Gelora, Partai Baru Yang Kebingungan Dalam Memperkuat Eksistensi

Gelora, Partai Baru Yang Kebingungan Dalam Memperkuat Eksistensi

- in Headline, OPINI
284
0

Oleh : Mohammad Aliman Shahmi

Ada yang menarik dari adagium politik yang orisinal dari Partai Gelora, “ Politik adalah mainannya orang dewasa”. Hal ini sudah menegaskan bahwa Gelora sudah sedari awal memperkuat kedewasaan dalam berpolitik.

Selain itu, prinsip ini juga dapat difahami secara implisit bahwa Gelora hendak berdedikasi dalam memberikan pendidikan politik yang inklusif serta memberikan penguatan literasi politik masyarakat secara keseluruhan tanpa membedakan lapisan.

Sungguh kita bisa melihat bahwa hadirnya partai yang dikemudikan oleh dua tokoh besar yang sudah hampir bisa dikategorikan sebagai negarawan ini, mampu memberikan harapan baru, melalui pembaharuan dengan arah baru yang diusung.

Kendati pun demikian, agaknya asumsi tersebut belumlah mencapai penguatan yang sesungguhnya sebelum semua kalangan berusaha membuktikannya.

Belum genap setahun Partai ini hadir, apalagi memasuki arena kompetisi politik yang sesungguhnya, sudah beberapa kali manuver politik, apakah itu dari petinggi pusat atau daerah yang menunjukkan sikap politik yang sebenarnya jauh dari penguatan pendidikan politik yang dibutuhkan publik saat ini.

Alih-alih ingin bergerak mencapai arah baru, kita justru melihat serangkaian sikap politik yang membingungkan. Bukan membingungkan publik, tetap membingungkan tubuh Gelora itu sendiri.

Diibaratkan, apa yang ditegaskan oleh pikiran, namun berbeda dalam tatanan implikasi. Pilkada memang sulit untuk membuat yang baru lahir untuk diam sejenak, sekiranya memang tidak ada ide pembaharuan yang bisa diketengahkan kepada masyarakat.

Sejatinya, ini memang masih dalam tatanan demokrasi. Siapapun tidak akan lepas dari hal tersebut, karena kebisingan itu adalah suatu keniscayaan dalam politik. Kita bisa membawakannya pada kehidupan di suatu kota.

Kehidupan di kota bisa dikatakan eksis jika ada kebisingan di dalamnya, setiap orang berupaya memperkuat eksistensi hingga kemudian kebisingan pun terjadi karenanya. Wajar? Sangatlah wajar! Namun, di sini kiranya kita bisa membedakan mana yang kebisingan karena suatu pertarungan logika dan dialektika, dan mana kebisingan yang ditimbulkan dari kegaduhan.

Sungguh kegaduhan hadir ketika seseorang atau kelompok kebingungan dalam membangun serta memperkuat eksistensinya.

Bagaimana dengan gelora, kebingungan itu tampak pada saat Fahri Hamzah menegaskan penolakan akan praktik oligarki serta segala hal yang mengindikasikan pada perkara tersebut, akhir-akhir ini tampak begitu nyata hal tersebut “ternegasikan” pada saat Gelora mendukung pencalonan Mantu dan anak Presiden.

Sepatutnya, ini hanya hal yang biasa dalam politik. Dinamisnya politik serta dinamisnya pemikiran dalam memahaminya adalah sebuah kedewasaan yang sesungguhnya dalam politik itu sendiri.

Namun, perkara yang berlaku saat ini adalah suatu ujian akan kedewasaan tersebut, karena di antara kedewasaan itu memang bagaimana membangun konsistensi antara pemikiran beserta pengimplikasiannya.

Perkara yang positif dan rasional dalam politik (seperti yang dilakukan Gelora saat ini) pada titik tertentu bertabrakan dengan perkara normatif yang sudah dibangun di pemikiran awal dan hal ideal yang harus ditumbuhkan di tengah masyarakat.

Pada saat terbenturnya aspek pemikiran, idealisme dengan kondisi riil atau sisi realism, maka pada saat itu akan dapat dilihat bagaimana konsistennya seseorang atau kelompok dengan pemikirannya, atau menjadi kebingungan antara apa yang terjadi dengan apa yang seharusnya terjadi.

Gelora atau Partai politik lainnya seharusnya sadar, “ Betapa-pun indahnya irama gamelan yang dimainkan, masyarakat bersama pada cendekiawan hadir sebagai penabuh gong-nya. Hendaknya, harus lebih memperhatikan birama permainan, bukan irama saja” Jika tidak ingin dianggap sebagai puak yang tengah kebingungan dalam memperkuat eksistensi.  (***)

print

Leave a Reply