Di Palu “Kakak Badut” Relawan Asli Putra Gunung Bungsu Tanah Datar Itu Tidak Kuasa Menahan Tanggis

Di Palu “Kakak Badut” Relawan Asli Putra Gunung Bungsu Tanah Datar Itu Tidak Kuasa Menahan Tanggis

- in Feature, Headline
1412
0

Oleh Muhammad Fadhil

Dibawah langit kota tampak sesak lalu lalang kendaraan, ruas-ruas jalan penuh dan bising oleh klakson-klakson yang berbunyi. Pejalan kaki, tergesa-gesa melangkah diatas trotoar sambil berkali-kali melihat arloji ditangan kirinya. Mereka berpacu dengan waktu kerja yang memburu.

Tagiahan-tagihan menumpuk dan menanti dibayarkan tiap bulan, membuat sekian banyak orang jadi “Money Oriented” sehingga lupa betapa menyenangkan jadi “volunteer”.

Ternyata dari sekian banyak orang yang terjebak dalam tendensius individualisitik, masih ada orang-orang yang memiliki rasa kepedulian sosial yang tinggi. Takkala melihat orang kesulitan, hatinya merasa tertampar dan tergerak ingin membantu.  Bahkan dia rela membagi waktu, tenaga, harta, dan pikirannya demi mengangkat kesulitan orang lain.

Dony Darma Sagita contohnya, Putra kelahiran Jorong Gunung Bungsu, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, turun langsung menjadi relawan bencana Palu. Ia bertugas memberi pelayanan konseling kepada korban gemba bumi Palu yang di ikuti tsunami dan likuifaksi pada 28 September 2018 kemarin.

Pria yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Muhammadyah Prof. Dr. Hamka Jakarta ini juga kembali datang kali keduanya ke Palu pada September 2019 dalam rangka yang sama, yaitu memberi pelayanan konseling agar mengurangi dan mengatasi trauma atau gangguang psikologis para penyitas Palu.

Misi kemanusian itu dia lakukan atas dasar kepedulian serta tanggung jawabnya sebagai masyarakat Indonesia, juga sebagai wujud terimakasih kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan dirinya dari gempa bumi yang meluluh lantahkan daerahnya beberapa tahun yang lalu.

Sebagai orang yang pernah menjadi korban bencana alam, Pria kelahiran 23 November 1990 ini dikenal orang yang sangat aktif dalam kegiatan sosial. Tidak jarang Mahasiswa Mahasiswinya kerap memberikan pujian-pujian atas sikap sosialnya.

Ketika di hubungi oleh bakaba.net, Pria lulusan Serjana Bimbingan dan Konseling ini tidak dapat membendung air mata takkala menceritakan fakta yang dia alami langsung dilokasi kejadian.

“Pada saat pertama kali berkunjung ke Palu, Saya tidak bisa membendung kesedihan dan empati saya terhadap korban-korban disana. Begitu kuatnya mereka menghadapi ujian dari Allah SWT, disaat terluka mereka masih bisa menoreh senyuman kepada kami para relawan. Saya sangat merasa kecil, dan belum seberapa dibanding mereka. Pokoknya Palu pulih, Palu bangkit, Palu kembali tersenyum. Ujarnya sambil menangis.

“Saya ini di kasih nama oleh anak-anak korban Palu “Kakak Badut” Karena saya datang ke Patobo tempat terjadinya likuifaksi itu dengan menggunakan kostum badut. Hal itu merupakan salah satu strategi yang Saya gunakan untuk mengahapus troma dan kesedihan mereka” Tambahnya mengakhiri.

Fajrur, adik Dony mengatakan. Kakaknya pada saat gempa 2007 dan 2009 di Sumatera Barat juga pernah menikmati bagaimana rasanya hidup dalam tenda pengungsian. Ia harus rela berbagi ruang dengan korban-koraban lain, tambah lagi kondisi yang pengap dan panas. Berangkat dari pengalaman itulah kemudian dia memutuskan ikut menjadi bagian dari tim relamawan Korban Palu.

Apa yang telah Dony Darma Sargita lakukan. Menepis anggapan bahwa, era modrenisasi ternyata masih banyak orang-orang diluar sana yang memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi.

Terimakasih atas pelajaran sosial yang telah kamu tunjukan Dony Darma Sargita, Pengorbanan dan perjuanganmu akan dikenang oleh Masyarakat Tanah Datar dan Gunung Bungsu khususnya. (***)

print

Leave a Reply