujan.

Berlahan aku bangkit setelah memanjatkan doa untuk semua jasad yang diam membisu, aku melangkah keluar makam disaksikan ribuan nisan pahlawan.

Alfatihah untuk para pejuang negeri ini, istirahatlah dengan tenang, biar kami yang berjuang, melanjutkan cita-cita luhurmu, wahai pejuang. (***)

print

Leave a Reply