Betti Shadiq Pasadigoe, “Bakawuah-Kawuah” Ritual Sakral Nagari Andaleh Baruh Bukik Yang Harus Dilestarikan

Betti Shadiq Pasadigoe, “Bakawuah-Kawuah” Ritual Sakral Nagari Andaleh Baruh Bukik Yang Harus Dilestarikan

- in BUDAYA, Headline, News, PARIWISATA, TANAH DATAR
850
0
Andaleh, bakaba.net — Betti Shadiq Pasadigoe mengatakan tradisi ritual bakawuah-bakawuah merupakan acara sakral jorong Andaleh Nagari Andaleh Baruh Bukik Kecamatan Sungayang Tanah Datar merupakan ujud syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki hasil panen petani.
Kegiatan bakuah-bakawuah ini rutin dilakukan setiap tahunnya dengan harapan petani yang mempunyai lahan di Batunjam Andaleh sama-sama turun kesawah agar lahan pertanian mereka terbebas dari hama yang merusak.
“Bakawuah-bakawuah ritual masyarakat Jorong Andaleh kepada Allah SWT atas limpahan hasjl panen petani ” kata Betti Shadiq Pasadigoe menjawab bakaba.net Minggu (03/11).
Ritual ini sebut Betti biasa dilaksanakan sekali dalam setahun dan diyakini masyarakat dapat membawa berkah serta keselamatan yang diberikan oleh yang Maha Kuasa.
Dalam acara ritual yang kental dengan nuansa adat dan budaya Minangkabau mulai dari penampilan tari gelombang yang merupakan simbol penyambutan tamu-tamu kehormatan,  arakan jambah, penampilan kesenian anak nagari seperti silek,  saluang dendang dan tari piriang serta sambah manyambah atau antara sipunya alek dengan tamu yang datang.
“Bakawuah-bakawuah sebuah ritual yang dapat melestarikan adat dan budaya Minangkabau,” kata Betti. Hal itu lanjutnya dapat menarik kunjungan wisatawan mancanera ke Andaleh, pasalnya wisatawan mancanegara sangat tertarik dengan kebudayaan asli suatu daerah.
“Ini bisa menjadi daya tarik wisata yang dapat mendatangkan incame bagi warga Andaleh,” kata anggota DPR RI periode 2014 – 2019 ini.
Nanang tokoh pemuda Andaleh mengatakan bakawuah-bakawuah merupakan prosesi ritual berlangsung masyarakat Andaleh  secara tudun menurun sebagai bentuk syukur masyarakat terhadap keberhasilan panen yang sudah diperoleh petani.
“Ini sudah tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat di desa ini, biasanya ritual “Bakawuah-bakawuah” yang dilaksanakan sekali dalam setahun, sebelum petani turun kesawah, ” Kata Nanang.
Disebutkan, pada saat tradisi ini digelar, seluruh warga membawa jambah yang berasal hasil pertanian warga. Jambah ini akan dinikmati seluruh masyarakat yang ikut dalam kegiatan bakawuah-bakawuah.
“Ini acara bentuk syukuran dan permohonan kepada sang maha pencipta, sehingga dengan ini masyarakat bersyukur dengan apa yang telah diberikan, jadi tradisi ini sudah turun temurun,” jelasnya.
lebih lanjut dia menjelaskan, selama ini tradisi ‘Bakawauah-kawuah’ juga menjadi ajang silaturahmi antar sesama warga desa, baik dari kalangan kaum tua, muda serta anak-anak berkumpul menjadi satu di lokasi kegiatan, serta mereka mengikuti seluruh ritual hingga selesai.
“Ini merupakan sebagai rasa syukur dari hasil jeri payah warga yang dihasilkan dari panen mereka selama ini, dengan harapan untuk masa tanam selanjutnya masyarakat yang pada umumnya petani mendapatkan hasil panen melimpah,” paparnya. (TIA)

print

Leave a Reply