Jeritan Petani Di Tengah Pandemi COVID-19

Jeritan Petani Di Tengah Pandemi COVID-19

- in Headline, OPINI
157
0

Oleh: Tesi Prima
Mahasiswa Sosiologi Agama
IAIN Bukittinggi

Indonesia merupakan negara agraris yang hampir keseluruhan pertumbuhan kehidupan masyarakat di Indonesia, dan hal tersebut perlu perhatian pemerintah pada sektor petanian agar selalu tetap kuat, bertahan dan berkembang.

Hal ini berarti pertanian yang menjadi peranan yang sangat penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya masyarakat Indonesia yang bekerja di sektor pertanian.

Sesuai dengan kondisi pada saat ini, bahwa pandemi covid-19 telah merambat hampir diseluruh wilayah di Indonesia. Akibatnya membuat jalur transaksi masyarakat menjadi terhambat dan tidak dapat beroperasi. Hal tersebut juga sangat dirasakan oleh petani.

Akibat pandemi yang ada, petani mengalami kerugian mulai dari harga turun, transaksi pengiriman yang melambat, tidak ada pembeli, kesehatan, kerusakan hasil panen, dan kerugian dalam tenaga kerja petani.

Hasil panen yang tidak di ambil karena tidak ada pembeli

Pada umumnya pandemi covid-19 sangat membawa dampak pada petani daerah. Seperti di daerah yang sumber mata pencaharian mereka berasal dari pertanian.

Akibat pandemi tersebut membuat penurunan hasil panen, serta tidak ada transaksi pembelian yang lancar.

Para petani tidak hanya mengalami kerugian harta atau penghasilan, tetapi juga kerugian tenaga. Pandemi covid-19 membawa dampak yang negatif bagi masyarakat yang keseharian mereka bekerja sebagai petani.

Petani kehilangan tempat kerja karena barang hasil panen mereka tidak terjual dan tidak ada yang membeli. Akibatnya kebutuhan sehari-hari tidak dapat terpenuhi.

Hasil panen yang tidak laku terjual dan menumpuk itu sangat rasakan orang tua saya sendiri, yang keseharian orang tua saya bekerja sebagai petani.

Walaupun hasil panen melimpah, ditengah pandemi ini harga jual terong dan mentimun tidak sesuai harapan. Harga terong yang hanya Rp.800 per kilogram dari harga normalnya Rp. 4.000 perkilogram, sementara harga mentimun yang hanya Rp. 800 perkilogram dari harga biasanya yang Rp. 5.000 per kilogramnya.

Harga yang turun selama pandemi ini membuat petani menjadi rugi total. Resiko petani yang harus memanen hasil pertanian walau harga murah namun harus tetap dipanen, tidak bisa tunggu harus stabil, karena bisa membuat hasil panen menjadi busuk di pohon.

Petani hanya bisa terus mengolah pertanian mereka walupun hasil yang tidak seberapa asalkan dapat terpenuhi kebutuhan sehari-hari, cukup untuk balik modal pun tidak apa melihat kondisi pada saat ini.

Hasil panen sayur petani yang dijual murah.

Oleh karena itu, pemerintah sangat berperan aktif dalam hal ini. Agar perekonomian di Indonesia atau suatu wilayah tetap stabil dan lancar.

Pemerintah berhak untuk terus berkontribusi memastikan pertanian berjalan lancar dan aman, terkhusus bahan pangan dan bahan pokok, terutama dari berbagai kondisi pertanian. Mempercepat merealisasikan kebijakan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pertanian dalam negeri. Agar kebutuhan masyarakat miskin dan menengah kebawah dapat terpenuhi. (***)

print

Leave a Reply