“Anak Saya Stres, Gara-Gara Tugas Sekolah”

“Anak Saya Stres, Gara-Gara Tugas Sekolah”

- in Headline, News, TANAH DATAR
0
fhoto ilustrasi

TANAH DATAR, bakaba.net —  Pandemi Covid-19 membawa banyak perubahaan dan kebiasaan manusia di seluruh dunia.  Salah satu yang juga mengalami perubahan adalah pembelajaran menjadi daring (terhubung melalui jaringan). Dalam pembelajaraan secara daring ini, proses pembelajaran masih bisa berlangsung.

Pembelajaran daring dianggap efektif, untuk  memutus mata rantai Covid-19, tetapi metode pembelajaran jarak jauh itu justru menimbulkan persoalan baru dalam dunia pendidikan. Mulai dari ketersediaan sarana dan prasana sampai pada pemahaman terhadap tugas-tugas yang diberikan para guru.

Berdasarkan penelusuran tim media kami yang ditinjau dari sudut pandang siswa maupun orang tua pembelajaran daring ini justru berdampak serius terhadap siswa, maupun orang tua.

Pembelajaran daring yang dilakukan lebih kurang satu tahun, ternyata banyak siswa yang tidak mengerti dan paham dengan tugas-tugas yang menumpuk, sementara dimasa pandemi ini siswa di tuntut untuk belajar dengan maksimal tapi di satu sisi banyak kekurangan dari daring ini seperti sinyal,kouta,dan gawai.

Dalam pembelajaarn jarak jauh, tugas sama banyaknya dengan pembelajaarn offline dan siswa dituntut harus menyusuaikan dan beradaptasi dengan sistem pembelajaraan ini. Hal ini tentu membuat para siswa stres dan berdampak buruk terhadap imunitas siswa.

“Siswa di masa pandemi ini cukup terbebani yaitu tugas yang menumpuk,  menggagu sikis si anak dan bisa berdampak buruk apalagi di masa pandemi ini yang sudah jenuh di rumah dan di tambah tugas yang banyak bisa membuat stres si anak,” kata Rita salah seorang orang tua siswa Rabu, 26 Mei 2021.

Rita melanjutkan, belajar merupakan kewajiban siswa,  tetapi tidak seharusnya hal itu justru membuat siswa stres yang berdampak buruk terhadap kondisi anak didik. Bahkan bila anak tidak mengerjakan tugas itu, maka guru akan memarahinya.

“Anak saya tidak hanya stres dengan tugas-tugas yang menumpuk, tetapi juga sering dimarahi, karena belum mengumpulkan tugas,” katanya.

Ditengah pandemi saat ini, orang tua mempunyai tanggungjawab yang lebih berat untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk sarana daan parasana belajar berani. Hal ini membuat mereka tidak bisa maksimal dalam mendampingi anaknya belajar dirumah, bagi orang tua yang punya waktu terkadang terkendala dengan materi tugas siswa itu sendiri.

Cerita belajar daring juga disampaikan salah seorang teman saya yang berprofesi sebagai wartawan, ia terpaksa membawa anaknya saat melakukan liputan. Hal ini tentunya membuat anak tidak nyaman tetapi itu harus dilakukan agar tugas sekolah tidak menumpuk.

Teman saya juga mengaku, anaknya mengalami stres dengan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya itu.

“Anak saya sering uring-uringan saat tugas-tugas tersebut, hal itu karena anak jadi kehilangan waktu untuk bermain,” katanya.

Keluhan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru juga dikeluhkan oleh Putri.

“Saat belajar di rumah, ternyata tugas yang harus dikerjakan anak-anaknya malah sangat banyak, karena semua guru bidang studi memberikan tugas yang butuh lebih dari 1 jam. Akibatnya, tugas makin menumpuk-numpuk, anak-anak jadi bencana, “ucap Putri.

Ia menyampaikan untuk satu soal tugas yang diberikan oleh guru, siswa harus menjawab beberapa poin, bahkan sampai lima poin yang dijabarkan.

Mereka menyadari metode pembelajaran jarak jauh itu, agar anak-anak mereka tetap bisa belajar meski dirumah, tetapi dengan tugas-tugas yang menumpuk tentu berpengaruh buruk terhadap psikologi anak itu sendiri karena menbuat buah stres karena jenuh dan bosan dengan rutinitas dan tugas.

Yuhel Supelmi menjawab bakaba.net Rabu (26/05}, tugas-tugas yang diberikan guru sudah sesuai dengan buku tema, menumpuknya tugas tersebut tidak lansungnya tetapi menumpuk hingga satu minggu.

“Orang tua harus mendampingi dan melayani anak-anak saat mengerjakan tugas sekolah,” tutupnya. (TIA]

print

Leave a Reply